<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Suara Jogja Online &#187; galeri video foundation</title>
	<atom:link href="http://suarajogja.net/tag/galeri-video-foundation/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://suarajogja.net</link>
	<description>Online Media, Citizen Journalism</description>
	<lastBuildDate>Sun, 23 Oct 2011 23:06:11 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Theresia Suharti, Sang Maestro Tari Klasik Gaya Yogyakarta</title>
		<link>http://suarajogja.net/2010/03/theresia-suharti-sang-maestro/</link>
		<comments>http://suarajogja.net/2010/03/theresia-suharti-sang-maestro/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Mar 2010 11:37:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agus Yuniarso</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seniman & Budayawan]]></category>
		<category><![CDATA[asti]]></category>
		<category><![CDATA[bangsal sri manganti]]></category>
		<category><![CDATA[banjarsari]]></category>
		<category><![CDATA[basoeki koeswaraga]]></category>
		<category><![CDATA[bedhaya partakrama]]></category>
		<category><![CDATA[bedhaya semang]]></category>
		<category><![CDATA[bray yudonegoro]]></category>
		<category><![CDATA[enoch atmadibrata]]></category>
		<category><![CDATA[galeri video foundation]]></category>
		<category><![CDATA[gaya yogyakarta]]></category>
		<category><![CDATA[gbph suryobrongto]]></category>
		<category><![CDATA[hadi sukatno]]></category>
		<category><![CDATA[hardho soebroto]]></category>
		<category><![CDATA[i gusti ayu kadek adri]]></category>
		<category><![CDATA[i gusti ngurah suparta]]></category>
		<category><![CDATA[i ketut sunaka]]></category>
		<category><![CDATA[isi yogyakarta]]></category>
		<category><![CDATA[java]]></category>
		<category><![CDATA[javanese]]></category>
		<category><![CDATA[jawa]]></category>
		<category><![CDATA[jaya mangkurejuno]]></category>
		<category><![CDATA[jogja]]></category>
		<category><![CDATA[jogjakarta]]></category>
		<category><![CDATA[joko suharjo]]></category>
		<category><![CDATA[jurnal seni]]></category>
		<category><![CDATA[jurusan tari isi]]></category>
		<category><![CDATA[kasultanan yogyakarta]]></category>
		<category><![CDATA[keraton]]></category>
		<category><![CDATA[kph natapraja]]></category>
		<category><![CDATA[krt madukusuma]]></category>
		<category><![CDATA[krt sasmintadipura]]></category>
		<category><![CDATA[lambangsari]]></category>
		<category><![CDATA[maestro]]></category>
		<category><![CDATA[modern dance]]></category>
		<category><![CDATA[ngaliman]]></category>
		<category><![CDATA[pasca sarjana ugm]]></category>
		<category><![CDATA[praptodiharjo]]></category>
		<category><![CDATA[pt koesoemokesowo]]></category>
		<category><![CDATA[pudjowijono]]></category>
		<category><![CDATA[rb soedarsono]]></category>
		<category><![CDATA[rl pustakamardawa]]></category>
		<category><![CDATA[sastrapustaka]]></category>
		<category><![CDATA[satro wiryono]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[sheryl cuttler]]></category>
		<category><![CDATA[soedarso pringgobroto]]></category>
		<category><![CDATA[sutarya]]></category>
		<category><![CDATA[tari golek]]></category>
		<category><![CDATA[tari klasik]]></category>
		<category><![CDATA[tari tradisional]]></category>
		<category><![CDATA[tembang]]></category>
		<category><![CDATA[theresia suharti]]></category>
		<category><![CDATA[wesleyan university]]></category>
		<category><![CDATA[yogya]]></category>
		<category><![CDATA[yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suarajogja.net/?p=24</guid>
		<description><![CDATA[Theresia Suharti adalah putri kedua dari seniman karawitan Sastrapustaka. Lahir di Yogyakarta 59 tahun yang lalu. Alumni Akademi Seni Tari Indonesia Yogyakarta ini adalah dosen senior di Jurusan Tari Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a title="Sang Maestro: Th. Suharti by Agus Yuniarso, on Flickr" href="http://www.flickr.com/photos/agusyr/2769760834/"><img src="http://farm4.static.flickr.com/3185/2769760834_9eb3de3c28.jpg" alt="Sang Maestro: Th. Suharti" width="640"  /></a></p>
<h4>Theresia Suharti bersama sejumlah seniman setelah menyajikan Tari Golek Lambangsari Gaya Yogyakarta dalam Pagelaran Sang Maestro (Desember, 2006) yang didokumentasikan oleh Jurusan Tari FSP ISI Yogyakarta bekerjasama dengan <a href="http://galerivideo.org">Galeri Video Foundation</a> Yogyakarta.</h4>
