<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Suara Jogja Online &#187; relief</title>
	<atom:link href="http://suarajogja.net/tag/relief/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://suarajogja.net</link>
	<description>Online Media, Citizen Journalism</description>
	<lastBuildDate>Sun, 23 Oct 2011 23:06:11 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Tamansari, Eksotika Masa Lampau</title>
		<link>http://suarajogja.net/2009/09/59/</link>
		<comments>http://suarajogja.net/2009/09/59/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Sep 2009 10:34:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agus Yuniarso</dc:creator>
				<category><![CDATA[Heritage]]></category>
		<category><![CDATA[1691]]></category>
		<category><![CDATA[1765]]></category>
		<category><![CDATA[amfiteater]]></category>
		<category><![CDATA[batik]]></category>
		<category><![CDATA[bedhaya]]></category>
		<category><![CDATA[benteng baluwerti]]></category>
		<category><![CDATA[dzikir]]></category>
		<category><![CDATA[galeri video]]></category>
		<category><![CDATA[gapura hagung]]></category>
		<category><![CDATA[gedhong cemeti]]></category>
		<category><![CDATA[gedhong kenongo]]></category>
		<category><![CDATA[gedhong lopak-lopak]]></category>
		<category><![CDATA[hamengku buwono]]></category>
		<category><![CDATA[italia]]></category>
		<category><![CDATA[java]]></category>
		<category><![CDATA[javanese]]></category>
		<category><![CDATA[jawa]]></category>
		<category><![CDATA[jogja]]></category>
		<category><![CDATA[jogjakarta]]></category>
		<category><![CDATA[keraton]]></category>
		<category><![CDATA[lajering sekar sinesep peksi]]></category>
		<category><![CDATA[legenda]]></category>
		<category><![CDATA[lorong]]></category>
		<category><![CDATA[masjid bawah tanah]]></category>
		<category><![CDATA[memet]]></category>
		<category><![CDATA[mihrab]]></category>
		<category><![CDATA[mitos]]></category>
		<category><![CDATA[panggung krapyak]]></category>
		<category><![CDATA[pantai selatan]]></category>
		<category><![CDATA[pasiraman umbul binangun]]></category>
		<category><![CDATA[pesanggrahan]]></category>
		<category><![CDATA[pulo kenongo]]></category>
		<category><![CDATA[pulo panembung]]></category>
		<category><![CDATA[relief]]></category>
		<category><![CDATA[roma]]></category>
		<category><![CDATA[segaran]]></category>
		<category><![CDATA[semadi]]></category>
		<category><![CDATA[sengkalan]]></category>
		<category><![CDATA[serimpi]]></category>
		<category><![CDATA[sholat jama'ah]]></category>
		<category><![CDATA[suara jogja]]></category>
		<category><![CDATA[suarajogja]]></category>
		<category><![CDATA[sultan]]></category>
		<category><![CDATA[sumur gumantung]]></category>
		<category><![CDATA[sumur gumuling]]></category>
		<category><![CDATA[tajug]]></category>
		<category><![CDATA[tamansari]]></category>
		<category><![CDATA[tari klasik]]></category>
		<category><![CDATA[urung-urung]]></category>
		<category><![CDATA[yogya]]></category>
		<category><![CDATA[yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suarajogja.net/?p=59</guid>
		<description><![CDATA[Pada jaman dahulu, Segaran Tamansari adalah bagian paling eksotis dari keseluruhan kompleks Pesanggrahan Tamansari. Bentuknya menyerupai kolam yang sangat luas dan dikelilingi tembok tebal pada keempat sisinya. Pada masa jayanya, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a title="Jogja: Pesanggrahan Tamansari by Agus Yuniarso, on Flickr" href="http://www.flickr.com/photos/agusyr/2814152334/"><img src="http://farm4.static.flickr.com/3099/2814152334_fa299f944e_o.jpg" alt="Jogja: Pesanggrahan Tamansari" width="500" /></a></p>
