<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Suara Jogja Online &#187; yogya</title>
	<atom:link href="http://suarajogja.net/tag/yogya/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://suarajogja.net</link>
	<description>Online Media, Citizen Journalism</description>
	<lastBuildDate>Mon, 16 Apr 2012 23:48:43 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Tamansari, Karya Monumental Sultan Pertama</title>
		<link>http://suarajogja.net/2010/09/tamansari-karya-monumental-sultan-pertama/</link>
		<comments>http://suarajogja.net/2010/09/tamansari-karya-monumental-sultan-pertama/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 12 Sep 2010 03:34:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agus Yuniarso</dc:creator>
				<category><![CDATA[Heritage]]></category>
		<category><![CDATA[arsitektur]]></category>
		<category><![CDATA[babad]]></category>
		<category><![CDATA[batavia]]></category>
		<category><![CDATA[belanda]]></category>
		<category><![CDATA[budhisme]]></category>
		<category><![CDATA[bugis]]></category>
		<category><![CDATA[ciliwung]]></category>
		<category><![CDATA[cina]]></category>
		<category><![CDATA[dawelingi]]></category>
		<category><![CDATA[demang tegis]]></category>
		<category><![CDATA[dinasti]]></category>
		<category><![CDATA[gempa bumi]]></category>
		<category><![CDATA[gula jawa]]></category>
		<category><![CDATA[gunung merapi]]></category>
		<category><![CDATA[hinduisme]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[java]]></category>
		<category><![CDATA[javanese]]></category>
		<category><![CDATA[jawa]]></category>
		<category><![CDATA[jogja]]></category>
		<category><![CDATA[jogjakarta]]></category>
		<category><![CDATA[kali code]]></category>
		<category><![CDATA[kali larangan]]></category>
		<category><![CDATA[kali winongo]]></category>
		<category><![CDATA[kasunanan]]></category>
		<category><![CDATA[keraton]]></category>
		<category><![CDATA[kosmogoni]]></category>
		<category><![CDATA[kulon progo]]></category>
		<category><![CDATA[legen]]></category>
		<category><![CDATA[madiun]]></category>
		<category><![CDATA[mangkubumi]]></category>
		<category><![CDATA[mangundipuro]]></category>
		<category><![CDATA[nasrani]]></category>
		<category><![CDATA[notokusumo]]></category>
		<category><![CDATA[pantai glagah]]></category>
		<category><![CDATA[pantai selatan]]></category>
		<category><![CDATA[pesanggrahan]]></category>
		<category><![CDATA[portugis]]></category>
		<category><![CDATA[prawirosentiko]]></category>
		<category><![CDATA[sengkalan memet]]></category>
		<category><![CDATA[sri paku alam]]></category>
		<category><![CDATA[sri sultan hamengku buwono i]]></category>
		<category><![CDATA[surakarta]]></category>
		<category><![CDATA[tamansari]]></category>
		<category><![CDATA[thomas stamford raffles]]></category>
		<category><![CDATA[tugu pal putih]]></category>
		<category><![CDATA[tumenggung]]></category>
		<category><![CDATA[urung-urung]]></category>
		<category><![CDATA[voc]]></category>
		<category><![CDATA[vredeburg]]></category>
		<category><![CDATA[watercastle]]></category>
		<category><![CDATA[yogya]]></category>
		<category><![CDATA[yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suarajogja.net/?p=55</guid>
		<description><![CDATA[Tamansari juga disebut sebagai watercastle, yaitu sebuah istana di atas air yang terletak di sebelah barat daya Keraton Kasultanan Yogyakarta. Pesanggrahan atau tempat peristrahatan yang juga disebut sebagai Keraton Lama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a title="Postcard: Gapura Hagung Tamansari, Jogja by Agus Yuniarso, on Flickr" href="http://www.flickr.com/photos/agusyr/2802116980/"><img src="http://farm4.static.flickr.com/3214/2802116980_9cb742235e_o.jpg" alt="Postcard: Gapura Hagung Tamansari, Jogja" width="640" /></a></p>
<p>Tamansari juga disebut sebagai watercastle, yaitu sebuah istana di atas air yang terletak di sebelah barat daya Keraton Kasultanan Yogyakarta. Pesanggrahan atau tempat peristrahatan yang juga disebut sebagai Keraton Lama ini, mulai dibangun oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I pada tahun 1758. Sebagaimana termuat dalam Babad Mangkubumi, Sultan menunjuk Kyai Tumenggung Mangundipuro sebagai penanggung jawab gagasannya, didampingi oleh Lurah Dawelingi yang berasal dari Bugis. Sebelum proses pembangunan dimulai, Sultan sempat mengutus Tumenggung Mangundipuro ke Batavia untuk mengamati bangunan VOC yang berdiri di sepanjang Sungai Ciliwung.<span id="more-55"></span></p>
<p>Biaya pembangunan Tamansari sebagian berasal dari pajak atau upeti rakyat Madiun dibawah pimpinan Bupati Prawirasentika, yang kemudian bertindak sebagai pelaksana proyek. Di tengah proses pembangunan, Bupati Prawirasentika mengundurkan diri dan posisinya digantikan oleh salah satu putra Sultan, yaitu Pangeran Notokusumo, yang di kemudian hari bergelar sebagai Sri Paku Alam I. Konon, pembangunan Tamansari juga melibatkan seorang ahli bangunan dari Portugis yang terdampar di Pantai Glagah Kulon Progo, yang oleh Sultan diberi nama Jawa : Demang Tegis.</p>
<p>Tamansari adalah bangunan dengan corak multikultural yang memadukan gaya arsitektur Jawa, Portugis, Belanda dan Cina. Dalam bingkai budaya, bangunan Pesanggrahan Tamansari juga merangkum kosmogoni Jawa, Islam, Nasrani, Hinduisme serta Budhisme.</p>
<p>Struktur bangunannya terbuat dari bata, pasir, gamping dan semen merah biasa, tanpa menggunakan sistem beton bertulang seperti yang ada pada jaman sekarang. Konon, untuk memperkuat dinding-dindingnya, dalam adonan semen ditambahkan campuran putih telor dan legen yang biasa dipakai sebagai bahan dalam pembuatan gula Jawa. Bisa dibayangkan, berapa butir telor yang dibutuhkan untuk membangun pesanggrahan seluas lebih dari 10 hektar ini.</p>
<p>Pada jamannya, pesanggrahan ini berfungsi sebagai tempat beristirahat, berkebun, beribadah sekaligus bertahan dari serangan musuh. Hal ini sesuai dengan falsafah Jawa, “ Sajroning among suka, tan tinggal duga lan prayoga “, yang artinya : sewaktu bersuka, seyogyanya tetaplah dalam kewaspadaan.</p>
<p>Tamansari merupakan karya monumental Sri Sultan Hamengku Buwono I, yang juga dikenal sebagai arsitek yang banyak membangun karya arsitektur megah. Selain Keraton Kasultanan dan Tamansari, Sultan juga membangun Benteng Vredeburg serta Tugu Pal Putih yang menjadi simbol Kota Yogyakarta. Bahkan, bangunan Keraton Kasunanan Surakarta pun merupakan karya arsitektur hasil rancangannya. Karya terbesar Sultan adalah landscape Kota Yogyakarta yang terletak di antara 2 sungai dan berorientasi pada poros magis Pantai Selatan, Keraton dan Gunung Merapi. Sri Sultan Hamengku Buwono I adalah raja Dinasti Mataram Islam yang paling lama bertahta dan mampu mengendalikan masa damai terpanjang di Pulau Jawa, antara tahun 1749 hingga 1792.</p>
<p>Pesanggrahan Tamansari hanya berfungsi selama 2 masa pemerintahan raja Kasultanan Yogyakarta, antara tahun 1865 hingga tahun 1812. Pada masa jayanya, Tamansari memiliki sekitar 57 bangunan, terdiri dari danau buatan, gedung, gapura, masjid, kolam, lorong, serta kebun-kebun yang ditanami bebuahan, bunga-bunga serta rempah-rempah.</p>