<p>Theresia Suharti adalah putri kedua dari seniman karawitan Sastrapustaka. Lahir di Yogyakarta 59 tahun yang lalu. Alumni Akademi Seni Tari Indonesia Yogyakarta ini adalah dosen senior di Jurusan Tari Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta. Sejak muda sudah jatuh cinta kepada dunia tari terlebih tari klasik gaya Yogyakarta. <span id="more-24"></span>Tercatat beberapa gurunya yang andil dalam mengajar tari antara lain Jaya Mangkurejuna, BRAY. Yudonegoro, KRT. Sasmintadipura, Soedarso Pringgobroto, dan GBPH Suryobrongto. Gaya tari dari berbagai daerah juga dipelajarinya antara lain belajar tari gaya Surakarta kepada Ibu Joko Suharjo, RT. Koesoemokesowo, dan S. Ngaliman. Enoch Atmadibrata dan Sutarya adalah gurunya tari gaya Sunda, sedangkan I Gusti Ngurah Suparta, I Gusti Ayu Kadek Adri dan I Ketut Sunaka adalah guru Suharti dalam bidang Tari Bali. Suharti tidak hanya belajar tari tardisional dari berbagai  gaya, tetapi juga pernah belajar Modern Dance kepada Sheryl Cuttler. Suharti juga belajar tembang Jawa antara lain kepada RL. Pustakamardawa, KRT. Madukusuma, KPH. Natapraja, Pudjowijono, Hadi Sukatno, C. Hardjo Soebroto, Satro Wiryono, Praptodiharjo, Banjaransari dan Basoeki Koeswaraga.</p>
<p>Theresia Suharti aktif berkarya tari, menari, menata busana dan juga piawai melantunkan tembang Jawa. Targetnya tidak hanya bisa menari, tetapi dia juga ingin melihat jagad tari dari berbagai dimensi, maka Ibu berputri empat dan bercucu tiga ini, melanjutkan kuliah di Pascasarjana UGM Yogyakarta Program Studi Sejarah dan lulus dengan nilai sangat memuaskan pada tahun 1990. Di samping mengajar di kampus, Suharti juga aktif melakukan penelitian, penggalian, menata tari, menari, dan juga menata busana baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Lawatannya ke luar negeri antara lain ke Filipina, Amerika, Jerman, Yugoslavia, Finlandia. Puluhan karya ilmiahnya menghiasi buku dan Jurnal Ilmiah Seni di berbagai terbitan.</p>
<p>Keuletan, kerja keras dan rasa cintanya kepada tari klasik gaya Yogyakarta dibuktikan dengan pengabdiannya sebagai pengajar tari di Keraton Kasultanan Yogyakarta sejak  tahun 1980, dan juga berhasil melakukan rekonstruksi Bedhaya Semang di Keraton Yogyakarta yang dipergelarkan pada tahun 2002. Di usianya yang hampir berkepala enam tak menghalanginya untuk tetap mengajar tari dan juga menari. Pada tahun 2003, istri dari RB. Soedarsono ini menari Golek Lambangsari di Wesleyan University, Connecticut, USA. Tarian yang sama juga ditarikan oleh Theresia Suharti di Bangsal Sri Manganti Keraton Yogyakarta pada tahun 2005. Di tahun 2004, bersama dengan para penagajar Jurusan Tari FSP ISI Yogyakarta ia menjadi salah satu penari Bedhaya Partakrama.</p>
<p>Aktivitasnya tiada henti, mengajar, meneliti, menulis, menjadi pembicara seminar, menjadi anggota redaksi Jurnal Seni. Semangat untuk selalu bergairah belajar dan belajar dibuktikannya dengan tercatatnya dia sebagai mahasiswa Program Pascasarjana S-3 di UGM Yogyakarta.<!-- PHP 5.x --></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suarajogja.net/2010/03/theresia-suharti-sang-maestro/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Candi, Tempat Pemakaman atau Pemujaan?</title>
		<link>http://suarajogja.net/2009/09/candi-sebagai-situs-purbakala/</link>
		<comments>http://suarajogja.net/2009/09/candi-sebagai-situs-purbakala/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Sep 2009 15:42:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agus Yuniarso</dc:creator>
				<category><![CDATA[Arkeologi]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[astronomi]]></category>
		<category><![CDATA[batu andesit]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[candi]]></category>
		<category><![CDATA[candika]]></category>
		<category><![CDATA[cinderamata]]></category>
		<category><![CDATA[durga]]></category>
		<category><![CDATA[galeri video foundation]]></category>
		<category><![CDATA[hindu]]></category>
		<category><![CDATA[kakawin]]></category>
		<category><![CDATA[kresnayana]]></category>
		<category><![CDATA[kunjarakarna]]></category>
		<category><![CDATA[lingga]]></category>
		<category><![CDATA[makrokosmos]]></category>
		<category><![CDATA[mikrokosmos]]></category>
		<category><![CDATA[mitologi]]></category>
		<category><![CDATA[pradaksina]]></category>
		<category><![CDATA[purbakala]]></category>
		<category><![CDATA[ramayana]]></category>
		<category><![CDATA[relief]]></category>
		<category><![CDATA[stupa]]></category>
		<category><![CDATA[temple]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suarajogja.net/?p=43</guid>
