<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Suara Jogja Online &#187; jabung</title>
	<atom:link href="http://suarajogja.net/tag/jabung/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://suarajogja.net</link>
	<description>Online Media, Citizen Journalism</description>
	<lastBuildDate>Sun, 23 Oct 2011 23:06:11 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>5 Tari Tradisi oleh 5 Maestro Tari Indonesia</title>
		<link>http://suarajogja.net/2007/02/video-5-maestro-tari-indonesia/</link>
		<comments>http://suarajogja.net/2007/02/video-5-maestro-tari-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Feb 2007 15:36:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agus Yuniarso</dc:creator>
				<category><![CDATA[Produk Seni Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[beksan bandabaya]]></category>
		<category><![CDATA[cirebon]]></category>
		<category><![CDATA[condropangrawit]]></category>
		<category><![CDATA[due-like batch iv]]></category>
		<category><![CDATA[empu]]></category>
		<category><![CDATA[galeri video foundation]]></category>
		<category><![CDATA[gambyong gambirsawit]]></category>
		<category><![CDATA[gaya blangsinga]]></category>
		<category><![CDATA[gendhing lambangsari]]></category>
		<category><![CDATA[gianyar]]></category>
		<category><![CDATA[golek lambangsari]]></category>
		<category><![CDATA[gunungsari partajaya]]></category>
		<category><![CDATA[i mario]]></category>
		<category><![CDATA[ida bagus blangsinga]]></category>
		<category><![CDATA[ida bagus oka wirjana]]></category>
		<category><![CDATA[jabung]]></category>
		<category><![CDATA[java]]></category>
		<category><![CDATA[javanese]]></category>
		<category><![CDATA[jawa]]></category>
		<category><![CDATA[jogja]]></category>
		<category><![CDATA[jogjakarta]]></category>
		<category><![CDATA[jurusan tari isi]]></category>
		<category><![CDATA[kadipaten pakualaman]]></category>
		<category><![CDATA[kalianyar]]></category>
		<category><![CDATA[kebyar duduk]]></category>
		<category><![CDATA[kediri]]></category>
		<category><![CDATA[kekebyaran]]></category>
		<category><![CDATA[kelana rahwana]]></category>
		<category><![CDATA[kelana topeng]]></category>
		<category><![CDATA[koreografi]]></category>
		<category><![CDATA[krt purbaningrat]]></category>
		<category><![CDATA[krt sasmintadipura]]></category>
		<category><![CDATA[ledhek]]></category>
		<category><![CDATA[mbah kari]]></category>
		<category><![CDATA[mimi sutini]]></category>
		<category><![CDATA[ngaliman]]></category>
		<category><![CDATA[ngayogyakarta hadiningrat]]></category>
		<category><![CDATA[pagelaran]]></category>
		<category><![CDATA[panji]]></category>
		<category><![CDATA[pasca sarjana isi]]></category>
		<category><![CDATA[patrajaya]]></category>
		<category><![CDATA[pendopo]]></category>
		<category><![CDATA[priangan]]></category>
		<category><![CDATA[puro pakualaman]]></category>
		<category><![CDATA[raden gunungsari]]></category>
		<category><![CDATA[selangit]]></category>
		<category><![CDATA[setya jalma setyaning aksara]]></category>
		<category><![CDATA[sewatama]]></category>
		<category><![CDATA[sultan hamengku buwono viii]]></category>
		<category><![CDATA[tari tradisi]]></category>
		<category><![CDATA[tayub]]></category>
		<category><![CDATA[theodora retna maruti]]></category>
		<category><![CDATA[theresia suharti]]></category>
		<category><![CDATA[topeng malang]]></category>
		<category><![CDATA[video dokumenter]]></category>
		<category><![CDATA[videografi]]></category>
		<category><![CDATA[yogya]]></category>
		<category><![CDATA[yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suarajogja.net/?p=27</guid>