<p>Lorong serta urung-urung sebagian besar terletak di bawah permukaan air, menghubungkan tempat satu dengan tempat lainnya. Air adalah unsur utama di Pesanggrahan Tamansari. Air Kali Winongo dan Kali Code yang terletak di sebelah barat dan timur Keraton, dialirkan melalui terusan yang disebut Kali Larangan ke dalam kompleks Keraton. Disebut Kali Larangan, karena penduduk dilarang mempergunakan aliran air ini, apalagi membuatnya kotor. Selain untuk mengisi kebutuhan sirkulasi air di Tamansari, air Kali Larangan juga dipakai untuk mengisi jagang atau parit di seputar Benteng Baluwerti atau benteng luar Keraton. Di Tamansari, air ini terkumpul di danau buatan luas yang disebut Segaran, dan didistribusikan ke seluruh lingkungan Pesanggrahan.</p>
<p>Sayang, dari sekian banyak kemegahannya, hanya sebagian kecil yang masih tersisa di jaman ini. Sebagian yang lain sudah menjadi puing reruntuhan, bahkan sudah musnah ditelan waktu, karena alam maupun karena tangan manusia. Sementara pendapat mengatakan bahwa hancurnya Pesanggrahan ini disebabkan oleh pengrusakan dan penjarahan yang dilakukan balatentara Inggris dibawah pimpinan Letnan Gubernur Thomas Stamford Raffles yang menyerbu dan menduduki Keraton Kasultanan Yogyakarta pada tahun 1812. Kerusakan ini baru mulai dibersihkan pada tahun 1830-an, bersamaan dengan kehadiran para penduduk yang mulai menghuni lingkungan ini.</p>
<p>Porak porandanya bangunan yang sudah ada, kemudian diperparah dengan terjadinya gempa bumi besar yang pernah melanda Kota Yogyakarta, pada tanggal 10 Juni 1867. Peristiwa ini ditandai dengan ornamen simbolik atau sengkalan memet yang berbunyi “ Obah Trus Pitung Bhumi “ yang bermakna tahun 1793 Jawa atau 1867 Masehi. Namun yang pasti, terbengkalainya situs ini selama hampir 2 abad, telah menjadi penyebab utama rusaknya Pesanggrahan Tamansari.</p>
<h4><strong>Sumber</strong>: <a href="http://www.facebook.com/agus.yuniarso">Agus Yuniarso</a>: “Cinderamata 250 Tahun Kota Yogyakarta 1756-2006, Transkrip Naskah 15 Video Dokumenter Budaya Seputar Kota Yogyakarta” (Yogyakarta: <a href="http://galerivideo.org">Galeri Video Foundation</a>, 2006)</h4>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suarajogja.net/2010/09/tamansari-karya-monumental-sultan-pertama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>19 Tari Klasik Gaya Yogyakarta dari Yayasan Pamulangan Beksa Sasminta Mardawa</title>
		<link>http://suarajogja.net/2010/04/19-tari-klasik-gaya-yogyakarta-dari-yayasan-pamulangan-beksa-sasminta-mardawa/</link>
		<comments>http://suarajogja.net/2010/04/19-tari-klasik-gaya-yogyakarta-dari-yayasan-pamulangan-beksa-sasminta-mardawa/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Apr 2010 11:11:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agus Yuniarso</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asides]]></category>
		<category><![CDATA[argasaka]]></category>
		<category><![CDATA[arjuna]]></category>
		<category><![CDATA[bidadari]]></category>
		<category><![CDATA[candrakirana]]></category>
		<category><![CDATA[carangwaspa]]></category>
		<category><![CDATA[cina]]></category>
		<category><![CDATA[dalem pujokusuman]]></category>
		<category><![CDATA[dasawasisa]]></category>
		<category><![CDATA[gathutkaca]]></category>
		<category><![CDATA[gatotkaca]]></category>
		<category><![CDATA[gaya yogyakarta]]></category>
		<category><![CDATA[gempa bumi]]></category>
		<category><![CDATA[golek]]></category>
		<category><![CDATA[golek menak]]></category>
		<category><![CDATA[gunungsari]]></category>
		<category><![CDATA[harjuna]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[jaka tarub]]></category>
		<category><![CDATA[java]]></category>
		<category><![CDATA[javanese]]></category>
		<category><![CDATA[jawa]]></category>
		<category><![CDATA[jayengpati]]></category>
		<category><![CDATA[jayengrana]]></category>
		<category><![CDATA[jogja]]></category>
		<category><![CDATA[jogjakarta]]></category>
		<category><![CDATA[jungkungmandeya]]></category>
		<category><![CDATA[kelana]]></category>
		<category><![CDATA[kenakawulan]]></category>
		<category><![CDATA[keris]]></category>
		<category><![CDATA[klono]]></category>
		<category><![CDATA[larasati]]></category>
		<category><![CDATA[madiun]]></category>
		<category><![CDATA[mahabharata]]></category>
		<category><![CDATA[manggada]]></category>
		<category><![CDATA[mataram]]></category>
		<category><![CDATA[nawangwulan]]></category>
		<category><![CDATA[pamulangan beksa]]></category>
		<category><![CDATA[panembahan]]></category>
		<category><![CDATA[panji]]></category>
		<category><![CDATA[pregiwa]]></category>
		<category><![CDATA[ragil kuning]]></category>
		<category><![CDATA[ramayana]]></category>
		<category><![CDATA[rengganis]]></category>
		<category><![CDATA[retno adaninggar]]></category>
		<category><![CDATA[retno dumilah]]></category>
		<category><![CDATA[saksadewa]]></category>
		<category><![CDATA[sasminta mardawa]]></category>
		<category><![CDATA[sekar pudyastuti]]></category>
		<category><![CDATA[sendratari]]></category>
		<category><![CDATA[senggana]]></category>
		<category><![CDATA[senggana duta]]></category>
		<category><![CDATA[senopati]]></category>
		<category><![CDATA[sewandana]]></category>
		<category><![CDATA[sirtupilaeli]]></category>
		<category><![CDATA[solo]]></category>
		<category><![CDATA[songsong]]></category>
		<category><![CDATA[sri rama]]></category>
		<category><![CDATA[srikandi]]></category>
		<category><![CDATA[sudarawerti]]></category>
		<category><![CDATA[suradewati]]></category>
		<category><![CDATA[tari klasik]]></category>
		<category><![CDATA[topeng]]></category>
		<category><![CDATA[tunggalnaga]]></category>
		<category><![CDATA[tunjungyaban]]></category>
		<category><![CDATA[umarmadi]]></category>
		<category><![CDATA[umarmaya]]></category>
		<category><![CDATA[wara sumbadra]]></category>
		<category><![CDATA[wayang golek]]></category>
		<category><![CDATA[widaninggar]]></category>
		<category><![CDATA[wong agung]]></category>
		<category><![CDATA[yayasan]]></category>
		<category><![CDATA[yogya]]></category>
		<category><![CDATA[yogyakarta]]></category>
		<category><![CDATA[ypbsm]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suarajogja.net/?p=106</guid>
		<description><![CDATA[Dalam lembar panduan yang diterbitkan Yayasan Pamulangan Beksa Sasminta Mardawa (YPBSM), ada 19 tarian klasik gaya Yogyakarta yang secara bergilir disajikan dalam pementasan rutin di Dalem Pujokusuman, Yogyakarta. Dua atau tiga dari kesembilanbelas tarian lepas ini menjadi sajian pembuka menjelang dipentaskannya Sendratari Klasik Ramayana (Gaya Yogyakarta).]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a title="Serimpi Pandelori | Jogja by Agus Yuniarso, on Flickr" href="http://www.flickr.com/photos/agusyr/4391518591/"><img src="http://farm3.static.flickr.com/2657/4391518591_aa7d8a1caf_o.jpg" alt="Serimpi Pandelori | YPBSM" width="620" /></a></p>
<h4>Beksan Serimpi Pandelori sajian Yayasan Pamulangan Beksa Sasminta Mardawa (YPBSM) nDalem Pujokusuman dalam Pentas Rutin Tari Klasik Gaya Yogyakarta di Keraton Kasultanan Yogyakarta (Bangsal Srimanganti, Minggu, 21 Pebruari 2010).</h4>