		<description><![CDATA[Bagi masyarakat Jawa, istilah candi dipergunakan untuk memberi istilah pada bangunan peninggalan sejarah dari jaman Hindu dan Buddha di Jawa. Istilah candi berasal dari kata Candika, yaitu salah satu nama untuk Durga sebagai Dewi Kematian. Oleh karenanya, sering muncul anggapan bahwa candi selalu berkaitan dengan kematian.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bagi masyarakat Jawa, istilah candi dipergunakan untuk memberi istilah pada bangunan peninggalan sejarah dari jaman Hindu dan Buddha di Jawa. Istilah candi berasal dari kata Candika, yaitu salah satu nama untuk Durga sebagai Dewi Kematian. Oleh karenanya, sering muncul anggapan bahwa candi selalu berkaitan dengan kematian. Memang, berdasarkan catatan arkeologi, candi pada umumnya dibangun sebagai tempat pemakaman atau penyimpanan abu jenasah seorang raja atau tokoh tertentu. Namun tidak semua yang disebut candi merupakan tempat pemakaman. Fungsi sebagai tempat pemujaan jauh lebih menonjol dan menjadi karakteristik khas dari setiap bangunan candi.</p>
<p><span id="more-43"></span>Dari sisi kosmologi, candi-candi selalu dibangun berdasarkan kepercayaan tentang keselarasan antara jagad raya sebagai makrokosmos dengan dunia manusia sebagai mikrokosmos. Kehidupan manusia senantiasa dipengaruhi oleh tenaga-tenaga yang bersumber dari kekuatan alam di lingkungannya. Apa yang akan terjadi, tergantung dari kemampuan manusia dalam menyiasati keselarasan hidup mereka dengan jagad raya. Pembangunan candi juga mempertimbangkan segi mitologi, astronomi serta mengacu pada kekuatan spiritual sesuai dengan fungsinya sebagai tempat pemujaan.</p>
<p>Sebagai sebuah bangunan, secara vertikal candi terdiri dari 3 bagian, yaitu : bagian kaki, tubuh dan atap candi. Bagian kaki yang menjadi pondasi candi umumnya berbentuk persegi. Pada satu atau beberapa sisinya, terdapat tangga yang dipergunakan untuk mencapai bagian yang lebih tinggi. Pada bagian tengah pondasi inilah terkadang dijumpai lubang yang berfungsi untuk menyimpan abu jenasah raja. Diatas lubang ditempatkan patung dewa yang dianggap menjelma ke dalam tubuh sang raja.</p>
<p>Bagian tubuh candi umumnya berbentuk bilik dengan ukuran yang lebih kecil dari bagian kaki, sehingga masih terdapat ruang yang terbuka di sisi luarnya. Pada bagian ini seseorang bisa berjalan mengelilingi candi, yang dikenal dengan istilah Pradaksina. Bagian atas candi berupa atap yang menutup tubuh atau bilik candi. Bentuknya menyerupai gunung yang bertangga-tangga, menyerupai mahkota, lingga atau stupa. Dari sisi bentuk, candi-candi di Jawa Tengah umumnya lebih ramping dibanding candi-candi di Jawa Timur yang usianya lebih muda.  Secara horizontal, lingkungan suatu candi biasanya terbagi menjadi beberapa bagian halaman, yaitu : halaman pertama di bagian pusat atau jeroan, halaman kedua di sisi luarnya yang disebut tengahan, serta halaman paling luar atau disebut njaba.</p>
<p>Candi-candi di Jawa Tengah umumnya terbuat dari batu andesit yang biasa terdapat di sekitar gunung berapi. Bahan-bahan lain seperti batu putih hanya dipergunakan sebagai pelengkap, semisal sebagai pagar keliling candi. Batu-batu ini disusun tanpa adonan spesi, kecuali pada bagian tertentu di sisi luar. Setelah bentuknya tersusun, barulah hiasan-hiasan dipahatkan pada permukaaannya yang rata. Gambar-gambar yang menjadi hiasan atau relief candi berasal dari kisah-kisah dalam kakawin, seperti Ramayana, Kresnayana, Kunjarakarna, dan sebagainya. Atau dalam bentuk dewa-dewa, pohon surga, bunga teratai, ornamen spiral, atau bentuk makhluk tertentu. Ragam hias pada candi-candi di Jawa Tengah, biasanya lebih naturalistis dibanding candi-candi di Jawa Timur.</p>
<p>Pada saat ditemukan, sebagian besar candi berada dalam kondisi rusak berat. Bebatuan yang menjadi inti bangunannya berserakan di sejumlah tempat, terkadang hingga jauh dari tempatnya semula. Bahkan sebagian dari bebatuan candi yang bernilai sejarah itu telah berubah fungsi, seperti menjadi tanggul atau pondasi rumah penduduk yang bermukim di sekitarnya.</p>
<p>Banyak alasan yang biasanya dikemukakan untuk menjelaskan kerusakan candi-candi di masa lampau.  Diantaranya adalah munculnya bencana alam yang sangat dahsyat, seperti banjir, gempa bumi atau letusan gunung berapi. Peperangan dan perebutan kekuasaan juga ditengarai menjadi penyebab kerusakan itu. Dalam setiap peperangan, pusat-pusat pemerintahan kerajaan umumnya menjadi target untuk dibumihanguskan. Candi sebagai bangunan suci pun tak luput dari pengrusakan dan penghancuran selama perang berlangsung.</p>
<h4><strong>Sumber</strong>: <a href="http://www.facebook.com/agus.yuniarso">Agus Yuniarso</a> / “Cinderamata 250 Tahun Kota Yogyakarta 1756-2006, Transkrip Naskah 15 Video Dokumenter Budaya Seputar Kota Yogyakarta” (Yogyakarta: <a href="http://galerivideo.org">Galeri Video Foundation</a>, 2006)</h4>