<p>Pada jaman dahulu, Segaran Tamansari adalah bagian paling eksotis dari keseluruhan kompleks Pesanggrahan Tamansari. Bentuknya menyerupai kolam yang sangat luas dan dikelilingi tembok tebal pada keempat sisinya. Pada masa jayanya, Segaran berfungsi sebagai tempat memelihara ikan sekaligus arena mendayung bagi para putra dan keluarga Sultan.<span id="more-59"></span></p>
<p>Di tengah Segaran berdiri sebuah dataran berbentuk pulau yang dipenuhi Pohon Kenanga, hingga disebut sebagai Pulo Kenongo. Di atasnya berdiri bangunan terbesar dan tertinggi di Pesanggrahan Tamansari yang disebut Gedhong Kenongo. Orang yang berdiri di anjungan tertinggi bangunan ini dapat melepaskan pandangannya hingga keluar batas Benteng Baluwerti. Bangunan ini terdiri dari 2 lantai dan sejumlah ruang dengan berbagai fungsi, diantaranya untuk membatik dan mempelajari tari klasik Kraton, seperti Bedhaya dan Serimpi. Pulo Kenongo saat ini tinggal puing-puing, sementara Segaran Tamansari telah berubah menjadi lautan rumah penduduk.</p>
<div id="attachment_127" class="wp-caption alignright" style="width: 212px"><a href="http://www.amazon.com/gp/product/0761454071?ie=UTF8&amp;tag=televisindone-20&amp;linkCode=as2&amp;camp=1789&amp;creative=390957&amp;creativeASIN=0761454071"><img class="size-full wp-image-127" title="CultureShock! Jakarta" src="http://suarajogja.net/wp-content/uploads/2009/09/51ny56xIgOL._SS500_.jpg" alt="CultureShock! Jakarta" width="202" height="341" /></a><p class="wp-caption-text">Buy this book from Amazon.Com!</p></div>
<p>Dua bangunan penting lainnya yang terdapat di Segaran Tamansari adalah Sumur Gumuling dan Gedhong Cemeti. Kedua bangunan ini terhubungkan dengan Pulo Kenongo melalui lorong atau urung-urung yang berada di bawah permukaan air Segaran.</p>
<p>Sumur Gumuling terletak di sebelah barat Pulo Kenongo, melintasi sebuah lorong bawah tanah. Sumur Gumuling merupakan masjid dua lantai yang sebagian bangunannya terletak di bawah permukaan air. Bentuknya yang melingkar, mengingatkan pada bentuk Amfiteater di Roma, Italia. Sebuah sumur besar ada di bagian tengahnya. Di tengah sumur terdapat 4 buah jenjang ke atas yang bertemu ditambah satu jenjang diatasnya yang menghubungkan kedua lantai. Pada kedua lantai terdapat pengimaman atau mihrob, tempat bagi Imam untuk memimpin Sholat berjama’ah. Selain urung-urung dari arah Pulo Kenongo, ada pula sebuah lorong ke arah barat, yang telah rapat tertimbun tanah. Konon menurut mitos yang berkembang, urung-urung ini menuju ke luar lingkungan Keraton hingga mencapai Panggung Krapyak yang berada sekitar 1 kilometer di selatan Benteng Baluwerti. Bahkan lebih jauh lagi, menembus hingga pantai selatan Jawa.</p>
<p>Gedhong Cemeti atau Pulo Cemeti berbentuk menara bertingkat, terletak di tengah Segaran Tamansari, tepatnya di sebelah selatan Pulo Kenongo. Bangunan ini juga sering disebut Sumur Gumantung, karena di sebelah selatannya terdapat sumur yang menggantung atau berada diatas tanah. Ada juga yang menyebutnya Pulo Panembung, karena fungsinya sebagai tempat pribadi Sultan untuk berzikir atau bersemadi. Di sebelah barat Gedhong Cemeti terdapat 5 buah bangunan berbentuk tajug, yang menjadi ventilasi bagi lorong atau urung-urung dibawahnya.</p>
<p>Gedhong Gapura Hagung yang masih bisa disaksikan pada sisi  dalam sebelah timur, sebetulnya adalah pintu gerbang utama Pesanggrahan Tamansari. Bangunan ini dihiasi relief yang menggambarkan pepohonan dengan bunga dan buahnya serta beberapa ekor burung. Relief ini saling bersusun membentuk ornamen simbolik yang berbunyi “ Lajering Sekar Sinesep Peksi “ yang bermakna tahun 1691 Jawa atau 1765 Masehi, tahun selesainya pembangunan Pesanggrahan Tamansari.</p>