<p>Dalam lembar panduan yang diterbitkan Yayasan Pamulangan Beksa Sasminta Mardawa (YPBSM), ada 19 tarian klasik gaya Yogyakarta yang secara bergilir disajikan dalam pementasan rutin di Dalem Pujokusuman, Yogyakarta. 2 atau 3 dari ke-19 tarian lepas ini menjadi sajian pembuka menjelang dipentaskannya Sendratari Klasik Ramayana (Gaya Yogyakarta). Sendratari ini secara rutin dipentaskan 2 kali seminggu, setiap hari Selasa dan Jum’at. Untuk dicatat, pasca terjadinya bencana Gempa Bumi di Jogjakarta pada tanggal 27 Mei 2006, pementasan tersebut sempat terhenti karena rusaknya pendopo dan Dalem Pujokusuman yang menjadi arena pementasannya.</p>
<p>Ke-19 tari klasik tersebut adalah: <span id="more-106"></span></p>
<p><strong>Golek</strong>: Tarian ini menampilkan daya tarik dan keindahan seorang perempuan yang mempercantik diri.</p>
<p><strong>Sekar Pudyastuti</strong>: Tarian ini merupakan tarian penyambutan yang khusus dan juga menampilkan gerakan tarian gaya perempuan Yogyakarta yang anggun.</p>
<p><strong>Golek Retno Adaninggar</strong>: Ditampilkan dengan gaya Golek Menak yang diadaptasi dari wayang golek. Tarian Solo ini menggambarkan masa ketika putri China, Retno Adaninggar menyadari penangkapan orang-orang yang dikasihi oleh musuhnya. Mulai dari itu dia bersiap-siap untuk ikut ke medan pertempuran.</p>
<p><strong>Topeng Putri Kenakawulan</strong>: Tari topeng ini diadaptasi dari kisah Panji pada abad ke-15 dan menggambarkan putri Kenakawulan yang jatuh cinta dengan Carangwaspa.</p>
<p><strong>Klono Alus Jungkungmandeya</strong>: Tarian ini diadaptasi dari kisah Mahabarata yang menggambarkan pangeran muda Jungkungmandeya yang jatuh cinta dengan istrinya tercinta Srikandi. Tarian ini merupakan contoh yang bagus untuk tari gaya alus.</p>
<p><strong>Klono Gagah Dasawasisa</strong>: Tarian ini diadaptasi dari kisah Mahabarata dan menggambarkan Raja Dasawasisa yang sedang dimabuk cinta pada Wara Sumbadra.</p>
<p><strong>Topeng Klono Alus</strong>: Tari topeng ini diadaptasi dari cerita Panji abad ke-15 dan menggambarkan pangeran muda Gunungsari yang sangat jatuh cinta dengan Ragil Kuning.</p>
<p><strong>Topeng Klana Gagah</strong>: Tari topeng ini diadaptasi dari cerita Panji abad ke-15 dan menggambarkan Raja Sewandana yang sedang dimabuk cinta pada Candrakirana.</p>
<p><a title="Beksan Topeng | Jogja by Agus Yuniarso, on Flickr" href="http://www.flickr.com/photos/agusyr/4391485561/"><img src="http://farm5.static.flickr.com/4070/4391485561_40b936bb11_b.jpg" alt="Beksan Topeng | Jogja" width="620" /></a></p>
<h4>Beksan Topeng Gunungsari-Surawasesa sajian Yayasan Pamulangan Beksa Sasminta Mardawa (YPBSM) nDalem Pujokusuman dalam Pentas Rutin Tari Klasik Gaya Yogyakarta di Keraton Kasultanan Yogyakarta (Bangsal Srimanganti, Minggu, 21 Pebruari 2010).</h4>
<p><strong>Jaka Tarub – Nawangwulan</strong>: Pada suatu hari anak muda yang bernama Jaka Tarub berburu burung dan melihat bidadari cantik turun dari khayangan mandi di danau di hutan. Dia bersembunyi dan mengintip bidadari Nawangwulan dan jatuh cinta. Ketika Nawangwulan sedang mandi Jaka Tarub mencuri pakaiannya. Dia kembali ke tempat persembunyiannya dan membuat keonaran untuk menakuti Nawangwulan. Tetapi Nawangwulan tidak bisa menemukan pakaiannya dan tidak bisa kembali ke khayangan. Merasa sedih dan kesepian dia menangis. Jaka tarub mengembalikan pakaiannya dan memeri nama Nawangwulan. Cerita ini merupakan bagian dari legenda rakyat.</p>
<p><strong>Retna Dumilah – Panembahan Senopati</strong>: Pada abad ke 7 di Jawa, Panembahan Senopati Kerajaan Mataram berperang. Tarian ini berdasar pada suatu peperangan. Raja Madiun yang kalah memberi anak perempuannya Retno Dumilah sebuah keris ampuh untuk membunuh Senopati. Retno Dumilah hampir melaksanakan tugasnya sampai ketika dia menghunus kerisnya. Senopati tidak melawan menggunakan senjata. Dia mendekati Retno Dumilah dengan penuh perasaan. Hal ini mematahkan kekuatan keris Retno Dumilah dan dia menjadi istri Senopati.</p>
<p><strong>Srikandi &#8211; Larasati</strong>: Selama masa menjelang pernikahannya dengan Arjuna dia setuju untuk melakukan kontes untuk membuktikan kekuatannya. Larasati menantangnya dan dalam kekalahannya Srikandi memaksanya untuk menikah dengan Arjuna.</p>
<p><strong>Srikandi &#8211; Suradewati</strong>: Karena termakan gosip Srikandi menjadi cemburu pada putri Suradewati dan menantangnya bertanding. Suradewati kalah dan Srikandi menang.</p>
<p><strong>Sirtupilaeli – Sudarawerti</strong>: Dalam pertempuran untuk memutuskan siapa yang akan menikah dengan Menak kedua ksatria perempuan ini kalah ataupun menang keduanya akan menjadi istrinya Menak.</p>
<p><strong>Rengganis – Widaninggar</strong>: Putri China Widaninggar mau membalas dendam atas kematian saudaranya yang mati dalam pertempuran memperebutkan cinta Menak. Tetapi Widaninggar dikalahkan oleh saudara ipar pembunuh saudaranya yaitu Rengganis.</p>
<p><strong>Umarmaya – Umarmadi</strong>: Raja Umarmadi pertama harus mengalahkan Kepala penasehat Umarmaya  sebelum dia dapat mengalahkan Menak. Umarmadi kalah tetapi kemudian dia dan Umarmaya menjadi teman yang baik.</p>
<p><strong>Beksan Senggana – Saksadewa</strong>: Tarian ini merupakan bagian dari Ramayana yang disebut “Senggana Duta”. Sri Rama memberi Senggana, monyet putih tugas untuk mencari istri Rama, Dewi Sinta. Senggana menemukan Sinta dan agar bertemu dengan Rahwana dia menghancurkan Argasaka. Raksasa Saksadewa anak Rahwana menjadi marah dan ingin menangkap Senggana tetapi terbunuh selama pertempuran.</p>
<p><strong>Beksan Gathutkaca – Pregiwa</strong>: Menggambarkan bagian dari kisah Mahabharata. Gathutkaca mengungkapkan pada Pregiwa bahwa dia jatuh cinta padanya. Pregiwa menerima cintanya dan berjanji untuk setia sehidup semati.</p>
<p><strong>Beksan Carangwaspa – Kenakawulan</strong>: Cerita ini diambil dari cerita Panji. Dewi Kenakawulan dari Manggada ingin menguji kekuatan Raden Panji Carangwaspa. Jika dapat mengalahkannya dia akan menjadi istrinya.</p>
<p><strong>Beksa Umarmaya – Jayengpati</strong>: Tarian ini merupakan bagian dari cerita Menak. Prabu Jayengpati Raja dari Tunjungyaban telah mencuri pusaka “<em>Sonsong Tunggalnaga</em>” dari pemiliknya Wong Agung Jayengrana. Adipati  Umarmaya dari negeri Puserbumi mencoba untuk merebut pusaka dan mengembalikan pada Wong Agung Jayengrana. Dia berhasil melakukannya dengan mengalahkan Prabu Jayengpati Raja.</p>
<h4>Sumber: Yayasan Pamulangan Beksa Sasminta Mardawa (YPBSM), Yogyakarta.</h4>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suarajogja.net/2010/04/19-tari-klasik-gaya-yogyakarta-dari-yayasan-pamulangan-beksa-sasminta-mardawa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Theresia Suharti, Sang Maestro Tari Klasik Gaya Yogyakarta</title>
		<link>http://suarajogja.net/2010/03/theresia-suharti-sang-maestro/</link>
		<comments>http://suarajogja.net/2010/03/theresia-suharti-sang-maestro/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Mar 2010 11:37:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agus Yuniarso</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asides]]></category>
