<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Suara Jogja Online &#187; keraton</title>
	<atom:link href="http://suarajogja.net/tag/keraton/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://suarajogja.net</link>
	<description>Online Media, Citizen Journalism</description>
	<lastBuildDate>Sun, 23 Oct 2011 23:06:11 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Tamansari, Karya Monumental Sultan Pertama</title>
		<link>http://suarajogja.net/2010/09/tamansari-karya-monumental-sultan-pertama/</link>
		<comments>http://suarajogja.net/2010/09/tamansari-karya-monumental-sultan-pertama/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 12 Sep 2010 03:34:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agus Yuniarso</dc:creator>
				<category><![CDATA[Heritage]]></category>
		<category><![CDATA[arsitektur]]></category>
		<category><![CDATA[babad]]></category>
		<category><![CDATA[batavia]]></category>
		<category><![CDATA[belanda]]></category>
		<category><![CDATA[budhisme]]></category>
		<category><![CDATA[bugis]]></category>
		<category><![CDATA[ciliwung]]></category>
		<category><![CDATA[cina]]></category>
		<category><![CDATA[dawelingi]]></category>
		<category><![CDATA[demang tegis]]></category>
		<category><![CDATA[dinasti]]></category>
		<category><![CDATA[gempa bumi]]></category>
		<category><![CDATA[gula jawa]]></category>
		<category><![CDATA[gunung merapi]]></category>
		<category><![CDATA[hinduisme]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[java]]></category>
		<category><![CDATA[javanese]]></category>
		<category><![CDATA[jawa]]></category>
		<category><![CDATA[jogja]]></category>
		<category><![CDATA[jogjakarta]]></category>
		<category><![CDATA[kali code]]></category>
		<category><![CDATA[kali larangan]]></category>
		<category><![CDATA[kali winongo]]></category>
		<category><![CDATA[kasunanan]]></category>
		<category><![CDATA[keraton]]></category>
		<category><![CDATA[kosmogoni]]></category>
		<category><![CDATA[kulon progo]]></category>
		<category><![CDATA[legen]]></category>
		<category><![CDATA[madiun]]></category>
		<category><![CDATA[mangkubumi]]></category>
		<category><![CDATA[mangundipuro]]></category>
		<category><![CDATA[nasrani]]></category>
		<category><![CDATA[notokusumo]]></category>
		<category><![CDATA[pantai glagah]]></category>
		<category><![CDATA[pantai selatan]]></category>
		<category><![CDATA[pesanggrahan]]></category>
		<category><![CDATA[portugis]]></category>
		<category><![CDATA[prawirosentiko]]></category>
		<category><![CDATA[sengkalan memet]]></category>
		<category><![CDATA[sri paku alam]]></category>
		<category><![CDATA[sri sultan hamengku buwono i]]></category>
		<category><![CDATA[surakarta]]></category>
		<category><![CDATA[tamansari]]></category>
		<category><![CDATA[thomas stamford raffles]]></category>
		<category><![CDATA[tugu pal putih]]></category>
		<category><![CDATA[tumenggung]]></category>
		<category><![CDATA[urung-urung]]></category>
		<category><![CDATA[voc]]></category>
		<category><![CDATA[vredeburg]]></category>
		<category><![CDATA[watercastle]]></category>
		<category><![CDATA[yogya]]></category>
		<category><![CDATA[yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suarajogja.net/?p=55</guid>
		<description><![CDATA[Tamansari juga disebut sebagai watercastle, yaitu sebuah istana di atas air yang terletak di sebelah barat daya Keraton Kasultanan Yogyakarta. Pesanggrahan atau tempat peristrahatan yang juga disebut sebagai Keraton Lama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a title="Postcard: Gapura Hagung Tamansari, Jogja by Agus Yuniarso, on Flickr" href="http://www.flickr.com/photos/agusyr/2802116980/"><img src="http://farm4.static.flickr.com/3214/2802116980_9cb742235e_o.jpg" alt="Postcard: Gapura Hagung Tamansari, Jogja" width="640" /></a></p>