<p>Gedhong Gapura Hagung merupakan bangunan bertingkat dengan sejumlah ruangan serta sepasang jenjang pada sisi kiri dan kanan. Konon pada jaman dahulu, ruang-ruang ini juga dipergunakan sebagai tempat untuk menyepuh pusaka. Di sebelah timur Gedhong Gapura Hagung terdapat halaman besar yang dikelilingi tembok bersegi delapan. Di tengah halaman ini dahulu terdapat bangunan bertingkat yang disebut Gedhong Lopak-lopak, yang sekarang sudah tidak ada lagi. Ruang bagian bawahnya dipergunakan untuk mempersiapkan sirih dan pinang, sedang bagian atas dipergunakan sebagai tempat duduk Sultan.</p>
<p>Halaman ini dihiasi dengan sejumlah pot bunga berukuran besar serta sejumlah pintu keluar menuju bagian lain Pesanggrahan Tamansari. Pintu pada sisi timur menghubungkannya langsung menuju Pasiraman Umbul Binangun.</p>
<h4><strong>Sumber</strong>: <a href="http://www.facebook.com/agus.yuniarso">Agus Yuniarso</a> / “Cinderamata 250 Tahun Kota Yogyakarta 1756-2006, Transkrip Naskah 15 Video Dokumenter Budaya Seputar Kota Yogyakarta” (Yogyakarta: <a href="http://galerivideo.org">Galeri Video Foundation</a>, 2006)</h4>
<p><!-- PHP 5.x --></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suarajogja.net/2009/09/59/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Candi, Tempat Pemakaman atau Pemujaan?</title>
		<link>http://suarajogja.net/2009/09/candi-sebagai-situs-purbakala/</link>
		<comments>http://suarajogja.net/2009/09/candi-sebagai-situs-purbakala/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Sep 2009 15:42:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agus Yuniarso</dc:creator>
				<category><![CDATA[Arkeologi]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[astronomi]]></category>
		<category><![CDATA[batu andesit]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[candi]]></category>
		<category><![CDATA[candika]]></category>
		<category><![CDATA[cinderamata]]></category>
		<category><![CDATA[durga]]></category>
		<category><![CDATA[galeri video foundation]]></category>
		<category><![CDATA[hindu]]></category>
		<category><![CDATA[kakawin]]></category>
		<category><![CDATA[kresnayana]]></category>
		<category><![CDATA[kunjarakarna]]></category>
		<category><![CDATA[lingga]]></category>
		<category><![CDATA[makrokosmos]]></category>
		<category><![CDATA[mikrokosmos]]></category>
		<category><![CDATA[mitologi]]></category>
		<category><![CDATA[pradaksina]]></category>
		<category><![CDATA[purbakala]]></category>
		<category><![CDATA[ramayana]]></category>
		<category><![CDATA[relief]]></category>
		<category><![CDATA[stupa]]></category>
		<category><![CDATA[temple]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suarajogja.net/?p=43</guid>
		<description><![CDATA[Bagi masyarakat Jawa, istilah candi dipergunakan untuk memberi istilah pada bangunan peninggalan sejarah dari jaman Hindu dan Buddha di Jawa. Istilah candi berasal dari kata Candika, yaitu salah satu nama untuk Durga sebagai Dewi Kematian. Oleh karenanya, sering muncul anggapan bahwa candi selalu berkaitan dengan kematian.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bagi masyarakat Jawa, istilah candi dipergunakan untuk memberi istilah pada bangunan peninggalan sejarah dari jaman Hindu dan Buddha di Jawa. Istilah candi berasal dari kata Candika, yaitu salah satu nama untuk Durga sebagai Dewi Kematian. Oleh karenanya, sering muncul anggapan bahwa candi selalu berkaitan dengan kematian. Memang, berdasarkan catatan arkeologi, candi pada umumnya dibangun sebagai tempat pemakaman atau penyimpanan abu jenasah seorang raja atau tokoh tertentu. Namun tidak semua yang disebut candi merupakan tempat pemakaman. Fungsi sebagai tempat pemujaan jauh lebih menonjol dan menjadi karakteristik khas dari setiap bangunan candi.</p>