		<description><![CDATA[Bulan Desember 2006, untuk kesekian kalinya Galeri Video Foundation bekerjasama dengan Jurusan Tari Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta mendokumentasikan tari tradisi dalam format videografi. Kali ini dalam sebuah pagelaran yang menampilkan 5 orang maestro tari tradisi Indonesia.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bulan Desember 2006, untuk kesekian kalinya <a href="http://galerivideo.org">Galeri Video Foundation</a> bekerjasama dengan Jurusan Tari Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta mendokumentasikan tari tradisi dalam format videografi. Kali ini dalam sebuah pagelaran yang menampilkan 5 orang maestro tari tradisi Indonesia. Kelima maestro tersebut adalah : Theresia Suharti (59 tahun, Yogyakarta), Theodora Retna Maruti (59 tahun, Jakarta / Surakarta), Mimi Sutini (65 tahun, Cirebon),  Ida Bagus Blangsinga (78 tahun, Gianyar Bali ) dan Mbah Kari (72 tahun, Malang). <span id="more-27"></span></p>
<p>Pagelaran yang bertajuk “Sang Maestro – Ekspresi Plural Tari Tradisi Indonesia” ini diselenggarakan pada tanggal 20-21 Desember 2006 di Pendapa Sewatama Puro Pakualaman Yogyakarta. Pagelaran ini merupakan salah satu Program DUE-Like Batch IV Program Studi Seni Tari, Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta, yang diselenggarakan bekerjasama dengan Kadipaten Pakualaman Ngayogyakartahadiningrat, Unit Jasa dan Industri (UJI) Tari LPM ISI Yogyakarta serta Program Pasca Sarjana ISI Yogyakarta.</p>
<p>5 sajian tari yang ditampilkan oleh para maestro ini adalah : Golek Lambangsari (Gaya Yogyakarta), Gambyong Gambirsawit (Gaya Surakarta), Kelana Rahwana (Gaya Kalianyar Cirebon), Kebyar Duduk (Gaya Blangsinga Gianyar) dan Topeng Malang Gunungsari Patrajaya. Sebelumnya, ditampilkan sebuah drama tari persembahan HMJ Tari dan Alumni Mahasiswa Jurusan Tari FSP ISI Yogyakarta berjudul “ Setya Jalma Setyaning Aksara “ serta sebuah sajian tari dengan Gaya Pakualaman Yogyakarta, Beksan Bandabaya.</p>
<h4>Catatan : Video dokumenter pagelaran ini sementara tidak dipublikasikan dan didokumentasikan untuk kepentingan internal Jurusan Tari FSP ISI Yogyakarta dan <a href="http://galerivideo.org">Galeri Video Foundation</a>.</h4>
<p><strong>Golek Lambangsari ( </strong><strong>Gaya</strong><strong> </strong><strong>Yogyakarta</strong><strong> )</strong><br />
Penari : <a href="http://suarajogja.net/?p=24">Theresia Suharti, SST., M.Hum</a>. (59 tahun)</p>
<p>Tari Golek Lambangsari merupakan koreografi tari tunggal putri yang pada awalnya disusun oleh seorang empu tari pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono VIII, yaitu KRT. Purbaningrat. Untuk selanjutnya koreografi itu ditata ulang oleh KRT. Sasmintadipura, salah seorang maestro tari gaya Yogyakarta. Tari golek ini menggambarkan seorang gadis Jawa yang masih remaja sedang bersolek diri. Dengan segala keluwesan gerak tubuhnya, ia mematut-matut busananya, merias wajah cantiknya dan mengenakan perhiasan untuk memperindah penampilannya. Ekspresinya yang ceria dan keluwesan gerak  tubuhnya diungkapkan melalui kelembutan dinamika gerak tari Jawa yang terstruktur secara ketat dalam bingkai gendhing Lambangsari.</p>
<p><strong>Gambyong Gambirsawit ( </strong><strong>Gaya</strong><strong> </strong><strong>Surakarta</strong><strong>)</strong><br />
Penari : Theodora Retna Maruti (59 tahun)</p>