<p>Tamansari juga disebut sebagai watercastle, yaitu sebuah istana di atas air yang terletak di sebelah barat daya Keraton Kasultanan Yogyakarta. Pesanggrahan atau tempat peristrahatan yang juga disebut sebagai Keraton Lama ini, mulai dibangun oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I pada tahun 1758. Sebagaimana termuat dalam Babad Mangkubumi, Sultan menunjuk Kyai Tumenggung Mangundipuro sebagai penanggung jawab gagasannya, didampingi oleh Lurah Dawelingi yang berasal dari Bugis. Sebelum proses pembangunan dimulai, Sultan sempat mengutus Tumenggung Mangundipuro ke Batavia untuk mengamati bangunan VOC yang berdiri di sepanjang Sungai Ciliwung.<span id="more-55"></span></p>
<p>Biaya pembangunan Tamansari sebagian berasal dari pajak atau upeti rakyat Madiun dibawah pimpinan Bupati Prawirasentika, yang kemudian bertindak sebagai pelaksana proyek. Di tengah proses pembangunan, Bupati Prawirasentika mengundurkan diri dan posisinya digantikan oleh salah satu putra Sultan, yaitu Pangeran Notokusumo, yang di kemudian hari bergelar sebagai Sri Paku Alam I. Konon, pembangunan Tamansari juga melibatkan seorang ahli bangunan dari Portugis yang terdampar di Pantai Glagah Kulon Progo, yang oleh Sultan diberi nama Jawa : Demang Tegis.</p>
<p>Tamansari adalah bangunan dengan corak multikultural yang memadukan gaya arsitektur Jawa, Portugis, Belanda dan Cina. Dalam bingkai budaya, bangunan Pesanggrahan Tamansari juga merangkum kosmogoni Jawa, Islam, Nasrani, Hinduisme serta Budhisme.</p>
<p>Struktur bangunannya terbuat dari bata, pasir, gamping dan semen merah biasa, tanpa menggunakan sistem beton bertulang seperti yang ada pada jaman sekarang. Konon, untuk memperkuat dinding-dindingnya, dalam adonan semen ditambahkan campuran putih telor dan legen yang biasa dipakai sebagai bahan dalam pembuatan gula Jawa. Bisa dibayangkan, berapa butir telor yang dibutuhkan untuk membangun pesanggrahan seluas lebih dari 10 hektar ini.</p>
<p>Pada jamannya, pesanggrahan ini berfungsi sebagai tempat beristirahat, berkebun, beribadah sekaligus bertahan dari serangan musuh. Hal ini sesuai dengan falsafah Jawa, “ Sajroning among suka, tan tinggal duga lan prayoga “, yang artinya : sewaktu bersuka, seyogyanya tetaplah dalam kewaspadaan.</p>
<p>Tamansari merupakan karya monumental Sri Sultan Hamengku Buwono I, yang juga dikenal sebagai arsitek yang banyak membangun karya arsitektur megah. Selain Keraton Kasultanan dan Tamansari, Sultan juga membangun Benteng Vredeburg serta Tugu Pal Putih yang menjadi simbol Kota Yogyakarta. Bahkan, bangunan Keraton Kasunanan Surakarta pun merupakan karya arsitektur hasil rancangannya. Karya terbesar Sultan adalah landscape Kota Yogyakarta yang terletak di antara 2 sungai dan berorientasi pada poros magis Pantai Selatan, Keraton dan Gunung Merapi. Sri Sultan Hamengku Buwono I adalah raja Dinasti Mataram Islam yang paling lama bertahta dan mampu mengendalikan masa damai terpanjang di Pulau Jawa, antara tahun 1749 hingga 1792.</p>
<p>Pesanggrahan Tamansari hanya berfungsi selama 2 masa pemerintahan raja Kasultanan Yogyakarta, antara tahun 1865 hingga tahun 1812. Pada masa jayanya, Tamansari memiliki sekitar 57 bangunan, terdiri dari danau buatan, gedung, gapura, masjid, kolam, lorong, serta kebun-kebun yang ditanami bebuahan, bunga-bunga serta rempah-rempah.</p>