<p><!-- PHP 5.x --></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suarajogja.net/2009/09/candi-sebagai-situs-purbakala/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>5 Tari Tradisi oleh 5 Maestro Tari Indonesia</title>
		<link>http://suarajogja.net/2007/02/video-5-maestro-tari-indonesia/</link>
		<comments>http://suarajogja.net/2007/02/video-5-maestro-tari-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Feb 2007 15:36:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agus Yuniarso</dc:creator>
				<category><![CDATA[Produk Seni Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[beksan bandabaya]]></category>
		<category><![CDATA[cirebon]]></category>
		<category><![CDATA[condropangrawit]]></category>
		<category><![CDATA[due-like batch iv]]></category>
		<category><![CDATA[empu]]></category>
		<category><![CDATA[galeri video foundation]]></category>
		<category><![CDATA[gambyong gambirsawit]]></category>
		<category><![CDATA[gaya blangsinga]]></category>
		<category><![CDATA[gendhing lambangsari]]></category>
		<category><![CDATA[gianyar]]></category>
		<category><![CDATA[golek lambangsari]]></category>
		<category><![CDATA[gunungsari partajaya]]></category>
		<category><![CDATA[i mario]]></category>
		<category><![CDATA[ida bagus blangsinga]]></category>
		<category><![CDATA[ida bagus oka wirjana]]></category>
		<category><![CDATA[jabung]]></category>
		<category><![CDATA[java]]></category>
		<category><![CDATA[javanese]]></category>
		<category><![CDATA[jawa]]></category>
		<category><![CDATA[jogja]]></category>
		<category><![CDATA[jogjakarta]]></category>
		<category><![CDATA[jurusan tari isi]]></category>
		<category><![CDATA[kadipaten pakualaman]]></category>
		<category><![CDATA[kalianyar]]></category>
		<category><![CDATA[kebyar duduk]]></category>
		<category><![CDATA[kediri]]></category>
		<category><![CDATA[kekebyaran]]></category>
		<category><![CDATA[kelana rahwana]]></category>
		<category><![CDATA[kelana topeng]]></category>
		<category><![CDATA[koreografi]]></category>
		<category><![CDATA[krt purbaningrat]]></category>
		<category><![CDATA[krt sasmintadipura]]></category>
		<category><![CDATA[ledhek]]></category>
		<category><![CDATA[mbah kari]]></category>
		<category><![CDATA[mimi sutini]]></category>
		<category><![CDATA[ngaliman]]></category>
		<category><![CDATA[ngayogyakarta hadiningrat]]></category>
		<category><![CDATA[pagelaran]]></category>
		<category><![CDATA[panji]]></category>
		<category><![CDATA[pasca sarjana isi]]></category>
		<category><![CDATA[patrajaya]]></category>
		<category><![CDATA[pendopo]]></category>
		<category><![CDATA[priangan]]></category>
		<category><![CDATA[puro pakualaman]]></category>
		<category><![CDATA[raden gunungsari]]></category>
		<category><![CDATA[selangit]]></category>
		<category><![CDATA[setya jalma setyaning aksara]]></category>
		<category><![CDATA[sewatama]]></category>
		<category><![CDATA[sultan hamengku buwono viii]]></category>
		<category><![CDATA[tari tradisi]]></category>
		<category><![CDATA[tayub]]></category>
		<category><![CDATA[theodora retna maruti]]></category>
		<category><![CDATA[theresia suharti]]></category>
		<category><![CDATA[topeng malang]]></category>
		<category><![CDATA[video dokumenter]]></category>
		<category><![CDATA[videografi]]></category>
		<category><![CDATA[yogya]]></category>
		<category><![CDATA[yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suarajogja.net/?p=27</guid>
		<description><![CDATA[Bulan Desember 2006, untuk kesekian kalinya Galeri Video Foundation bekerjasama dengan Jurusan Tari Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta mendokumentasikan tari tradisi dalam format videografi. Kali ini dalam sebuah pagelaran yang menampilkan 5 orang maestro tari tradisi Indonesia.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bulan Desember 2006, untuk kesekian kalinya <a href="http://galerivideo.org">Galeri Video Foundation</a> bekerjasama dengan Jurusan Tari Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta mendokumentasikan tari tradisi dalam format videografi. Kali ini dalam sebuah pagelaran yang menampilkan 5 orang maestro tari tradisi Indonesia. Kelima maestro tersebut adalah : Theresia Suharti (59 tahun, Yogyakarta), Theodora Retna Maruti (59 tahun, Jakarta / Surakarta), Mimi Sutini (65 tahun, Cirebon),  Ida Bagus Blangsinga (78 tahun, Gianyar Bali ) dan Mbah Kari (72 tahun, Malang). <span id="more-27"></span></p>