<p><span id="more-43"></span>Dari sisi kosmologi, candi-candi selalu dibangun berdasarkan kepercayaan tentang keselarasan antara jagad raya sebagai makrokosmos dengan dunia manusia sebagai mikrokosmos. Kehidupan manusia senantiasa dipengaruhi oleh tenaga-tenaga yang bersumber dari kekuatan alam di lingkungannya. Apa yang akan terjadi, tergantung dari kemampuan manusia dalam menyiasati keselarasan hidup mereka dengan jagad raya. Pembangunan candi juga mempertimbangkan segi mitologi, astronomi serta mengacu pada kekuatan spiritual sesuai dengan fungsinya sebagai tempat pemujaan.</p>
<p>Sebagai sebuah bangunan, secara vertikal candi terdiri dari 3 bagian, yaitu : bagian kaki, tubuh dan atap candi. Bagian kaki yang menjadi pondasi candi umumnya berbentuk persegi. Pada satu atau beberapa sisinya, terdapat tangga yang dipergunakan untuk mencapai bagian yang lebih tinggi. Pada bagian tengah pondasi inilah terkadang dijumpai lubang yang berfungsi untuk menyimpan abu jenasah raja. Diatas lubang ditempatkan patung dewa yang dianggap menjelma ke dalam tubuh sang raja.</p>
<p>Bagian tubuh candi umumnya berbentuk bilik dengan ukuran yang lebih kecil dari bagian kaki, sehingga masih terdapat ruang yang terbuka di sisi luarnya. Pada bagian ini seseorang bisa berjalan mengelilingi candi, yang dikenal dengan istilah Pradaksina. Bagian atas candi berupa atap yang menutup tubuh atau bilik candi. Bentuknya menyerupai gunung yang bertangga-tangga, menyerupai mahkota, lingga atau stupa. Dari sisi bentuk, candi-candi di Jawa Tengah umumnya lebih ramping dibanding candi-candi di Jawa Timur yang usianya lebih muda.  Secara horizontal, lingkungan suatu candi biasanya terbagi menjadi beberapa bagian halaman, yaitu : halaman pertama di bagian pusat atau jeroan, halaman kedua di sisi luarnya yang disebut tengahan, serta halaman paling luar atau disebut njaba.</p>
<p>Candi-candi di Jawa Tengah umumnya terbuat dari batu andesit yang biasa terdapat di sekitar gunung berapi. Bahan-bahan lain seperti batu putih hanya dipergunakan sebagai pelengkap, semisal sebagai pagar keliling candi. Batu-batu ini disusun tanpa adonan spesi, kecuali pada bagian tertentu di sisi luar. Setelah bentuknya tersusun, barulah hiasan-hiasan dipahatkan pada permukaaannya yang rata. Gambar-gambar yang menjadi hiasan atau relief candi berasal dari kisah-kisah dalam kakawin, seperti Ramayana, Kresnayana, Kunjarakarna, dan sebagainya. Atau dalam bentuk dewa-dewa, pohon surga, bunga teratai, ornamen spiral, atau bentuk makhluk tertentu. Ragam hias pada candi-candi di Jawa Tengah, biasanya lebih naturalistis dibanding candi-candi di Jawa Timur.</p>
<p>Pada saat ditemukan, sebagian besar candi berada dalam kondisi rusak berat. Bebatuan yang menjadi inti bangunannya berserakan di sejumlah tempat, terkadang hingga jauh dari tempatnya semula. Bahkan sebagian dari bebatuan candi yang bernilai sejarah itu telah berubah fungsi, seperti menjadi tanggul atau pondasi rumah penduduk yang bermukim di sekitarnya.</p>
<p>Banyak alasan yang biasanya dikemukakan untuk menjelaskan kerusakan candi-candi di masa lampau.  Diantaranya adalah munculnya bencana alam yang sangat dahsyat, seperti banjir, gempa bumi atau letusan gunung berapi. Peperangan dan perebutan kekuasaan juga ditengarai menjadi penyebab kerusakan itu. Dalam setiap peperangan, pusat-pusat pemerintahan kerajaan umumnya menjadi target untuk dibumihanguskan. Candi sebagai bangunan suci pun tak luput dari pengrusakan dan penghancuran selama perang berlangsung.</p>
<h4><strong>Sumber</strong>: <a href="http://www.facebook.com/agus.yuniarso">Agus Yuniarso</a> / “Cinderamata 250 Tahun Kota Yogyakarta 1756-2006, Transkrip Naskah 15 Video Dokumenter Budaya Seputar Kota Yogyakarta” (Yogyakarta: <a href="http://galerivideo.org">Galeri Video Foundation</a>, 2006)</h4>
<p><!-- PHP 5.x --></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suarajogja.net/2009/09/candi-sebagai-situs-purbakala/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