<p>Lorong serta urung-urung sebagian besar terletak di bawah permukaan air, menghubungkan tempat satu dengan tempat lainnya. Air adalah unsur utama di Pesanggrahan Tamansari. Air Kali Winongo dan Kali Code yang terletak di sebelah barat dan timur Keraton, dialirkan melalui terusan yang disebut Kali Larangan ke dalam kompleks Keraton. Disebut Kali Larangan, karena penduduk dilarang mempergunakan aliran air ini, apalagi membuatnya kotor. Selain untuk mengisi kebutuhan sirkulasi air di Tamansari, air Kali Larangan juga dipakai untuk mengisi jagang atau parit di seputar Benteng Baluwerti atau benteng luar Keraton. Di Tamansari, air ini terkumpul di danau buatan luas yang disebut Segaran, dan didistribusikan ke seluruh lingkungan Pesanggrahan.</p>
<p>Sayang, dari sekian banyak kemegahannya, hanya sebagian kecil yang masih tersisa di jaman ini. Sebagian yang lain sudah menjadi puing reruntuhan, bahkan sudah musnah ditelan waktu, karena alam maupun karena tangan manusia. Sementara pendapat mengatakan bahwa hancurnya Pesanggrahan ini disebabkan oleh pengrusakan dan penjarahan yang dilakukan balatentara Inggris dibawah pimpinan Letnan Gubernur Thomas Stamford Raffles yang menyerbu dan menduduki Keraton Kasultanan Yogyakarta pada tahun 1812. Kerusakan ini baru mulai dibersihkan pada tahun 1830-an, bersamaan dengan kehadiran para penduduk yang mulai menghuni lingkungan ini.</p>
<p>Porak porandanya bangunan yang sudah ada, kemudian diperparah dengan terjadinya gempa bumi besar yang pernah melanda Kota Yogyakarta, pada tanggal 10 Juni 1867. Peristiwa ini ditandai dengan ornamen simbolik atau sengkalan memet yang berbunyi “ Obah Trus Pitung Bhumi “ yang bermakna tahun 1793 Jawa atau 1867 Masehi. Namun yang pasti, terbengkalainya situs ini selama hampir 2 abad, telah menjadi penyebab utama rusaknya Pesanggrahan Tamansari.</p>
<h4><strong>Sumber</strong>: <a href="http://www.facebook.com/agus.yuniarso">Agus Yuniarso</a>: “Cinderamata 250 Tahun Kota Yogyakarta 1756-2006, Transkrip Naskah 15 Video Dokumenter Budaya Seputar Kota Yogyakarta” (Yogyakarta: <a href="http://galerivideo.org">Galeri Video Foundation</a>, 2006)</h4>
<p><!-- PHP 5.x --></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suarajogja.net/2010/09/tamansari-karya-monumental-sultan-pertama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Theresia Suharti, Sang Maestro Tari Klasik Gaya Yogyakarta</title>
		<link>http://suarajogja.net/2010/03/theresia-suharti-sang-maestro/</link>
		<comments>http://suarajogja.net/2010/03/theresia-suharti-sang-maestro/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Mar 2010 11:37:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agus Yuniarso</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seniman & Budayawan]]></category>
		<category><![CDATA[asti]]></category>
		<category><![CDATA[bangsal sri manganti]]></category>
		<category><![CDATA[banjarsari]]></category>
		<category><![CDATA[basoeki koeswaraga]]></category>
		<category><![CDATA[bedhaya partakrama]]></category>
		<category><![CDATA[bedhaya semang]]></category>
		<category><![CDATA[bray yudonegoro]]></category>
		<category><![CDATA[enoch atmadibrata]]></category>
		<category><![CDATA[galeri video foundation]]></category>
		<category><![CDATA[gaya yogyakarta]]></category>
		<category><![CDATA[gbph suryobrongto]]></category>
		<category><![CDATA[hadi sukatno]]></category>
		<category><![CDATA[hardho soebroto]]></category>
		<category><![CDATA[i gusti ayu kadek adri]]></category>
