<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Suara Jogja Online &#187; candi</title>
	<atom:link href="http://suarajogja.net/tag/candi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://suarajogja.net</link>
	<description>Online Media, Citizen Journalism</description>
	<lastBuildDate>Mon, 16 Apr 2012 23:48:43 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Tentang Dinasti Mataram Kuno</title>
		<link>http://suarajogja.net/2009/09/tentang-dinasti-mataram-kuno/</link>
		<comments>http://suarajogja.net/2009/09/tentang-dinasti-mataram-kuno/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Sep 2009 16:02:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agus Yuniarso</dc:creator>
				<category><![CDATA[Arkeologi]]></category>
		<category><![CDATA[agus yuniarso]]></category>
		<category><![CDATA[balitung]]></category>
		<category><![CDATA[bodhisatwa]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[candi]]></category>
		<category><![CDATA[canggal]]></category>
		<category><![CDATA[cinderamata]]></category>
		<category><![CDATA[daksa]]></category>
		<category><![CDATA[dinasti]]></category>
		<category><![CDATA[dokumenter]]></category>
		<category><![CDATA[empu]]></category>
		<category><![CDATA[galeri video]]></category>
		<category><![CDATA[garung]]></category>
		<category><![CDATA[gunung wukur]]></category>
		<category><![CDATA[hindu]]></category>
		<category><![CDATA[humalang]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[java]]></category>
		<category><![CDATA[javanese]]></category>
		<category><![CDATA[jawa]]></category>
		<category><![CDATA[jawa tengah]]></category>
		<category><![CDATA[jawa timur]]></category>
		<category><![CDATA[jogja]]></category>
		<category><![CDATA[jogjakarta]]></category>
		<category><![CDATA[kalasan]]></category>
		<category><![CDATA[kayuwangi]]></category>
		<category><![CDATA[kotagede]]></category>
		<category><![CDATA[lingga]]></category>
		<category><![CDATA[magelang]]></category>
		<category><![CDATA[mahayana]]></category>
		<category><![CDATA[mantiasih]]></category>
		<category><![CDATA[mataram]]></category>
		<category><![CDATA[medang bhumi mataram]]></category>
		<category><![CDATA[nandi]]></category>
		<category><![CDATA[panangkaran]]></category>
		<category><![CDATA[pancapana]]></category>
		<category><![CDATA[panembahan senopati]]></category>
		<category><![CDATA[panunggalan]]></category>
		<category><![CDATA[pikatan]]></category>
		<category><![CDATA[rakai]]></category>
		<category><![CDATA[salam]]></category>
		<category><![CDATA[sanjaya]]></category>
		<category><![CDATA[sendok]]></category>
		<category><![CDATA[siwa]]></category>
		<category><![CDATA[temple]]></category>
		<category><![CDATA[tulodong]]></category>
		<category><![CDATA[warak]]></category>
		<category><![CDATA[wawa]]></category>
		<category><![CDATA[yogya]]></category>
		<category><![CDATA[yogyakarta]]></category>
		<category><![CDATA[yoni]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suarajogja.net/?p=47</guid>
		<description><![CDATA[Candi Gunung Wukir juga sering disebut Candi Canggal sesuai nama dusun dimana candi ini berada, di wilayah Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang. Situs bernuansa Hindu yang terletak di puncak bukit ini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Candi Gunung Wukir juga sering disebut Candi Canggal sesuai nama dusun dimana candi ini berada, di wilayah Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang. Situs bernuansa Hindu yang terletak di puncak bukit ini menjadi istimewa karena disinilah ditemukan Prasasti Canggal, prasasti tertua yang bisa sedikit menjelaskan peradaban Mataram Kuno.</p>
<p><span id="more-47"></span>Prasasti Canggal ditulis sekitar tahun 732 Masehi oleh Raja Sanjaya yang mendirikan candi ini sebagai tempat suci untuk memuja Dewa Siwa. Bukti pemujaan kepada Dewa Siwa dapat ditengarai dari adanya bentuk lingga, yoni dan arca Nandi. Pendirian candi sebagai tempat suci ini dapat dianggap sebagai tanda pendirian sebuah kerajaan. Dalam prasasti-prasasti yang ditemukan sesudah Prasasti Canggal, nama Sanjaya sebagai pendiri kerajaan ini lebih sering disebut sebagai Rakai Mataram, sesuai nama wilayah yang diperintahnya. Pada mulanya, Mataram adalah wilayah kecil yang diperintah oleh Sanjaya, yang kemudian dijadikan nama kerajaan yang didirikannya. Pusat pemerintahannya ada di Medang Bhumi Mataram. Dimana tempat ini sekarang, tidak dapat diketahui dengan pasti.</p>