		<category><![CDATA[asti]]></category>
		<category><![CDATA[bangsal sri manganti]]></category>
		<category><![CDATA[banjarsari]]></category>
		<category><![CDATA[basoeki koeswaraga]]></category>
		<category><![CDATA[bedhaya partakrama]]></category>
		<category><![CDATA[bedhaya semang]]></category>
		<category><![CDATA[bray yudonegoro]]></category>
		<category><![CDATA[enoch atmadibrata]]></category>
		<category><![CDATA[galeri video foundation]]></category>
		<category><![CDATA[gaya yogyakarta]]></category>
		<category><![CDATA[gbph suryobrongto]]></category>
		<category><![CDATA[hadi sukatno]]></category>
		<category><![CDATA[hardho soebroto]]></category>
		<category><![CDATA[i gusti ayu kadek adri]]></category>
		<category><![CDATA[i gusti ngurah suparta]]></category>
		<category><![CDATA[i ketut sunaka]]></category>
		<category><![CDATA[isi yogyakarta]]></category>
		<category><![CDATA[java]]></category>
		<category><![CDATA[javanese]]></category>
		<category><![CDATA[jawa]]></category>
		<category><![CDATA[jaya mangkurejuno]]></category>
		<category><![CDATA[jogja]]></category>
		<category><![CDATA[jogjakarta]]></category>
		<category><![CDATA[joko suharjo]]></category>
		<category><![CDATA[jurnal seni]]></category>
		<category><![CDATA[jurusan tari isi]]></category>
		<category><![CDATA[kasultanan yogyakarta]]></category>
		<category><![CDATA[keraton]]></category>
		<category><![CDATA[kph natapraja]]></category>
		<category><![CDATA[krt madukusuma]]></category>
		<category><![CDATA[krt sasmintadipura]]></category>
		<category><![CDATA[lambangsari]]></category>
		<category><![CDATA[maestro]]></category>
		<category><![CDATA[modern dance]]></category>
		<category><![CDATA[ngaliman]]></category>
		<category><![CDATA[pasca sarjana ugm]]></category>
		<category><![CDATA[praptodiharjo]]></category>
		<category><![CDATA[pt koesoemokesowo]]></category>
		<category><![CDATA[pudjowijono]]></category>
		<category><![CDATA[rb soedarsono]]></category>
		<category><![CDATA[rl pustakamardawa]]></category>
		<category><![CDATA[sastrapustaka]]></category>
		<category><![CDATA[satro wiryono]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[sheryl cuttler]]></category>
		<category><![CDATA[soedarso pringgobroto]]></category>
		<category><![CDATA[sutarya]]></category>
		<category><![CDATA[tari golek]]></category>
		<category><![CDATA[tari klasik]]></category>
		<category><![CDATA[tari tradisional]]></category>
		<category><![CDATA[tembang]]></category>
		<category><![CDATA[theresia suharti]]></category>
		<category><![CDATA[wesleyan university]]></category>
		<category><![CDATA[yogya]]></category>
		<category><![CDATA[yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suarajogja.net/?p=24</guid>
		<description><![CDATA[Theresia Suharti adalah putri kedua dari seniman karawitan Sastrapustaka. Lahir di Yogyakarta 59 tahun yang lalu. Alumni Akademi Seni Tari Indonesia Yogyakarta ini adalah dosen senior di Jurusan Tari Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a title="Sang Maestro: Th. Suharti by Agus Yuniarso, on Flickr" href="http://www.flickr.com/photos/agusyr/2769760834/"><img src="http://farm4.static.flickr.com/3185/2769760834_9eb3de3c28.jpg" alt="Sang Maestro: Th. Suharti" width="640"  /></a></p>
<h4>Theresia Suharti bersama sejumlah seniman setelah menyajikan Tari Golek Lambangsari Gaya Yogyakarta dalam Pagelaran Sang Maestro (Desember, 2006) yang didokumentasikan oleh Jurusan Tari FSP ISI Yogyakarta bekerjasama dengan <a href="http://galerivideo.org">Galeri Video Foundation</a> Yogyakarta.</h4>
<p>Theresia Suharti adalah putri kedua dari seniman karawitan Sastrapustaka. Lahir di Yogyakarta 59 tahun yang lalu. Alumni Akademi Seni Tari Indonesia Yogyakarta ini adalah dosen senior di Jurusan Tari Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta. Sejak muda sudah jatuh cinta kepada dunia tari terlebih tari klasik gaya Yogyakarta. <span id="more-24"></span>Tercatat beberapa gurunya yang andil dalam mengajar tari antara lain Jaya Mangkurejuna, BRAY. Yudonegoro, KRT. Sasmintadipura, Soedarso Pringgobroto, dan GBPH Suryobrongto. Gaya tari dari berbagai daerah juga dipelajarinya antara lain belajar tari gaya Surakarta kepada Ibu Joko Suharjo, RT. Koesoemokesowo, dan S. Ngaliman. Enoch Atmadibrata dan Sutarya adalah gurunya tari gaya Sunda, sedangkan I Gusti Ngurah Suparta, I Gusti Ayu Kadek Adri dan I Ketut Sunaka adalah guru Suharti dalam bidang Tari Bali. Suharti tidak hanya belajar tari tardisional dari berbagai  gaya, tetapi juga pernah belajar Modern Dance kepada Sheryl Cuttler. Suharti juga belajar tembang Jawa antara lain kepada RL. Pustakamardawa, KRT. Madukusuma, KPH. Natapraja, Pudjowijono, Hadi Sukatno, C. Hardjo Soebroto, Satro Wiryono, Praptodiharjo, Banjaransari dan Basoeki Koeswaraga.</p>
<p>Theresia Suharti aktif berkarya tari, menari, menata busana dan juga piawai melantunkan tembang Jawa. Targetnya tidak hanya bisa menari, tetapi dia juga ingin melihat jagad tari dari berbagai dimensi, maka Ibu berputri empat dan bercucu tiga ini, melanjutkan kuliah di Pascasarjana UGM Yogyakarta Program Studi Sejarah dan lulus dengan nilai sangat memuaskan pada tahun 1990. Di samping mengajar di kampus, Suharti juga aktif melakukan penelitian, penggalian, menata tari, menari, dan juga menata busana baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Lawatannya ke luar negeri antara lain ke Filipina, Amerika, Jerman, Yugoslavia, Finlandia. Puluhan karya ilmiahnya menghiasi buku dan Jurnal Ilmiah Seni di berbagai terbitan.</p>
<p>Keuletan, kerja keras dan rasa cintanya kepada tari klasik gaya Yogyakarta dibuktikan dengan pengabdiannya sebagai pengajar tari di Keraton Kasultanan Yogyakarta sejak  tahun 1980, dan juga berhasil melakukan rekonstruksi Bedhaya Semang di Keraton Yogyakarta yang dipergelarkan pada tahun 2002. Di usianya yang hampir berkepala enam tak menghalanginya untuk tetap mengajar tari dan juga menari. Pada tahun 2003, istri dari RB. Soedarsono ini menari Golek Lambangsari di Wesleyan University, Connecticut, USA. Tarian yang sama juga ditarikan oleh Theresia Suharti di Bangsal Sri Manganti Keraton Yogyakarta pada tahun 2005. Di tahun 2004, bersama dengan para penagajar Jurusan Tari FSP ISI Yogyakarta ia menjadi salah satu penari Bedhaya Partakrama.</p>
<p>Aktivitasnya tiada henti, mengajar, meneliti, menulis, menjadi pembicara seminar, menjadi anggota redaksi Jurnal Seni. Semangat untuk selalu bergairah belajar dan belajar dibuktikannya dengan tercatatnya dia sebagai mahasiswa Program Pascasarjana S-3 di UGM Yogyakarta.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suarajogja.net/2010/03/theresia-suharti-sang-maestro/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tamansari, Eksotika Masa Lampau</title>
		<link>http://suarajogja.net/2009/09/59/</link>
		<comments>http://suarajogja.net/2009/09/59/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Sep 2009 10:34:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agus Yuniarso</dc:creator>
				<category><![CDATA[Heritage]]></category>
		<category><![CDATA[1691]]></category>
		<category><![CDATA[1765]]></category>