		<category><![CDATA[i gusti ngurah suparta]]></category>
		<category><![CDATA[i ketut sunaka]]></category>
		<category><![CDATA[isi yogyakarta]]></category>
		<category><![CDATA[java]]></category>
		<category><![CDATA[javanese]]></category>
		<category><![CDATA[jawa]]></category>
		<category><![CDATA[jaya mangkurejuno]]></category>
		<category><![CDATA[jogja]]></category>
		<category><![CDATA[jogjakarta]]></category>
		<category><![CDATA[joko suharjo]]></category>
		<category><![CDATA[jurnal seni]]></category>
		<category><![CDATA[jurusan tari isi]]></category>
		<category><![CDATA[kasultanan yogyakarta]]></category>
		<category><![CDATA[keraton]]></category>
		<category><![CDATA[kph natapraja]]></category>
		<category><![CDATA[krt madukusuma]]></category>
		<category><![CDATA[krt sasmintadipura]]></category>
		<category><![CDATA[lambangsari]]></category>
		<category><![CDATA[maestro]]></category>
		<category><![CDATA[modern dance]]></category>
		<category><![CDATA[ngaliman]]></category>
		<category><![CDATA[pasca sarjana ugm]]></category>
		<category><![CDATA[praptodiharjo]]></category>
		<category><![CDATA[pt koesoemokesowo]]></category>
		<category><![CDATA[pudjowijono]]></category>
		<category><![CDATA[rb soedarsono]]></category>
		<category><![CDATA[rl pustakamardawa]]></category>
		<category><![CDATA[sastrapustaka]]></category>
		<category><![CDATA[satro wiryono]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[sheryl cuttler]]></category>
		<category><![CDATA[soedarso pringgobroto]]></category>
		<category><![CDATA[sutarya]]></category>
		<category><![CDATA[tari golek]]></category>
		<category><![CDATA[tari klasik]]></category>
		<category><![CDATA[tari tradisional]]></category>
		<category><![CDATA[tembang]]></category>
		<category><![CDATA[theresia suharti]]></category>
		<category><![CDATA[wesleyan university]]></category>
		<category><![CDATA[yogya]]></category>
		<category><![CDATA[yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suarajogja.net/?p=24</guid>
		<description><![CDATA[Theresia Suharti adalah putri kedua dari seniman karawitan Sastrapustaka. Lahir di Yogyakarta 59 tahun yang lalu. Alumni Akademi Seni Tari Indonesia Yogyakarta ini adalah dosen senior di Jurusan Tari Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a title="Sang Maestro: Th. Suharti by Agus Yuniarso, on Flickr" href="http://www.flickr.com/photos/agusyr/2769760834/"><img src="http://farm4.static.flickr.com/3185/2769760834_9eb3de3c28.jpg" alt="Sang Maestro: Th. Suharti" width="640"  /></a></p>
<h4>Theresia Suharti bersama sejumlah seniman setelah menyajikan Tari Golek Lambangsari Gaya Yogyakarta dalam Pagelaran Sang Maestro (Desember, 2006) yang didokumentasikan oleh Jurusan Tari FSP ISI Yogyakarta bekerjasama dengan <a href="http://galerivideo.org">Galeri Video Foundation</a> Yogyakarta.</h4>
<p>Theresia Suharti adalah putri kedua dari seniman karawitan Sastrapustaka. Lahir di Yogyakarta 59 tahun yang lalu. Alumni Akademi Seni Tari Indonesia Yogyakarta ini adalah dosen senior di Jurusan Tari Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta. Sejak muda sudah jatuh cinta kepada dunia tari terlebih tari klasik gaya Yogyakarta. <span id="more-24"></span>Tercatat beberapa gurunya yang andil dalam mengajar tari antara lain Jaya Mangkurejuna, BRAY. Yudonegoro, KRT. Sasmintadipura, Soedarso Pringgobroto, dan GBPH Suryobrongto. Gaya tari dari berbagai daerah juga dipelajarinya antara lain belajar tari gaya Surakarta kepada Ibu Joko Suharjo, RT. Koesoemokesowo, dan S. Ngaliman. Enoch Atmadibrata dan Sutarya adalah gurunya tari gaya Sunda, sedangkan I Gusti Ngurah Suparta, I Gusti Ayu Kadek Adri dan I Ketut Sunaka adalah guru Suharti dalam bidang Tari Bali. Suharti tidak hanya belajar tari tardisional dari berbagai  gaya, tetapi juga pernah belajar Modern Dance kepada Sheryl Cuttler. Suharti juga belajar tembang Jawa antara lain kepada RL. Pustakamardawa, KRT. Madukusuma, KPH. Natapraja, Pudjowijono, Hadi Sukatno, C. Hardjo Soebroto, Satro Wiryono, Praptodiharjo, Banjaransari dan Basoeki Koeswaraga.</p>