<p>Pagelaran yang bertajuk “Sang Maestro – Ekspresi Plural Tari Tradisi Indonesia” ini diselenggarakan pada tanggal 20-21 Desember 2006 di Pendapa Sewatama Puro Pakualaman Yogyakarta. Pagelaran ini merupakan salah satu Program DUE-Like Batch IV Program Studi Seni Tari, Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta, yang diselenggarakan bekerjasama dengan Kadipaten Pakualaman Ngayogyakartahadiningrat, Unit Jasa dan Industri (UJI) Tari LPM ISI Yogyakarta serta Program Pasca Sarjana ISI Yogyakarta.</p>
<p>5 sajian tari yang ditampilkan oleh para maestro ini adalah : Golek Lambangsari (Gaya Yogyakarta), Gambyong Gambirsawit (Gaya Surakarta), Kelana Rahwana (Gaya Kalianyar Cirebon), Kebyar Duduk (Gaya Blangsinga Gianyar) dan Topeng Malang Gunungsari Patrajaya. Sebelumnya, ditampilkan sebuah drama tari persembahan HMJ Tari dan Alumni Mahasiswa Jurusan Tari FSP ISI Yogyakarta berjudul “ Setya Jalma Setyaning Aksara “ serta sebuah sajian tari dengan Gaya Pakualaman Yogyakarta, Beksan Bandabaya.</p>
<h4>Catatan : Video dokumenter pagelaran ini sementara tidak dipublikasikan dan didokumentasikan untuk kepentingan internal Jurusan Tari FSP ISI Yogyakarta dan <a href="http://galerivideo.org">Galeri Video Foundation</a>.</h4>
<p><strong>Golek Lambangsari ( </strong><strong>Gaya</strong><strong> </strong><strong>Yogyakarta</strong><strong> )</strong><br />
Penari : <a href="http://suarajogja.net/?p=24">Theresia Suharti, SST., M.Hum</a>. (59 tahun)</p>
<p>Tari Golek Lambangsari merupakan koreografi tari tunggal putri yang pada awalnya disusun oleh seorang empu tari pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono VIII, yaitu KRT. Purbaningrat. Untuk selanjutnya koreografi itu ditata ulang oleh KRT. Sasmintadipura, salah seorang maestro tari gaya Yogyakarta. Tari golek ini menggambarkan seorang gadis Jawa yang masih remaja sedang bersolek diri. Dengan segala keluwesan gerak tubuhnya, ia mematut-matut busananya, merias wajah cantiknya dan mengenakan perhiasan untuk memperindah penampilannya. Ekspresinya yang ceria dan keluwesan gerak  tubuhnya diungkapkan melalui kelembutan dinamika gerak tari Jawa yang terstruktur secara ketat dalam bingkai gendhing Lambangsari.</p>
<p><strong>Gambyong Gambirsawit ( </strong><strong>Gaya</strong><strong> </strong><strong>Surakarta</strong><strong>)</strong><br />
Penari : Theodora Retna Maruti (59 tahun)</p>
<p>Tari Gambyong Gambirsawit ini merupakan koreografi tari tunggal putri yang disusun oleh seorang maestro tari Jawa gaya Surakarta, S. Ngaliman Condropangrawit. Koreografi gambyong ini bersumber pada tarian yang lazim disajikan oleh para ledhek sebagai tarian awal pada pertunjukan Tayub. Koreografi Gambyong Gambirsawit ini lebih menampakkan sebuah tataan tari Jawa dengan struktur yang ketat dan mapan. Merupakan bentuk penggambaran seorang putri Jawa yang sedang berhias diri. Dengan segala keluwesan gerak tubuh, mematut-matut busana dan merias wajah cantiknya. Ekspresi tari ini tampak begitu dinamis, <em>kenes</em> tetapi tetap dalam bingkai kelembutan tari Jawa.</p>
<p><strong>Kelana Rahwana (</strong><strong>Gaya</strong><strong> Kalianyar, </strong><strong>Cirebon</strong><strong>)</strong><br />
Penari : <a href="http://suarajogja.net/?p=38">Mimi Sutini</a> (65 tahun)</p>
<p>Tari Kelana Topeng ini merupakan tarian yang khas gaya Kalianyar, Cirebon. Dalam beberapa bagian dari koreografi tari ini, tampak adanya pengaruh dari topeng gaya Selangit, Cirebon yang berpadu dengan gerak-gerak tari yang khas gaya Priangan. Tari topeng Kelana Rahwana ini menggambarkan seorang raja angkara murka, yang serakah dan tidak dapat mengendalikan hawa nafsunya. Ekspresi yang tertuang lewat gerak tari yang keras dengan aksentuasi tajam, tidak berarti tidak memiliki sentuhan kelembutan. Permainan keras-lembut ini pada akhirnya menghadirkan suatu dinamika dalam sajian pertunjukan ini.</p>
<p><strong>Kebyar Duduk (</strong><strong>Gaya</strong><strong> Blasinga, Gianyar)</strong><br />
Penari : <a href="http://suarajogja.net/?p=35">Ida Bagus Oka Wirjana</a> (<a href="http://suarajogja.net/?p=35">Ida Bagus Blangsinga</a>, 78 tahun)</p>
<p>Dalam tradisi tari Bali, tari Kebyar Duduk merupakan tari ciptaan baru yang disusun oleh I Mario, seorang maestro tari kebyar generasi pertama, pada tahun 1925. Tari ini merupakan salah satu bentuk tari yang masuk dalam kategori genre tari kekebyaran. Selanjutnya koreografi tari ini “disempurnakan” oleh Ida Bagus Oka Wirjana (Ida Bagus Blangsinga), sehingga dalam sajiannya memiliki  gaya yang sangat spesifik, yang terkenal dengan sebutan “Kebyar Duduk gaya Blangsinga”. Koreografi ini menggambarkan ketrampilan, ketangkasan dan kepiawaian seorang pemuda di dalam berolah tubuh, berolah gerak, merespon dinamika permainan musik iringan tarinya.</p>