		<category><![CDATA[amfiteater]]></category>
		<category><![CDATA[batik]]></category>
		<category><![CDATA[bedhaya]]></category>
		<category><![CDATA[benteng baluwerti]]></category>
		<category><![CDATA[dzikir]]></category>
		<category><![CDATA[galeri video]]></category>
		<category><![CDATA[gapura hagung]]></category>
		<category><![CDATA[gedhong cemeti]]></category>
		<category><![CDATA[gedhong kenongo]]></category>
		<category><![CDATA[gedhong lopak-lopak]]></category>
		<category><![CDATA[hamengku buwono]]></category>
		<category><![CDATA[italia]]></category>
		<category><![CDATA[java]]></category>
		<category><![CDATA[javanese]]></category>
		<category><![CDATA[jawa]]></category>
		<category><![CDATA[jogja]]></category>
		<category><![CDATA[jogjakarta]]></category>
		<category><![CDATA[keraton]]></category>
		<category><![CDATA[lajering sekar sinesep peksi]]></category>
		<category><![CDATA[legenda]]></category>
		<category><![CDATA[lorong]]></category>
		<category><![CDATA[masjid bawah tanah]]></category>
		<category><![CDATA[memet]]></category>
		<category><![CDATA[mihrab]]></category>
		<category><![CDATA[mitos]]></category>
		<category><![CDATA[panggung krapyak]]></category>
		<category><![CDATA[pantai selatan]]></category>
		<category><![CDATA[pasiraman umbul binangun]]></category>
		<category><![CDATA[pesanggrahan]]></category>
		<category><![CDATA[pulo kenongo]]></category>
		<category><![CDATA[pulo panembung]]></category>
		<category><![CDATA[relief]]></category>
		<category><![CDATA[roma]]></category>
		<category><![CDATA[segaran]]></category>
		<category><![CDATA[semadi]]></category>
		<category><![CDATA[sengkalan]]></category>
		<category><![CDATA[serimpi]]></category>
		<category><![CDATA[sholat jama'ah]]></category>
		<category><![CDATA[suara jogja]]></category>
		<category><![CDATA[suarajogja]]></category>
		<category><![CDATA[sultan]]></category>
		<category><![CDATA[sumur gumantung]]></category>
		<category><![CDATA[sumur gumuling]]></category>
		<category><![CDATA[tajug]]></category>
		<category><![CDATA[tamansari]]></category>
		<category><![CDATA[tari klasik]]></category>
		<category><![CDATA[urung-urung]]></category>
		<category><![CDATA[yogya]]></category>
		<category><![CDATA[yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suarajogja.net/?p=59</guid>
		<description><![CDATA[Pada jaman dahulu, Segaran Tamansari adalah bagian paling eksotis dari keseluruhan kompleks Pesanggrahan Tamansari. Bentuknya menyerupai kolam yang sangat luas dan dikelilingi tembok tebal pada keempat sisinya. Pada masa jayanya, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a title="Jogja: Pesanggrahan Tamansari by Agus Yuniarso, on Flickr" href="http://www.flickr.com/photos/agusyr/2814152334/"><img src="http://farm4.static.flickr.com/3099/2814152334_fa299f944e_o.jpg" alt="Jogja: Pesanggrahan Tamansari" width="500" /></a></p>
<p>Pada jaman dahulu, Segaran Tamansari adalah bagian paling eksotis dari keseluruhan kompleks Pesanggrahan Tamansari. Bentuknya menyerupai kolam yang sangat luas dan dikelilingi tembok tebal pada keempat sisinya. Pada masa jayanya, Segaran berfungsi sebagai tempat memelihara ikan sekaligus arena mendayung bagi para putra dan keluarga Sultan.<span id="more-59"></span></p>
<p>Di tengah Segaran berdiri sebuah dataran berbentuk pulau yang dipenuhi Pohon Kenanga, hingga disebut sebagai Pulo Kenongo. Di atasnya berdiri bangunan terbesar dan tertinggi di Pesanggrahan Tamansari yang disebut Gedhong Kenongo. Orang yang berdiri di anjungan tertinggi bangunan ini dapat melepaskan pandangannya hingga keluar batas Benteng Baluwerti. Bangunan ini terdiri dari 2 lantai dan sejumlah ruang dengan berbagai fungsi, diantaranya untuk membatik dan mempelajari tari klasik Kraton, seperti Bedhaya dan Serimpi. Pulo Kenongo saat ini tinggal puing-puing, sementara Segaran Tamansari telah berubah menjadi lautan rumah penduduk.</p>
<div id="attachment_127" class="wp-caption alignright" style="width: 212px"><a href="http://www.amazon.com/gp/product/0761454071?ie=UTF8&amp;tag=televisindone-20&amp;linkCode=as2&amp;camp=1789&amp;creative=390957&amp;creativeASIN=0761454071"><img class="size-full wp-image-127" title="CultureShock! Jakarta" src="http://suarajogja.net/wp-content/uploads/2009/09/51ny56xIgOL._SS500_.jpg" alt="CultureShock! Jakarta" width="202" height="341" /></a><p class="wp-caption-text">Buy this book from Amazon.Com!</p></div>
<p>Dua bangunan penting lainnya yang terdapat di Segaran Tamansari adalah Sumur Gumuling dan Gedhong Cemeti. Kedua bangunan ini terhubungkan dengan Pulo Kenongo melalui lorong atau urung-urung yang berada di bawah permukaan air Segaran.</p>
<p>Sumur Gumuling terletak di sebelah barat Pulo Kenongo, melintasi sebuah lorong bawah tanah. Sumur Gumuling merupakan masjid dua lantai yang sebagian bangunannya terletak di bawah permukaan air. Bentuknya yang melingkar, mengingatkan pada bentuk Amfiteater di Roma, Italia. Sebuah sumur besar ada di bagian tengahnya. Di tengah sumur terdapat 4 buah jenjang ke atas yang bertemu ditambah satu jenjang diatasnya yang menghubungkan kedua lantai. Pada kedua lantai terdapat pengimaman atau mihrob, tempat bagi Imam untuk memimpin Sholat berjama’ah. Selain urung-urung dari arah Pulo Kenongo, ada pula sebuah lorong ke arah barat, yang telah rapat tertimbun tanah. Konon menurut mitos yang berkembang, urung-urung ini menuju ke luar lingkungan Keraton hingga mencapai Panggung Krapyak yang berada sekitar 1 kilometer di selatan Benteng Baluwerti. Bahkan lebih jauh lagi, menembus hingga pantai selatan Jawa.</p>
<p>Gedhong Cemeti atau Pulo Cemeti berbentuk menara bertingkat, terletak di tengah Segaran Tamansari, tepatnya di sebelah selatan Pulo Kenongo. Bangunan ini juga sering disebut Sumur Gumantung, karena di sebelah selatannya terdapat sumur yang menggantung atau berada diatas tanah. Ada juga yang menyebutnya Pulo Panembung, karena fungsinya sebagai tempat pribadi Sultan untuk berzikir atau bersemadi. Di sebelah barat Gedhong Cemeti terdapat 5 buah bangunan berbentuk tajug, yang menjadi ventilasi bagi lorong atau urung-urung dibawahnya.</p>
<p>Gedhong Gapura Hagung yang masih bisa disaksikan pada sisi  dalam sebelah timur, sebetulnya adalah pintu gerbang utama Pesanggrahan Tamansari. Bangunan ini dihiasi relief yang menggambarkan pepohonan dengan bunga dan buahnya serta beberapa ekor burung. Relief ini saling bersusun membentuk ornamen simbolik yang berbunyi “ Lajering Sekar Sinesep Peksi “ yang bermakna tahun 1691 Jawa atau 1765 Masehi, tahun selesainya pembangunan Pesanggrahan Tamansari.</p>
<p>Gedhong Gapura Hagung merupakan bangunan bertingkat dengan sejumlah ruangan serta sepasang jenjang pada sisi kiri dan kanan. Konon pada jaman dahulu, ruang-ruang ini juga dipergunakan sebagai tempat untuk menyepuh pusaka. Di sebelah timur Gedhong Gapura Hagung terdapat halaman besar yang dikelilingi tembok bersegi delapan. Di tengah halaman ini dahulu terdapat bangunan bertingkat yang disebut Gedhong Lopak-lopak, yang sekarang sudah tidak ada lagi. Ruang bagian bawahnya dipergunakan untuk mempersiapkan sirih dan pinang, sedang bagian atas dipergunakan sebagai tempat duduk Sultan.</p>