<p>Theresia Suharti aktif berkarya tari, menari, menata busana dan juga piawai melantunkan tembang Jawa. Targetnya tidak hanya bisa menari, tetapi dia juga ingin melihat jagad tari dari berbagai dimensi, maka Ibu berputri empat dan bercucu tiga ini, melanjutkan kuliah di Pascasarjana UGM Yogyakarta Program Studi Sejarah dan lulus dengan nilai sangat memuaskan pada tahun 1990. Di samping mengajar di kampus, Suharti juga aktif melakukan penelitian, penggalian, menata tari, menari, dan juga menata busana baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Lawatannya ke luar negeri antara lain ke Filipina, Amerika, Jerman, Yugoslavia, Finlandia. Puluhan karya ilmiahnya menghiasi buku dan Jurnal Ilmiah Seni di berbagai terbitan.</p>
<p>Keuletan, kerja keras dan rasa cintanya kepada tari klasik gaya Yogyakarta dibuktikan dengan pengabdiannya sebagai pengajar tari di Keraton Kasultanan Yogyakarta sejak  tahun 1980, dan juga berhasil melakukan rekonstruksi Bedhaya Semang di Keraton Yogyakarta yang dipergelarkan pada tahun 2002. Di usianya yang hampir berkepala enam tak menghalanginya untuk tetap mengajar tari dan juga menari. Pada tahun 2003, istri dari RB. Soedarsono ini menari Golek Lambangsari di Wesleyan University, Connecticut, USA. Tarian yang sama juga ditarikan oleh Theresia Suharti di Bangsal Sri Manganti Keraton Yogyakarta pada tahun 2005. Di tahun 2004, bersama dengan para penagajar Jurusan Tari FSP ISI Yogyakarta ia menjadi salah satu penari Bedhaya Partakrama.</p>
<p>Aktivitasnya tiada henti, mengajar, meneliti, menulis, menjadi pembicara seminar, menjadi anggota redaksi Jurnal Seni. Semangat untuk selalu bergairah belajar dan belajar dibuktikannya dengan tercatatnya dia sebagai mahasiswa Program Pascasarjana S-3 di UGM Yogyakarta.<!-- PHP 5.x --></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suarajogja.net/2010/03/theresia-suharti-sang-maestro/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tamansari, Eksotika Masa Lampau</title>
		<link>http://suarajogja.net/2009/09/59/</link>
		<comments>http://suarajogja.net/2009/09/59/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Sep 2009 10:34:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agus Yuniarso</dc:creator>
				<category><![CDATA[Heritage]]></category>
		<category><![CDATA[1691]]></category>
		<category><![CDATA[1765]]></category>
		<category><![CDATA[amfiteater]]></category>
		<category><![CDATA[batik]]></category>
		<category><![CDATA[bedhaya]]></category>
		<category><![CDATA[benteng baluwerti]]></category>
		<category><![CDATA[dzikir]]></category>
		<category><![CDATA[galeri video]]></category>
		<category><![CDATA[gapura hagung]]></category>
		<category><![CDATA[gedhong cemeti]]></category>
		<category><![CDATA[gedhong kenongo]]></category>
		<category><![CDATA[gedhong lopak-lopak]]></category>
		<category><![CDATA[hamengku buwono]]></category>
		<category><![CDATA[italia]]></category>
		<category><![CDATA[java]]></category>
		<category><![CDATA[javanese]]></category>
		<category><![CDATA[jawa]]></category>
		<category><![CDATA[jogja]]></category>