<p><strong>Topeng </strong><strong>Malang</strong><strong> Gunungsari Patrajaya</strong><br />
Penari Gunungsari : <a href="http://suarajogja.net/?p=31">Mbah Kari</a> (70 tahun), Penari Patrajaya : Samadi</p>
<p>Tari Topeng Gunungsari-Patrajaya merupakan tari yang tersebar luas dan dikenal di berbagai wilayah budaya Jawa. Pada pagelaran tari kali ini akan disajikan tari topeng Gunungsari-Patrajaya versi Jabung, Malang. Sumber materi dramatik yang digunakan sebagai titik pijak dalam garapan tari ini adalah cerita Panji. Dalam tari ini dikisahkan Raden Gunungsari, putra mahkota kerajaan Kediri, sedang bercanda dengan abdinya yang bernama Patrajaya. Kemudian Raden Gunungsari mempersiapkan diri, berbusana untuk menghadap raja, dan selanjutnya menuju ke medan laga.</p>
<h4>Sumber : Booklet Pagelaran Sang Maestro “ Ekspresi Plural Tari Tradisi Indonesia”, tanggal 20-21 Desember 2006 di Pendopo Sewatama Pura Pakualaman Yogyakarta. Diterbitkan oleh Jurusan Tari FSP ISI Yogyakarta, 2006.</h4>
<p><!-- PHP 5.x --></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suarajogja.net/2007/02/video-5-maestro-tari-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ida Bagus Blangsinga, Sang Maestro Tari Bali</title>
		<link>http://suarajogja.net/2007/01/ida-bagus-blangsinga-sang-maestro/</link>
		<comments>http://suarajogja.net/2007/01/ida-bagus-blangsinga-sang-maestro/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Jan 2007 16:14:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agus Yuniarso</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seniman & Budayawan]]></category>
		<category><![CDATA[anak agung gede]]></category>
		<category><![CDATA[belanda]]></category>
		<category><![CDATA[blangsinga]]></category>
		<category><![CDATA[Chekoslovakia]]></category>
		<category><![CDATA[cina]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta Manik]]></category>
		<category><![CDATA[cokorde oka]]></category>
		<category><![CDATA[dewan kesenian jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[dharma kesuma madia]]></category>
		<category><![CDATA[galeri video foundation]]></category>
		<category><![CDATA[geriya]]></category>
		<category><![CDATA[Hawai]]></category>
		<category><![CDATA[Hongkong]]></category>
		<category><![CDATA[ida ayu mahyuni]]></category>
		<category><![CDATA[ida ayu tirtawati]]></category>
		<category><![CDATA[ida bagus kompyang]]></category>
		<category><![CDATA[ida bagus oka wirjana]]></category>
		<category><![CDATA[India]]></category>
		<category><![CDATA[istana negara]]></category>
		<category><![CDATA[jurusan tari isi]]></category>
		<category><![CDATA[kebyar duduk]]></category>
		<category><![CDATA[keredek]]></category>
		<category><![CDATA[maestro]]></category>
		<category><![CDATA[mariya]]></category>
		<category><![CDATA[nara jepang]]></category>
		<category><![CDATA[Osaka]]></category>
		<category><![CDATA[Pakistan]]></category>
		<category><![CDATA[Rombongan Bhinneka Tunggal Ika]]></category>
		<category><![CDATA[saporo]]></category>
		<category><![CDATA[Sekhe Gong Belaluan]]></category>
		<category><![CDATA[Sekhe Gong Dusun Sibang]]></category>
		<category><![CDATA[Sekhe Gong Sanur]]></category>
		<category><![CDATA[Seri Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Singapura]]></category>
		<category><![CDATA[sultan hamengku buwono ix]]></category>
		<category><![CDATA[Swedia]]></category>
		<category><![CDATA[tari bali]]></category>
		<category><![CDATA[Tokyo]]></category>
		<category><![CDATA[wija kesuma]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suarajogja.net/?p=35</guid>
		<description><![CDATA[Namanya adalah Ida Bagus Oka Wirjana, lahir di Blangsinga 77 tahun yang lalu. Sejak kecil belajar menari pada pamannya sendiri yaitu Ida Bagus Kompyang. Semasa kecil dia melihat Bapak Mariya menari Kebyar Duduk, di Tabanan. Sejak itu dia terdorong untuk mempelajari tarian tersebut.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a title="Sang Maestro: Ida Bagus Blangsinga (2) by Agus Yuniarso, on Flickr" href="http://www.flickr.com/photos/agusyr/2768907839/"><img src="http://farm4.static.flickr.com/3132/2768907839_9762a5fe6f.jpg" alt="Sang Maestro: Ida Bagus Blangsinga (2)" width="500" height="375" /></a></p>
<p>Namanya adalah Ida Bagus Oka Wirjana, lahir di Blangsinga 77 tahun yang lalu. Sejak kecil belajar menari pada pamannya sendiri yaitu Ida Bagus Kompyang. Semasa kecil dia melihat Bapak Mariya menari Kebyar Duduk, di Tabanan. Sejak itu dia terdorong untuk mempelajari tarian tersebut. <span id="more-35"></span>Beberapa gurunya antara lain, Anak Agung Gede, Cokorde Oka, Geriya, dan Keredek. Kemampuan tarinya membuat namanya dikenal dan mendapat julukan Ida Bagus Blangsinga. Kepiawaiannya menari terbukti dengan sering diundangnya dia menari di Istana Negara untuk menghibur tamu-tamu negara. Tak hanya unjuk kebolehan di dalam negeri tetapi di luar negeripun pernah dikelilinginya antara lain ke Pakistan, Belanda, Cina, India, Chekoslovakia, Singapura, Tokyo, Osaka, Hongkong, Swedia dan Hawai.</p>