<p>Halaman ini dihiasi dengan sejumlah pot bunga berukuran besar serta sejumlah pintu keluar menuju bagian lain Pesanggrahan Tamansari. Pintu pada sisi timur menghubungkannya langsung menuju Pasiraman Umbul Binangun.</p>
<h4><strong>Sumber</strong>: <a href="http://www.facebook.com/agus.yuniarso">Agus Yuniarso</a> / “Cinderamata 250 Tahun Kota Yogyakarta 1756-2006, Transkrip Naskah 15 Video Dokumenter Budaya Seputar Kota Yogyakarta” (Yogyakarta: <a href="http://galerivideo.org">Galeri Video Foundation</a>, 2006)</h4>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suarajogja.net/2009/09/59/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tentang Dinasti Mataram Kuno</title>
		<link>http://suarajogja.net/2009/09/tentang-dinasti-mataram-kuno/</link>
		<comments>http://suarajogja.net/2009/09/tentang-dinasti-mataram-kuno/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Sep 2009 16:02:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agus Yuniarso</dc:creator>
				<category><![CDATA[Arkeologi]]></category>
		<category><![CDATA[agus yuniarso]]></category>
		<category><![CDATA[balitung]]></category>
		<category><![CDATA[bodhisatwa]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[candi]]></category>
		<category><![CDATA[canggal]]></category>
		<category><![CDATA[cinderamata]]></category>
		<category><![CDATA[daksa]]></category>
		<category><![CDATA[dinasti]]></category>
		<category><![CDATA[dokumenter]]></category>
		<category><![CDATA[empu]]></category>
		<category><![CDATA[galeri video]]></category>
		<category><![CDATA[garung]]></category>
		<category><![CDATA[gunung wukur]]></category>
		<category><![CDATA[hindu]]></category>
		<category><![CDATA[humalang]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[java]]></category>
		<category><![CDATA[javanese]]></category>
		<category><![CDATA[jawa]]></category>
		<category><![CDATA[jawa tengah]]></category>
		<category><![CDATA[jawa timur]]></category>
		<category><![CDATA[jogja]]></category>
		<category><![CDATA[jogjakarta]]></category>
		<category><![CDATA[kalasan]]></category>
		<category><![CDATA[kayuwangi]]></category>
		<category><![CDATA[kotagede]]></category>
		<category><![CDATA[lingga]]></category>
		<category><![CDATA[magelang]]></category>
		<category><![CDATA[mahayana]]></category>
		<category><![CDATA[mantiasih]]></category>
		<category><![CDATA[mataram]]></category>
		<category><![CDATA[medang bhumi mataram]]></category>
		<category><![CDATA[nandi]]></category>
		<category><![CDATA[panangkaran]]></category>
		<category><![CDATA[pancapana]]></category>
		<category><![CDATA[panembahan senopati]]></category>
		<category><![CDATA[panunggalan]]></category>
		<category><![CDATA[pikatan]]></category>
		<category><![CDATA[rakai]]></category>
		<category><![CDATA[salam]]></category>
		<category><![CDATA[sanjaya]]></category>
		<category><![CDATA[sendok]]></category>
		<category><![CDATA[siwa]]></category>
		<category><![CDATA[temple]]></category>
		<category><![CDATA[tulodong]]></category>
		<category><![CDATA[warak]]></category>
		<category><![CDATA[wawa]]></category>
		<category><![CDATA[yogya]]></category>
		<category><![CDATA[yogyakarta]]></category>
		<category><![CDATA[yoni]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suarajogja.net/?p=47</guid>
		<description><![CDATA[Candi Gunung Wukir juga sering disebut Candi Canggal sesuai nama dusun dimana candi ini berada, di wilayah Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang. Situs bernuansa Hindu yang terletak di puncak bukit ini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Candi Gunung Wukir juga sering disebut Candi Canggal sesuai nama dusun dimana candi ini berada, di wilayah Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang. Situs bernuansa Hindu yang terletak di puncak bukit ini menjadi istimewa karena disinilah ditemukan Prasasti Canggal, prasasti tertua yang bisa sedikit menjelaskan peradaban Mataram Kuno.</p>
<p><span id="more-47"></span>Prasasti Canggal ditulis sekitar tahun 732 Masehi oleh Raja Sanjaya yang mendirikan candi ini sebagai tempat suci untuk memuja Dewa Siwa. Bukti pemujaan kepada Dewa Siwa dapat ditengarai dari adanya bentuk lingga, yoni dan arca Nandi. Pendirian candi sebagai tempat suci ini dapat dianggap sebagai tanda pendirian sebuah kerajaan. Dalam prasasti-prasasti yang ditemukan sesudah Prasasti Canggal, nama Sanjaya sebagai pendiri kerajaan ini lebih sering disebut sebagai Rakai Mataram, sesuai nama wilayah yang diperintahnya. Pada mulanya, Mataram adalah wilayah kecil yang diperintah oleh Sanjaya, yang kemudian dijadikan nama kerajaan yang didirikannya. Pusat pemerintahannya ada di Medang Bhumi Mataram. Dimana tempat ini sekarang, tidak dapat diketahui dengan pasti.</p>
<p>Raja Sanjaya atau Rakai Mataram kemudian digantikan oleh Pancapana yang bergelar Rakai Panangkaran. Nama ini tersebut dalam sebuah prasasti berangka tahun 778 Masehi yang ditemukan di dekat Candi  Kalasan. Meski beragama Hindu, Rakai Panangkaran memenuhi permintaan guru-gurunya untuk membangun tempat suci bagi para pendeta Buddha di wilayah kekuasaannya. tempat suci itu kemudian dikenal sebagai Candi Kalasan, yang dibangun untuk pemujaan bagi Dewi Tara Bodhisatwa, sosok Dewi dalam agama Buddha Mahayana.</p>
<p>Bagaimana keadaan Kerajaan Mataram sepeninggal Rakai Panangkaran tidak diketahui dengan pasti. Yang diketahui hanyalah nama raja-raja yang memerintah sesudahnya. Berdasarkan Prasasti Mantiasih yang berangka tahun 907 Masehi, Rakai Panangkaran beturut-turut digantikan oleh : Rakai Panunggalan, Rakai Warak, Rakai Garung, Rakai Pikatan, Rakai Kayuwangi, Rakai Watu Humalang , dan yang terakhir Rakai Balitung, raja yang memerintahkan pembuatan prasasti ini.</p>
<p>Sejumlah prasasti lain menyebutkan 3 raja terakhir sebagai pengganti Rakai Balitung, yaitu Rakai Daksa, Rakai Tulodong dan Rakai Wawa.</p>
<p>Sekitar abad ke-10, Rakai Wawa sebagai raja terakhir kemudian digantikan oleh Empu Sendok, mantan mahapatihnya. Empu Sendok inilah yang dikenal telah memindahkan pusat kerajaan secara besar-besaran, dari Jawa tengah ke Jawa Timur, di penghujung abad ke-10.</p>
<p>Sejak saat itulah nama Mataram sebagai sebuah kerajaan menghilang dari catatan sejarah. Baru sekitar 6 abad kemudian, istilah Mataram kembali bersinar pada saat Panembahan Senopati mendirikan Dinasti Mataram Islam di Kotagede.</p>
<ul>
<li><span style="color: #000080;">Catatan: Disajikan kembali dari tulisan Agus Yuniarso dalam buku “Cinderamata 250 Tahun Kota Yogyakarta 1756-2006, Transkrip Naskah 15 Video Dokumenter Budaya Seputar Kota Yogyakarta” (Yogyakarta: Galeri Video Foundation, 2006)</span></li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suarajogja.net/2009/09/tentang-dinasti-mataram-kuno/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hotel Grand Mercure Pernah Menjadi Kantor Presiden Soekarno</title>
		<link>http://suarajogja.net/2007/07/hotel-grand-mercure-pernah-menjadi-kantor-presiden-soekarno/</link>
		<comments>http://suarajogja.net/2007/07/hotel-grand-mercure-pernah-menjadi-kantor-presiden-soekarno/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Jul 2007 03:37:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agus Yuniarso</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asides]]></category>