		<category><![CDATA[jogjakarta]]></category>
		<category><![CDATA[keraton]]></category>
		<category><![CDATA[lajering sekar sinesep peksi]]></category>
		<category><![CDATA[legenda]]></category>
		<category><![CDATA[lorong]]></category>
		<category><![CDATA[masjid bawah tanah]]></category>
		<category><![CDATA[memet]]></category>
		<category><![CDATA[mihrab]]></category>
		<category><![CDATA[mitos]]></category>
		<category><![CDATA[panggung krapyak]]></category>
		<category><![CDATA[pantai selatan]]></category>
		<category><![CDATA[pasiraman umbul binangun]]></category>
		<category><![CDATA[pesanggrahan]]></category>
		<category><![CDATA[pulo kenongo]]></category>
		<category><![CDATA[pulo panembung]]></category>
		<category><![CDATA[relief]]></category>
		<category><![CDATA[roma]]></category>
		<category><![CDATA[segaran]]></category>
		<category><![CDATA[semadi]]></category>
		<category><![CDATA[sengkalan]]></category>
		<category><![CDATA[serimpi]]></category>
		<category><![CDATA[sholat jama'ah]]></category>
		<category><![CDATA[suara jogja]]></category>
		<category><![CDATA[suarajogja]]></category>
		<category><![CDATA[sultan]]></category>
		<category><![CDATA[sumur gumantung]]></category>
		<category><![CDATA[sumur gumuling]]></category>
		<category><![CDATA[tajug]]></category>
		<category><![CDATA[tamansari]]></category>
		<category><![CDATA[tari klasik]]></category>
		<category><![CDATA[urung-urung]]></category>
		<category><![CDATA[yogya]]></category>
		<category><![CDATA[yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suarajogja.net/?p=59</guid>
		<description><![CDATA[Pada jaman dahulu, Segaran Tamansari adalah bagian paling eksotis dari keseluruhan kompleks Pesanggrahan Tamansari. Bentuknya menyerupai kolam yang sangat luas dan dikelilingi tembok tebal pada keempat sisinya. Pada masa jayanya, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a title="Jogja: Pesanggrahan Tamansari by Agus Yuniarso, on Flickr" href="http://www.flickr.com/photos/agusyr/2814152334/"><img src="http://farm4.static.flickr.com/3099/2814152334_fa299f944e_o.jpg" alt="Jogja: Pesanggrahan Tamansari" width="500" /></a></p>
<p>Pada jaman dahulu, Segaran Tamansari adalah bagian paling eksotis dari keseluruhan kompleks Pesanggrahan Tamansari. Bentuknya menyerupai kolam yang sangat luas dan dikelilingi tembok tebal pada keempat sisinya. Pada masa jayanya, Segaran berfungsi sebagai tempat memelihara ikan sekaligus arena mendayung bagi para putra dan keluarga Sultan.<span id="more-59"></span></p>
<p>Di tengah Segaran berdiri sebuah dataran berbentuk pulau yang dipenuhi Pohon Kenanga, hingga disebut sebagai Pulo Kenongo. Di atasnya berdiri bangunan terbesar dan tertinggi di Pesanggrahan Tamansari yang disebut Gedhong Kenongo. Orang yang berdiri di anjungan tertinggi bangunan ini dapat melepaskan pandangannya hingga keluar batas Benteng Baluwerti. Bangunan ini terdiri dari 2 lantai dan sejumlah ruang dengan berbagai fungsi, diantaranya untuk membatik dan mempelajari tari klasik Kraton, seperti Bedhaya dan Serimpi. Pulo Kenongo saat ini tinggal puing-puing, sementara Segaran Tamansari telah berubah menjadi lautan rumah penduduk.</p>
<div id="attachment_127" class="wp-caption alignright" style="width: 212px"><a href="http://www.amazon.com/gp/product/0761454071?ie=UTF8&amp;tag=televisindone-20&amp;linkCode=as2&amp;camp=1789&amp;creative=390957&amp;creativeASIN=0761454071"><img class="size-full wp-image-127" title="CultureShock! Jakarta" src="http://suarajogja.net/wp-content/uploads/2009/09/51ny56xIgOL._SS500_.jpg" alt="CultureShock! Jakarta" width="202" height="341" /></a><p class="wp-caption-text">Buy this book from Amazon.Com!</p></div>