<p>Pengabdian dan kesetiannya di dunia tari membuahkan hasil yang gemilang. Ida Bagus Blangsinga selalu terpilih dalam berbagai lawatan baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Beberapa grup kesenian mengajaknya bergabung antara lain rombongan kesenian Cinta Manik, Seri Budaya, Sekhe Gong Belaluan, Sekhe Gong Dusun Sibang, Rombongan Bhinneka Tunggal Ika dan juga Sekhe Gong Sanur. Ayah dari Ida Ayu Mahyuni dan Ida Ayu Tirtawati ini juga memiliki relasi yang luas, tak hanya terbatas dari kalangan seniman Bali saja namun juga dari lingkungan militer, Menteri, pendidik bahkan juga Sultan HB IX almarhum pernah mengajak melawat ke luar negeri. Penghargaan yang pernah diterimanya antara lain, penghargaan dari Panglima Daerah Angkatan Kepolisian XVI Nusa Tenggara Barat, Komandan Operasi 17 Agustus di Sumatera, penghargaan Nara Jepang, penghargaan Wija Kesuma dari Gianyar, penghargaan Dharma Kesuma Madia Gubernur Bali, penghargaan Gubernur Saporo Jepang, penghargaan dari Dewan Kesenian Jakarta, dan penghargaan tertinggi Dharma Kesuma dari Gubernur Bali.</p>
<h4>Dalam Pagelaran Sang Maestro (Desember, 2006) yang didokumentasikan oleh Jurusan Tari FSP ISI Yogyakarta bekerjasama dengan <a href="http://galerivideo.org">Galeri Video Foundation</a>, Ida Bagus Blangsinga  menyajikan Tari Kebyar Duduk Gaya Blangsinga, Gianyar, Bali.</h4>
<p><!-- PHP 5.x --></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suarajogja.net/2007/01/ida-bagus-blangsinga-sang-maestro/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mimi Sutini, Sang Maestro Tari Topeng Cirebon</title>
		<link>http://suarajogja.net/2007/01/mimi-sutini-sang-maestro/</link>
		<comments>http://suarajogja.net/2007/01/mimi-sutini-sang-maestro/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Jan 2007 16:30:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agus Yuniarso</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seniman & Budayawan]]></category>
		<category><![CDATA[cirebon]]></category>
		<category><![CDATA[dalang topeng]]></category>
		<category><![CDATA[galeri video foundation]]></category>
		<category><![CDATA[gamelan]]></category>
		<category><![CDATA[gaya kalianyar]]></category>
		<category><![CDATA[indramayu]]></category>
		<category><![CDATA[jurusan tari isi]]></category>
		<category><![CDATA[kelana rahwana]]></category>
		<category><![CDATA[maestro]]></category>
		<category><![CDATA[majalengka]]></category>
		<category><![CDATA[mimi sutini]]></category>
		<category><![CDATA[nopeng]]></category>
		<category><![CDATA[penari umbul]]></category>
		<category><![CDATA[rudat]]></category>
		<category><![CDATA[sinden]]></category>
		<category><![CDATA[tayub]]></category>
		<category><![CDATA[topeng]]></category>
		<category><![CDATA[wayang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suarajogja.net/?p=38</guid>
		<description><![CDATA[Mimi Sutini bersama sejumlah seniman Jogja setelah menyajikan Tari Kelana Rahwana Gaya Kalianyar Cirebon dalam Pagelaran Sang Maestro (Desember, 2006) yang didokumentasikan oleh Jurusan Tari FSP ISI Yogyakarta bekerjasama dengan Galeri Video Foundation.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a title="Sang Maestro: Mimi Sutini by Agus Yuniarso, on Flickr" href="http://www.flickr.com/photos/agusyr/2769747588/"><img src="http://farm4.static.flickr.com/3239/2769747588_3bedabe705.jpg" alt="Sang Maestro: Mimi Sutini" width="500" height="375" /></a></p>
<h4>Mimi Sutini bersama sejumlah seniman Jogja setelah menyajikan Tari Kelana Rahwana Gaya Kalianyar Cirebon dalam Pagelaran Sang Maestro (Desember, 2006) yang didokumentasikan oleh Jurusan Tari FSP ISI Yogyakarta bekerjasama dengan <a href="http://galerivideo.org">Galeri Video Foundation</a>.</h4>