<p>Raja Sanjaya atau Rakai Mataram kemudian digantikan oleh Pancapana yang bergelar Rakai Panangkaran. Nama ini tersebut dalam sebuah prasasti berangka tahun 778 Masehi yang ditemukan di dekat Candi  Kalasan. Meski beragama Hindu, Rakai Panangkaran memenuhi permintaan guru-gurunya untuk membangun tempat suci bagi para pendeta Buddha di wilayah kekuasaannya. tempat suci itu kemudian dikenal sebagai Candi Kalasan, yang dibangun untuk pemujaan bagi Dewi Tara Bodhisatwa, sosok Dewi dalam agama Buddha Mahayana.</p>
<p>Bagaimana keadaan Kerajaan Mataram sepeninggal Rakai Panangkaran tidak diketahui dengan pasti. Yang diketahui hanyalah nama raja-raja yang memerintah sesudahnya. Berdasarkan Prasasti Mantiasih yang berangka tahun 907 Masehi, Rakai Panangkaran beturut-turut digantikan oleh : Rakai Panunggalan, Rakai Warak, Rakai Garung, Rakai Pikatan, Rakai Kayuwangi, Rakai Watu Humalang , dan yang terakhir Rakai Balitung, raja yang memerintahkan pembuatan prasasti ini.</p>
<p>Sejumlah prasasti lain menyebutkan 3 raja terakhir sebagai pengganti Rakai Balitung, yaitu Rakai Daksa, Rakai Tulodong dan Rakai Wawa.</p>
<p>Sekitar abad ke-10, Rakai Wawa sebagai raja terakhir kemudian digantikan oleh Empu Sendok, mantan mahapatihnya. Empu Sendok inilah yang dikenal telah memindahkan pusat kerajaan secara besar-besaran, dari Jawa tengah ke Jawa Timur, di penghujung abad ke-10.</p>
<p>Sejak saat itulah nama Mataram sebagai sebuah kerajaan menghilang dari catatan sejarah. Baru sekitar 6 abad kemudian, istilah Mataram kembali bersinar pada saat Panembahan Senopati mendirikan Dinasti Mataram Islam di Kotagede.</p>
<ul>
<li><span style="color: #000080;">Catatan: Disajikan kembali dari tulisan Agus Yuniarso dalam buku “Cinderamata 250 Tahun Kota Yogyakarta 1756-2006, Transkrip Naskah 15 Video Dokumenter Budaya Seputar Kota Yogyakarta” (Yogyakarta: Galeri Video Foundation, 2006)</span></li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suarajogja.net/2009/09/tentang-dinasti-mataram-kuno/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Candi, Tempat Pemakaman atau Pemujaan?</title>
		<link>http://suarajogja.net/2009/09/candi-sebagai-situs-purbakala/</link>
		<comments>http://suarajogja.net/2009/09/candi-sebagai-situs-purbakala/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Sep 2009 15:42:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agus Yuniarso</dc:creator>
				<category><![CDATA[Arkeologi]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[astronomi]]></category>
		<category><![CDATA[batu andesit]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[candi]]></category>
		<category><![CDATA[candika]]></category>
		<category><![CDATA[cinderamata]]></category>
		<category><![CDATA[durga]]></category>
		<category><![CDATA[galeri video foundation]]></category>
		<category><![CDATA[hindu]]></category>
		<category><![CDATA[kakawin]]></category>
		<category><![CDATA[kresnayana]]></category>
		<category><![CDATA[kunjarakarna]]></category>
		<category><![CDATA[lingga]]></category>
		<category><![CDATA[makrokosmos]]></category>
		<category><![CDATA[mikrokosmos]]></category>
		<category><![CDATA[mitologi]]></category>
		<category><![CDATA[pradaksina]]></category>
		<category><![CDATA[purbakala]]></category>
		<category><![CDATA[ramayana]]></category>
		<category><![CDATA[relief]]></category>
		<category><![CDATA[stupa]]></category>
		<category><![CDATA[temple]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suarajogja.net/?p=43</guid>
		<description><![CDATA[Bagi masyarakat Jawa, istilah candi dipergunakan untuk memberi istilah pada bangunan peninggalan sejarah dari jaman Hindu dan Buddha di Jawa. Istilah candi berasal dari kata Candika, yaitu salah satu nama untuk Durga sebagai Dewi Kematian. Oleh karenanya, sering muncul anggapan bahwa candi selalu berkaitan dengan kematian.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bagi masyarakat Jawa, istilah candi dipergunakan untuk memberi istilah pada bangunan peninggalan sejarah dari jaman Hindu dan Buddha di Jawa. Istilah candi berasal dari kata Candika, yaitu salah satu nama untuk Durga sebagai Dewi Kematian. Oleh karenanya, sering muncul anggapan bahwa candi selalu berkaitan dengan kematian. Memang, berdasarkan catatan arkeologi, candi pada umumnya dibangun sebagai tempat pemakaman atau penyimpanan abu jenasah seorang raja atau tokoh tertentu. Namun tidak semua yang disebut candi merupakan tempat pemakaman. Fungsi sebagai tempat pemujaan jauh lebih menonjol dan menjadi karakteristik khas dari setiap bangunan candi.</p>