<p>Dua bangunan penting lainnya yang terdapat di Segaran Tamansari adalah Sumur Gumuling dan Gedhong Cemeti. Kedua bangunan ini terhubungkan dengan Pulo Kenongo melalui lorong atau urung-urung yang berada di bawah permukaan air Segaran.</p>
<p>Sumur Gumuling terletak di sebelah barat Pulo Kenongo, melintasi sebuah lorong bawah tanah. Sumur Gumuling merupakan masjid dua lantai yang sebagian bangunannya terletak di bawah permukaan air. Bentuknya yang melingkar, mengingatkan pada bentuk Amfiteater di Roma, Italia. Sebuah sumur besar ada di bagian tengahnya. Di tengah sumur terdapat 4 buah jenjang ke atas yang bertemu ditambah satu jenjang diatasnya yang menghubungkan kedua lantai. Pada kedua lantai terdapat pengimaman atau mihrob, tempat bagi Imam untuk memimpin Sholat berjama’ah. Selain urung-urung dari arah Pulo Kenongo, ada pula sebuah lorong ke arah barat, yang telah rapat tertimbun tanah. Konon menurut mitos yang berkembang, urung-urung ini menuju ke luar lingkungan Keraton hingga mencapai Panggung Krapyak yang berada sekitar 1 kilometer di selatan Benteng Baluwerti. Bahkan lebih jauh lagi, menembus hingga pantai selatan Jawa.</p>
<p>Gedhong Cemeti atau Pulo Cemeti berbentuk menara bertingkat, terletak di tengah Segaran Tamansari, tepatnya di sebelah selatan Pulo Kenongo. Bangunan ini juga sering disebut Sumur Gumantung, karena di sebelah selatannya terdapat sumur yang menggantung atau berada diatas tanah. Ada juga yang menyebutnya Pulo Panembung, karena fungsinya sebagai tempat pribadi Sultan untuk berzikir atau bersemadi. Di sebelah barat Gedhong Cemeti terdapat 5 buah bangunan berbentuk tajug, yang menjadi ventilasi bagi lorong atau urung-urung dibawahnya.</p>
<p>Gedhong Gapura Hagung yang masih bisa disaksikan pada sisi  dalam sebelah timur, sebetulnya adalah pintu gerbang utama Pesanggrahan Tamansari. Bangunan ini dihiasi relief yang menggambarkan pepohonan dengan bunga dan buahnya serta beberapa ekor burung. Relief ini saling bersusun membentuk ornamen simbolik yang berbunyi “ Lajering Sekar Sinesep Peksi “ yang bermakna tahun 1691 Jawa atau 1765 Masehi, tahun selesainya pembangunan Pesanggrahan Tamansari.</p>
<p>Gedhong Gapura Hagung merupakan bangunan bertingkat dengan sejumlah ruangan serta sepasang jenjang pada sisi kiri dan kanan. Konon pada jaman dahulu, ruang-ruang ini juga dipergunakan sebagai tempat untuk menyepuh pusaka. Di sebelah timur Gedhong Gapura Hagung terdapat halaman besar yang dikelilingi tembok bersegi delapan. Di tengah halaman ini dahulu terdapat bangunan bertingkat yang disebut Gedhong Lopak-lopak, yang sekarang sudah tidak ada lagi. Ruang bagian bawahnya dipergunakan untuk mempersiapkan sirih dan pinang, sedang bagian atas dipergunakan sebagai tempat duduk Sultan.</p>
<p>Halaman ini dihiasi dengan sejumlah pot bunga berukuran besar serta sejumlah pintu keluar menuju bagian lain Pesanggrahan Tamansari. Pintu pada sisi timur menghubungkannya langsung menuju Pasiraman Umbul Binangun.</p>
<h4><strong>Sumber</strong>: <a href="http://www.facebook.com/agus.yuniarso">Agus Yuniarso</a> / “Cinderamata 250 Tahun Kota Yogyakarta 1756-2006, Transkrip Naskah 15 Video Dokumenter Budaya Seputar Kota Yogyakarta” (Yogyakarta: <a href="http://galerivideo.org">Galeri Video Foundation</a>, 2006)</h4>
<p><!-- PHP 5.x --></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suarajogja.net/2009/09/59/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