		<category><![CDATA[1913]]></category>
		<category><![CDATA[1930]]></category>
		<category><![CDATA[1942]]></category>
		<category><![CDATA[1945]]></category>
		<category><![CDATA[1993]]></category>
		<category><![CDATA[2003]]></category>
		<category><![CDATA[2004]]></category>
		<category><![CDATA[accor group]]></category>
		<category><![CDATA[arsitektur]]></category>
		<category><![CDATA[asian fusion]]></category>
		<category><![CDATA[belanda]]></category>
		<category><![CDATA[bintang lima]]></category>
		<category><![CDATA[boutique hotel]]></category>
		<category><![CDATA[bung karno]]></category>
		<category><![CDATA[eropa]]></category>
		<category><![CDATA[fitness]]></category>
		<category><![CDATA[franck loison]]></category>
		<category><![CDATA[gamelan]]></category>
		<category><![CDATA[grand mercure]]></category>
		<category><![CDATA[Heritage]]></category>
		<category><![CDATA[hotel]]></category>
		<category><![CDATA[hotel butik]]></category>
		<category><![CDATA[hotel merdeka]]></category>
		<category><![CDATA[hua-hin]]></category>
		<category><![CDATA[ibukota ri]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[java]]></category>
		<category><![CDATA[jawa]]></category>
		<category><![CDATA[jenderal sudirman]]></category>
		<category><![CDATA[jepang]]></category>
		<category><![CDATA[jerman]]></category>
		<category><![CDATA[jogja]]></category>
		<category><![CDATA[jogjakarta]]></category>
		<category><![CDATA[kebugaran]]></category>
		<category><![CDATA[konsul china]]></category>
		<category><![CDATA[liem djoen hwat]]></category>
		<category><![CDATA[nostalgia]]></category>
		<category><![CDATA[paprika]]></category>
		<category><![CDATA[pariwisata]]></category>
		<category><![CDATA[perancis]]></category>
		<category><![CDATA[phoenix heritage]]></category>
		<category><![CDATA[prasmanan]]></category>
		<category><![CDATA[rumah phoenix]]></category>
		<category><![CDATA[semarang]]></category>
		<category><![CDATA[soekarno]]></category>
		<category><![CDATA[sofitel]]></category>
		<category><![CDATA[spa]]></category>
		<category><![CDATA[splendid]]></category>
		<category><![CDATA[sukarno]]></category>
		<category><![CDATA[sulaeman]]></category>
		<category><![CDATA[terrace lounge]]></category>
		<category><![CDATA[thailand]]></category>
		<category><![CDATA[tourist]]></category>
		<category><![CDATA[tugu]]></category>
		<category><![CDATA[vino wine bar]]></category>
		<category><![CDATA[wifi]]></category>
		<category><![CDATA[wisatawan]]></category>
		<category><![CDATA[wiwied a wibisono]]></category>
		<category><![CDATA[yamato]]></category>
		<category><![CDATA[yogya]]></category>
		<category><![CDATA[yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suarajogja.net/?p=121</guid>
		<description><![CDATA[Awalnya, bangunan Hotel Grand Mercure Yogyakarta merupakan rumah seorang pengusaha asal Semarang yang dibangun pada 1918. Tahun 1930, tempat ini disewakan kepada seorang Belanda dan dijadikan hotel dengan nama Hotel [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Awalnya, bangunan Hotel Grand Mercure Yogyakarta merupakan rumah seorang pengusaha asal Semarang yang dibangun pada 1918. Tahun 1930, tempat ini disewakan kepada seorang Belanda dan dijadikan hotel dengan nama Hotel Splendid. Saat Jepang mulai berkuasa di Indonesia di 1942, hotel ini diubah namanya menjadi Hotel Yamato. Tahun 1945 Jepang menyerah dan ibu kota Indonesia dipindahkan di Yogyakarta. Ir.Soekarno Presiden pertama RI sempat berkantor di hotel ini, sebelum bangunan ini kemudian difungsikan sebagai rumah Konsul China. Pada tahun 1951, bangunan ini difungsikan kembali sebagai hotel dengan nama Hotel Merdeka. <a href="http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=176227">Selengkapnya …</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suarajogja.net/2007/07/hotel-grand-mercure-pernah-menjadi-kantor-presiden-soekarno/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>5 Tari Tradisi oleh 5 Maestro Tari Indonesia</title>
		<link>http://suarajogja.net/2007/02/video-5-maestro-tari-indonesia/</link>
		<comments>http://suarajogja.net/2007/02/video-5-maestro-tari-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Feb 2007 15:36:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agus Yuniarso</dc:creator>
				<category><![CDATA[Produk Seni Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[beksan bandabaya]]></category>
		<category><![CDATA[cirebon]]></category>
		<category><![CDATA[condropangrawit]]></category>
		<category><![CDATA[due-like batch iv]]></category>
		<category><![CDATA[empu]]></category>
		<category><![CDATA[galeri video foundation]]></category>
		<category><![CDATA[gambyong gambirsawit]]></category>
		<category><![CDATA[gaya blangsinga]]></category>
		<category><![CDATA[gendhing lambangsari]]></category>
		<category><![CDATA[gianyar]]></category>
		<category><![CDATA[golek lambangsari]]></category>
		<category><![CDATA[gunungsari partajaya]]></category>
		<category><![CDATA[i mario]]></category>
		<category><![CDATA[ida bagus blangsinga]]></category>
		<category><![CDATA[ida bagus oka wirjana]]></category>
		<category><![CDATA[jabung]]></category>
		<category><![CDATA[java]]></category>
		<category><![CDATA[javanese]]></category>
		<category><![CDATA[jawa]]></category>
		<category><![CDATA[jogja]]></category>
		<category><![CDATA[jogjakarta]]></category>
		<category><![CDATA[jurusan tari isi]]></category>
		<category><![CDATA[kadipaten pakualaman]]></category>
		<category><![CDATA[kalianyar]]></category>
		<category><![CDATA[kebyar duduk]]></category>
		<category><![CDATA[kediri]]></category>
		<category><![CDATA[kekebyaran]]></category>
		<category><![CDATA[kelana rahwana]]></category>
		<category><![CDATA[kelana topeng]]></category>
		<category><![CDATA[koreografi]]></category>
		<category><![CDATA[krt purbaningrat]]></category>
		<category><![CDATA[krt sasmintadipura]]></category>
		<category><![CDATA[ledhek]]></category>
		<category><![CDATA[mbah kari]]></category>
		<category><![CDATA[mimi sutini]]></category>
		<category><![CDATA[ngaliman]]></category>
		<category><![CDATA[ngayogyakarta hadiningrat]]></category>
		<category><![CDATA[pagelaran]]></category>
		<category><![CDATA[panji]]></category>
		<category><![CDATA[pasca sarjana isi]]></category>
		<category><![CDATA[patrajaya]]></category>
		<category><![CDATA[pendopo]]></category>
		<category><![CDATA[priangan]]></category>
		<category><![CDATA[puro pakualaman]]></category>
		<category><![CDATA[raden gunungsari]]></category>
		<category><![CDATA[selangit]]></category>
		<category><![CDATA[setya jalma setyaning aksara]]></category>
		<category><![CDATA[sewatama]]></category>
		<category><![CDATA[sultan hamengku buwono viii]]></category>
		<category><![CDATA[tari tradisi]]></category>
		<category><![CDATA[tayub]]></category>
		<category><![CDATA[theodora retna maruti]]></category>
		<category><![CDATA[theresia suharti]]></category>
		<category><![CDATA[topeng malang]]></category>