<p>Tari Gambyong Gambirsawit ini merupakan koreografi tari tunggal putri yang disusun oleh seorang maestro tari Jawa gaya Surakarta, S. Ngaliman Condropangrawit. Koreografi gambyong ini bersumber pada tarian yang lazim disajikan oleh para ledhek sebagai tarian awal pada pertunjukan Tayub. Koreografi Gambyong Gambirsawit ini lebih menampakkan sebuah tataan tari Jawa dengan struktur yang ketat dan mapan. Merupakan bentuk penggambaran seorang putri Jawa yang sedang berhias diri. Dengan segala keluwesan gerak tubuh, mematut-matut busana dan merias wajah cantiknya. Ekspresi tari ini tampak begitu dinamis, <em>kenes</em> tetapi tetap dalam bingkai kelembutan tari Jawa.</p>
<p><strong>Kelana Rahwana (</strong><strong>Gaya</strong><strong> Kalianyar, </strong><strong>Cirebon</strong><strong>)</strong><br />
Penari : <a href="http://suarajogja.net/?p=38">Mimi Sutini</a> (65 tahun)</p>
<p>Tari Kelana Topeng ini merupakan tarian yang khas gaya Kalianyar, Cirebon. Dalam beberapa bagian dari koreografi tari ini, tampak adanya pengaruh dari topeng gaya Selangit, Cirebon yang berpadu dengan gerak-gerak tari yang khas gaya Priangan. Tari topeng Kelana Rahwana ini menggambarkan seorang raja angkara murka, yang serakah dan tidak dapat mengendalikan hawa nafsunya. Ekspresi yang tertuang lewat gerak tari yang keras dengan aksentuasi tajam, tidak berarti tidak memiliki sentuhan kelembutan. Permainan keras-lembut ini pada akhirnya menghadirkan suatu dinamika dalam sajian pertunjukan ini.</p>
<p><strong>Kebyar Duduk (</strong><strong>Gaya</strong><strong> Blasinga, Gianyar)</strong><br />
Penari : <a href="http://suarajogja.net/?p=35">Ida Bagus Oka Wirjana</a> (<a href="http://suarajogja.net/?p=35">Ida Bagus Blangsinga</a>, 78 tahun)</p>
<p>Dalam tradisi tari Bali, tari Kebyar Duduk merupakan tari ciptaan baru yang disusun oleh I Mario, seorang maestro tari kebyar generasi pertama, pada tahun 1925. Tari ini merupakan salah satu bentuk tari yang masuk dalam kategori genre tari kekebyaran. Selanjutnya koreografi tari ini “disempurnakan” oleh Ida Bagus Oka Wirjana (Ida Bagus Blangsinga), sehingga dalam sajiannya memiliki  gaya yang sangat spesifik, yang terkenal dengan sebutan “Kebyar Duduk gaya Blangsinga”. Koreografi ini menggambarkan ketrampilan, ketangkasan dan kepiawaian seorang pemuda di dalam berolah tubuh, berolah gerak, merespon dinamika permainan musik iringan tarinya.</p>
<p><strong>Topeng </strong><strong>Malang</strong><strong> Gunungsari Patrajaya</strong><br />
Penari Gunungsari : <a href="http://suarajogja.net/?p=31">Mbah Kari</a> (70 tahun), Penari Patrajaya : Samadi</p>
<p>Tari Topeng Gunungsari-Patrajaya merupakan tari yang tersebar luas dan dikenal di berbagai wilayah budaya Jawa. Pada pagelaran tari kali ini akan disajikan tari topeng Gunungsari-Patrajaya versi Jabung, Malang. Sumber materi dramatik yang digunakan sebagai titik pijak dalam garapan tari ini adalah cerita Panji. Dalam tari ini dikisahkan Raden Gunungsari, putra mahkota kerajaan Kediri, sedang bercanda dengan abdinya yang bernama Patrajaya. Kemudian Raden Gunungsari mempersiapkan diri, berbusana untuk menghadap raja, dan selanjutnya menuju ke medan laga.</p>
<h4>Sumber : Booklet Pagelaran Sang Maestro “ Ekspresi Plural Tari Tradisi Indonesia”, tanggal 20-21 Desember 2006 di Pendopo Sewatama Pura Pakualaman Yogyakarta. Diterbitkan oleh Jurusan Tari FSP ISI Yogyakarta, 2006.</h4>
<p><!-- PHP 5.x --></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suarajogja.net/2007/02/video-5-maestro-tari-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mbah Kari, Sang Maestro Tari Topeng Malang</title>
		<link>http://suarajogja.net/2007/01/mbah-kari-sang-maestro/</link>
		<comments>http://suarajogja.net/2007/01/mbah-kari-sang-maestro/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Jan 2007 16:09:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agus Yuniarso</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seniman & Budayawan]]></category>
		<category><![CDATA[1958]]></category>