<p><span id="more-43"></span>Dari sisi kosmologi, candi-candi selalu dibangun berdasarkan kepercayaan tentang keselarasan antara jagad raya sebagai makrokosmos dengan dunia manusia sebagai mikrokosmos. Kehidupan manusia senantiasa dipengaruhi oleh tenaga-tenaga yang bersumber dari kekuatan alam di lingkungannya. Apa yang akan terjadi, tergantung dari kemampuan manusia dalam menyiasati keselarasan hidup mereka dengan jagad raya. Pembangunan candi juga mempertimbangkan segi mitologi, astronomi serta mengacu pada kekuatan spiritual sesuai dengan fungsinya sebagai tempat pemujaan.</p>
<p>Sebagai sebuah bangunan, secara vertikal candi terdiri dari 3 bagian, yaitu : bagian kaki, tubuh dan atap candi. Bagian kaki yang menjadi pondasi candi umumnya berbentuk persegi. Pada satu atau beberapa sisinya, terdapat tangga yang dipergunakan untuk mencapai bagian yang lebih tinggi. Pada bagian tengah pondasi inilah terkadang dijumpai lubang yang berfungsi untuk menyimpan abu jenasah raja. Diatas lubang ditempatkan patung dewa yang dianggap menjelma ke dalam tubuh sang raja.</p>
<p>Bagian tubuh candi umumnya berbentuk bilik dengan ukuran yang lebih kecil dari bagian kaki, sehingga masih terdapat ruang yang terbuka di sisi luarnya. Pada bagian ini seseorang bisa berjalan mengelilingi candi, yang dikenal dengan istilah Pradaksina. Bagian atas candi berupa atap yang menutup tubuh atau bilik candi. Bentuknya menyerupai gunung yang bertangga-tangga, menyerupai mahkota, lingga atau stupa. Dari sisi bentuk, candi-candi di Jawa Tengah umumnya lebih ramping dibanding candi-candi di Jawa Timur yang usianya lebih muda.  Secara horizontal, lingkungan suatu candi biasanya terbagi menjadi beberapa bagian halaman, yaitu : halaman pertama di bagian pusat atau jeroan, halaman kedua di sisi luarnya yang disebut tengahan, serta halaman paling luar atau disebut njaba.</p>
<p>Candi-candi di Jawa Tengah umumnya terbuat dari batu andesit yang biasa terdapat di sekitar gunung berapi. Bahan-bahan lain seperti batu putih hanya dipergunakan sebagai pelengkap, semisal sebagai pagar keliling candi. Batu-batu ini disusun tanpa adonan spesi, kecuali pada bagian tertentu di sisi luar. Setelah bentuknya tersusun, barulah hiasan-hiasan dipahatkan pada permukaaannya yang rata. Gambar-gambar yang menjadi hiasan atau relief candi berasal dari kisah-kisah dalam kakawin, seperti Ramayana, Kresnayana, Kunjarakarna, dan sebagainya. Atau dalam bentuk dewa-dewa, pohon surga, bunga teratai, ornamen spiral, atau bentuk makhluk tertentu. Ragam hias pada candi-candi di Jawa Tengah, biasanya lebih naturalistis dibanding candi-candi di Jawa Timur.</p>
<p>Pada saat ditemukan, sebagian besar candi berada dalam kondisi rusak berat. Bebatuan yang menjadi inti bangunannya berserakan di sejumlah tempat, terkadang hingga jauh dari tempatnya semula. Bahkan sebagian dari bebatuan candi yang bernilai sejarah itu telah berubah fungsi, seperti menjadi tanggul atau pondasi rumah penduduk yang bermukim di sekitarnya.</p>
<p>Banyak alasan yang biasanya dikemukakan untuk menjelaskan kerusakan candi-candi di masa lampau.  Diantaranya adalah munculnya bencana alam yang sangat dahsyat, seperti banjir, gempa bumi atau letusan gunung berapi. Peperangan dan perebutan kekuasaan juga ditengarai menjadi penyebab kerusakan itu. Dalam setiap peperangan, pusat-pusat pemerintahan kerajaan umumnya menjadi target untuk dibumihanguskan. Candi sebagai bangunan suci pun tak luput dari pengrusakan dan penghancuran selama perang berlangsung.</p>
<h4><strong>Sumber</strong>: <a href="http://www.facebook.com/agus.yuniarso">Agus Yuniarso</a> / “Cinderamata 250 Tahun Kota Yogyakarta 1756-2006, Transkrip Naskah 15 Video Dokumenter Budaya Seputar Kota Yogyakarta” (Yogyakarta: <a href="http://galerivideo.org">Galeri Video Foundation</a>, 2006)</h4>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suarajogja.net/2009/09/candi-sebagai-situs-purbakala/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