<p>Mimi Sutini lahir di Kalianyar Cirebon pada bulan Desember 1939. Darah seni mengalir dalam dirinya dari nenek dan ibunya yaitu sebagai dalang topeng. Bahkan nenek buyutnya adalah seorang penari umbul yaitu jenis kesenian Rudat yang dibawakan oleh perempuan. <span id="more-38"></span>Ketertarikannya belajar topeng atau nopeng sudah ditekuninya sejak kecil. Tarian dan suara gamelan menjadi santapan sehari-harinya sejak masa kanak-kanak. Bermacam karakter topeng yang paling disukai adalah karakter topeng Rahwana. Sutini selain menari topeng juga menekuni jenis kesenian tayub dan juga piawai sebagai Sinden wayang. Dari kemampuannya itu Sutini sering ditanggap masyarakat yang membutuhkan. Daerah Indramayu, Cirebon dan Majalengka adalah daerah dimana Sutini menunjukkan kemampuan bakat seninya yang juga  adalah pilihan hidupnya.<!-- PHP 5.x --></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suarajogja.net/2007/01/mimi-sutini-sang-maestro/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mbah Kari, Sang Maestro Tari Topeng Malang</title>
		<link>http://suarajogja.net/2007/01/mbah-kari-sang-maestro/</link>
		<comments>http://suarajogja.net/2007/01/mbah-kari-sang-maestro/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Jan 2007 16:09:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agus Yuniarso</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seniman & Budayawan]]></category>
		<category><![CDATA[1958]]></category>
		<category><![CDATA[galeri video foundation]]></category>
		<category><![CDATA[gamelan]]></category>
		<category><![CDATA[glagahdawa]]></category>
		<category><![CDATA[gunungsari]]></category>
		<category><![CDATA[jabung]]></category>
		<category><![CDATA[jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[jurusan tari isi]]></category>
		<category><![CDATA[maestro]]></category>
		<category><![CDATA[mbah kari]]></category>
		<category><![CDATA[mbah rasimun]]></category>
		<category><![CDATA[partajaya]]></category>
		<category><![CDATA[sarmudi]]></category>
		<category><![CDATA[surabaya]]></category>
		<category><![CDATA[tari topeng malang]]></category>
		<category><![CDATA[tirtonoto]]></category>
		<category><![CDATA[topeng malangan]]></category>
		<category><![CDATA[wayang topeng]]></category>
		<category><![CDATA[wirabakti]]></category>
		<category><![CDATA[wiraga]]></category>
		<category><![CDATA[wirama]]></category>
		<category><![CDATA[wirasaning joged]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suarajogja.net/?p=31</guid>
		<description><![CDATA[Semenjak tahun 1958 beliau belajar tari topeng pada para tokoh tari yang terkenal, yaitu Bapak Sarmudi dan Bapak Tirtonoto. Dari kedua beliau itulah pada akhirnya Kari muda tertempa pengalamannya dan terbentuk ketrampilan olah tubuhnya, sehingga mampu menguasai berbagai bentuk tari topeng gaya Malangan.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di pelosok sebuah desa di Kabupaten Malang, sekelompok seniman asyik berlatih tari topeng dan menabuh gamelan. Sementara yang lain dengan tekun memahat dan mengukir kayu untuk dibuat topeng. Ketekunan yang dilandasi oleh semangat pengabdian dan kesetiaan pada tradisi topeng yang diwarisi dari nenek moyangnya, merupakan ciri khas perilaku berkesenian dari para seniman desa tersebut, seniman desa Jabung. Di antara mereka yang sedang berlatih tari, tampak seorang pria lanjut usia dengan penuh semangat melatih para penari usia muda, memberikan contoh ragam-ragam gerak tari topeng Malangan versi Jabung. Beliau itulah yang dikenal dengan nama Kari atau mbah Kari, pria yang dilahirkan 70 tahun yang lalu di desa Jabung, Malang. <span id="more-31"></span></p>
<p>Semenjak tahun 1958 beliau belajar tari topeng pada para tokoh tari yang terkenal, yaitu Bapak Sarmudi dan Bapak Tirtonoto. Dari kedua beliau itulah pada akhirnya Kari muda tertempa pengalamannya dan terbentuk ketrampilan olah tubuhnya, sehingga mampu menguasai berbagai bentuk tari topeng gaya Malangan. Untuk lebih mematangkan dalam penguasaan wiraga, wirama dan wirasaning joged, Kari juga belajar pada mbah Rasimun, seorang penari topeng dari desa Glagahdawa, Malang. Tidak mustahil kalau pada akhirnya beliau lebih dikenal memiliki peran “serabutan”, artinya tokoh apapun pada dasarnya mampu beliau kuasai dan diperankan. Ketika pada akhirnya sudah mampu menguasai tari topeng Malang, Kari kemudian bergabung dengan Paguyuban Wayang Topeng Wirabakti di desa Jabung. Semenjak itu pula beliau tidak pernah berhenti “naik pentas”, mulai dari pentas dari desa ke desa yang pada waktu itu biasa ditempuh dengan jalan kaki, sampai pada pentas di festival-festival seni pertunjukan tradisi di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya dan Yogyakarta.</p>
<h4>Dalam Pagelaran Sang Maestro (Desember, 2006) yang didokumentasikan oleh Jurusan Tari FSP ISI Yogyakarta bekerjasama dengan <a href="http://galerivideo.org">Galeri Video Foundation</a>, Mbah Kari menyajikan Topeng Malang Gunungsari Patrajaya.</h4>
<p><!-- PHP 5.x --></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suarajogja.net/2007/01/mbah-kari-sang-maestro/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