		<category><![CDATA[galeri video foundation]]></category>
		<category><![CDATA[gamelan]]></category>
		<category><![CDATA[glagahdawa]]></category>
		<category><![CDATA[gunungsari]]></category>
		<category><![CDATA[jabung]]></category>
		<category><![CDATA[jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[jurusan tari isi]]></category>
		<category><![CDATA[maestro]]></category>
		<category><![CDATA[mbah kari]]></category>
		<category><![CDATA[mbah rasimun]]></category>
		<category><![CDATA[partajaya]]></category>
		<category><![CDATA[sarmudi]]></category>
		<category><![CDATA[surabaya]]></category>
		<category><![CDATA[tari topeng malang]]></category>
		<category><![CDATA[tirtonoto]]></category>
		<category><![CDATA[topeng malangan]]></category>
		<category><![CDATA[wayang topeng]]></category>
		<category><![CDATA[wirabakti]]></category>
		<category><![CDATA[wiraga]]></category>
		<category><![CDATA[wirama]]></category>
		<category><![CDATA[wirasaning joged]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suarajogja.net/?p=31</guid>
		<description><![CDATA[Semenjak tahun 1958 beliau belajar tari topeng pada para tokoh tari yang terkenal, yaitu Bapak Sarmudi dan Bapak Tirtonoto. Dari kedua beliau itulah pada akhirnya Kari muda tertempa pengalamannya dan terbentuk ketrampilan olah tubuhnya, sehingga mampu menguasai berbagai bentuk tari topeng gaya Malangan.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di pelosok sebuah desa di Kabupaten Malang, sekelompok seniman asyik berlatih tari topeng dan menabuh gamelan. Sementara yang lain dengan tekun memahat dan mengukir kayu untuk dibuat topeng. Ketekunan yang dilandasi oleh semangat pengabdian dan kesetiaan pada tradisi topeng yang diwarisi dari nenek moyangnya, merupakan ciri khas perilaku berkesenian dari para seniman desa tersebut, seniman desa Jabung. Di antara mereka yang sedang berlatih tari, tampak seorang pria lanjut usia dengan penuh semangat melatih para penari usia muda, memberikan contoh ragam-ragam gerak tari topeng Malangan versi Jabung. Beliau itulah yang dikenal dengan nama Kari atau mbah Kari, pria yang dilahirkan 70 tahun yang lalu di desa Jabung, Malang. <span id="more-31"></span></p>
<p>Semenjak tahun 1958 beliau belajar tari topeng pada para tokoh tari yang terkenal, yaitu Bapak Sarmudi dan Bapak Tirtonoto. Dari kedua beliau itulah pada akhirnya Kari muda tertempa pengalamannya dan terbentuk ketrampilan olah tubuhnya, sehingga mampu menguasai berbagai bentuk tari topeng gaya Malangan. Untuk lebih mematangkan dalam penguasaan wiraga, wirama dan wirasaning joged, Kari juga belajar pada mbah Rasimun, seorang penari topeng dari desa Glagahdawa, Malang. Tidak mustahil kalau pada akhirnya beliau lebih dikenal memiliki peran “serabutan”, artinya tokoh apapun pada dasarnya mampu beliau kuasai dan diperankan. Ketika pada akhirnya sudah mampu menguasai tari topeng Malang, Kari kemudian bergabung dengan Paguyuban Wayang Topeng Wirabakti di desa Jabung. Semenjak itu pula beliau tidak pernah berhenti “naik pentas”, mulai dari pentas dari desa ke desa yang pada waktu itu biasa ditempuh dengan jalan kaki, sampai pada pentas di festival-festival seni pertunjukan tradisi di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya dan Yogyakarta.</p>
<h4>Dalam Pagelaran Sang Maestro (Desember, 2006) yang didokumentasikan oleh Jurusan Tari FSP ISI Yogyakarta bekerjasama dengan <a href="http://galerivideo.org">Galeri Video Foundation</a>, Mbah Kari menyajikan Topeng Malang Gunungsari Patrajaya.</h4>
<p><!-- PHP 5.x --></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suarajogja.net/2007/01/mbah-kari-sang-maestro/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