		<category><![CDATA[video dokumenter]]></category>
		<category><![CDATA[videografi]]></category>
		<category><![CDATA[yogya]]></category>
		<category><![CDATA[yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suarajogja.net/?p=27</guid>
		<description><![CDATA[Bulan Desember 2006, untuk kesekian kalinya Galeri Video Foundation bekerjasama dengan Jurusan Tari Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta mendokumentasikan tari tradisi dalam format videografi. Kali ini dalam sebuah pagelaran yang menampilkan 5 orang maestro tari tradisi Indonesia.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bulan Desember 2006, untuk kesekian kalinya <a href="http://galerivideo.org">Galeri Video Foundation</a> bekerjasama dengan Jurusan Tari Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta mendokumentasikan tari tradisi dalam format videografi. Kali ini dalam sebuah pagelaran yang menampilkan 5 orang maestro tari tradisi Indonesia. Kelima maestro tersebut adalah : Theresia Suharti (59 tahun, Yogyakarta), Theodora Retna Maruti (59 tahun, Jakarta / Surakarta), Mimi Sutini (65 tahun, Cirebon),  Ida Bagus Blangsinga (78 tahun, Gianyar Bali ) dan Mbah Kari (72 tahun, Malang). <span id="more-27"></span></p>
<p>Pagelaran yang bertajuk “Sang Maestro – Ekspresi Plural Tari Tradisi Indonesia” ini diselenggarakan pada tanggal 20-21 Desember 2006 di Pendapa Sewatama Puro Pakualaman Yogyakarta. Pagelaran ini merupakan salah satu Program DUE-Like Batch IV Program Studi Seni Tari, Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta, yang diselenggarakan bekerjasama dengan Kadipaten Pakualaman Ngayogyakartahadiningrat, Unit Jasa dan Industri (UJI) Tari LPM ISI Yogyakarta serta Program Pasca Sarjana ISI Yogyakarta.</p>
<p>5 sajian tari yang ditampilkan oleh para maestro ini adalah : Golek Lambangsari (Gaya Yogyakarta), Gambyong Gambirsawit (Gaya Surakarta), Kelana Rahwana (Gaya Kalianyar Cirebon), Kebyar Duduk (Gaya Blangsinga Gianyar) dan Topeng Malang Gunungsari Patrajaya. Sebelumnya, ditampilkan sebuah drama tari persembahan HMJ Tari dan Alumni Mahasiswa Jurusan Tari FSP ISI Yogyakarta berjudul “ Setya Jalma Setyaning Aksara “ serta sebuah sajian tari dengan Gaya Pakualaman Yogyakarta, Beksan Bandabaya.</p>
<h4>Catatan : Video dokumenter pagelaran ini sementara tidak dipublikasikan dan didokumentasikan untuk kepentingan internal Jurusan Tari FSP ISI Yogyakarta dan <a href="http://galerivideo.org">Galeri Video Foundation</a>.</h4>
<p><strong>Golek Lambangsari ( </strong><strong>Gaya</strong><strong> </strong><strong>Yogyakarta</strong><strong> )</strong><br />
Penari : <a href="http://suarajogja.net/?p=24">Theresia Suharti, SST., M.Hum</a>. (59 tahun)</p>
<p>Tari Golek Lambangsari merupakan koreografi tari tunggal putri yang pada awalnya disusun oleh seorang empu tari pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono VIII, yaitu KRT. Purbaningrat. Untuk selanjutnya koreografi itu ditata ulang oleh KRT. Sasmintadipura, salah seorang maestro tari gaya Yogyakarta. Tari golek ini menggambarkan seorang gadis Jawa yang masih remaja sedang bersolek diri. Dengan segala keluwesan gerak tubuhnya, ia mematut-matut busananya, merias wajah cantiknya dan mengenakan perhiasan untuk memperindah penampilannya. Ekspresinya yang ceria dan keluwesan gerak  tubuhnya diungkapkan melalui kelembutan dinamika gerak tari Jawa yang terstruktur secara ketat dalam bingkai gendhing Lambangsari.</p>
<p><strong>Gambyong Gambirsawit ( </strong><strong>Gaya</strong><strong> </strong><strong>Surakarta</strong><strong>)</strong><br />
Penari : Theodora Retna Maruti (59 tahun)</p>
<p>Tari Gambyong Gambirsawit ini merupakan koreografi tari tunggal putri yang disusun oleh seorang maestro tari Jawa gaya Surakarta, S. Ngaliman Condropangrawit. Koreografi gambyong ini bersumber pada tarian yang lazim disajikan oleh para ledhek sebagai tarian awal pada pertunjukan Tayub. Koreografi Gambyong Gambirsawit ini lebih menampakkan sebuah tataan tari Jawa dengan struktur yang ketat dan mapan. Merupakan bentuk penggambaran seorang putri Jawa yang sedang berhias diri. Dengan segala keluwesan gerak tubuh, mematut-matut busana dan merias wajah cantiknya. Ekspresi tari ini tampak begitu dinamis, <em>kenes</em> tetapi tetap dalam bingkai kelembutan tari Jawa.</p>
<p><strong>Kelana Rahwana (</strong><strong>Gaya</strong><strong> Kalianyar, </strong><strong>Cirebon</strong><strong>)</strong><br />
Penari : <a href="http://suarajogja.net/?p=38">Mimi Sutini</a> (65 tahun)</p>
<p>Tari Kelana Topeng ini merupakan tarian yang khas gaya Kalianyar, Cirebon. Dalam beberapa bagian dari koreografi tari ini, tampak adanya pengaruh dari topeng gaya Selangit, Cirebon yang berpadu dengan gerak-gerak tari yang khas gaya Priangan. Tari topeng Kelana Rahwana ini menggambarkan seorang raja angkara murka, yang serakah dan tidak dapat mengendalikan hawa nafsunya. Ekspresi yang tertuang lewat gerak tari yang keras dengan aksentuasi tajam, tidak berarti tidak memiliki sentuhan kelembutan. Permainan keras-lembut ini pada akhirnya menghadirkan suatu dinamika dalam sajian pertunjukan ini.</p>
<p><strong>Kebyar Duduk (</strong><strong>Gaya</strong><strong> Blasinga, Gianyar)</strong><br />
Penari : <a href="http://suarajogja.net/?p=35">Ida Bagus Oka Wirjana</a> (<a href="http://suarajogja.net/?p=35">Ida Bagus Blangsinga</a>, 78 tahun)</p>
<p>Dalam tradisi tari Bali, tari Kebyar Duduk merupakan tari ciptaan baru yang disusun oleh I Mario, seorang maestro tari kebyar generasi pertama, pada tahun 1925. Tari ini merupakan salah satu bentuk tari yang masuk dalam kategori genre tari kekebyaran. Selanjutnya koreografi tari ini “disempurnakan” oleh Ida Bagus Oka Wirjana (Ida Bagus Blangsinga), sehingga dalam sajiannya memiliki  gaya yang sangat spesifik, yang terkenal dengan sebutan “Kebyar Duduk gaya Blangsinga”. Koreografi ini menggambarkan ketrampilan, ketangkasan dan kepiawaian seorang pemuda di dalam berolah tubuh, berolah gerak, merespon dinamika permainan musik iringan tarinya.</p>
<p><strong>Topeng </strong><strong>Malang</strong><strong> Gunungsari Patrajaya</strong><br />
Penari Gunungsari : <a href="http://suarajogja.net/?p=31">Mbah Kari</a> (70 tahun), Penari Patrajaya : Samadi</p>
<p>Tari Topeng Gunungsari-Patrajaya merupakan tari yang tersebar luas dan dikenal di berbagai wilayah budaya Jawa. Pada pagelaran tari kali ini akan disajikan tari topeng Gunungsari-Patrajaya versi Jabung, Malang. Sumber materi dramatik yang digunakan sebagai titik pijak dalam garapan tari ini adalah cerita Panji. Dalam tari ini dikisahkan Raden Gunungsari, putra mahkota kerajaan Kediri, sedang bercanda dengan abdinya yang bernama Patrajaya. Kemudian Raden Gunungsari mempersiapkan diri, berbusana untuk menghadap raja, dan selanjutnya menuju ke medan laga.</p>
<h4>Sumber : Booklet Pagelaran Sang Maestro “ Ekspresi Plural Tari Tradisi Indonesia”, tanggal 20-21 Desember 2006 di Pendopo Sewatama Pura Pakualaman Yogyakarta. Diterbitkan oleh Jurusan Tari FSP ISI Yogyakarta, 2006.</h4>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suarajogja.net/2007/02/video-5-maestro-tari-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

