<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Suara Jogja Online</title>
	<atom:link href="http://suarajogja.net/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://suarajogja.net</link>
	<description>Online Media, Citizen Journalism</description>
	<lastBuildDate>Sun, 23 Oct 2011 23:06:11 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Membabar Kawelasan Sunan Kalijaga</title>
		<link>http://suarajogja.net/2011/08/membabar-kawelasan-sunan-kalijaga/</link>
		<comments>http://suarajogja.net/2011/08/membabar-kawelasan-sunan-kalijaga/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Aug 2011 22:46:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agus Yuniarso</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asides]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suarajogja.net/?p=311</guid>
		<description><![CDATA[&#160; Hingga hari ini ajaran dan sosok Kangjeng Sunan Kalijaga, hampir di setiap kesempatan masih saja menarik untuk diperbincangkan. Benarkah Sunan Kalijaga itu ada atau hanya sebuah mitos belaka? Bagi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignright size-full wp-image-313" title="Membabar Kawelasan Sunan Kalijaga" src="http://suarajogja.net/wp-content/uploads/2011/10/wayang.jpg" alt="Membabar Kawelasan Sunan Kalijaga" width="640" height="427" /></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Hingga hari ini ajaran dan sosok Kangjeng Sunan Kalijaga, hampir di setiap kesempatan masih saja menarik untuk diperbincangkan. Benarkah Sunan Kalijaga itu ada atau hanya sebuah mitos belaka? Bagi orang Jawa, awalnya keberadaan wayang sebagai medium strategi <em>syiar </em>agama dalam konteks religiusitas dan polemik seputar kiprah sosok monumental itu hanya terdengar lirih dalam pertemuan ataupun diskusi-diskusi terbatas dengan peminat khusus dalam lingkup tertentu.</p>
<p>Pasalnya, Wali Kesembilan yang bernama Sunan Joharmanik ini, putera Tumenggung Wilatikta dari Jepara, lebih diyakini sebagai figur dari representasi Wali Pamungkas dari Wali Sanga yang berhasil mensintesiskan budaya Jawa dan Islam secara cerdik dan kreatif. Melalui pemahaman pendekatan kebudayaan Jawa, sosoknya mampu menemukan <em>local-genius</em> baru dalam menyongsong perjalanan sejarah seni dan budaya di ranah Nusantara ini, di kemudian hari.</p>
<p>Tak heran, untuk menggali, merumuskan kembali dan merevitalisasi ajaran-ajaran Sunan Kalijaga agar tetap relevan dan bermanfaat, digelar Festival 500 Tahun Sunan Kalijaga, bertema Pentas Seni <em>Madep Manteb Melu Sopo?</em>, yang mengusung untuk pertama kalinya Pagelaran Wayang Kulit <em>gagrak</em>  Ngayogyakarta,  <em>Lakon-Lakon</em> Sunan Kalijaga dari 11 orang dalang yang masih eksis berkesenian, bertempat di sisi Timur, Alun-Alun Utara, Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat.</p>
<p>Perhelatan akbar yang diselenggarakan oleh Pesantren Kaliopak, LESBUMI Yogyakarta, Nahdhatul Ulama Yogyakarta dan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, dari pertengahan hingga akhir Juli lalu. Menampilkan Lampah Ratri: <em>Merti Luhuring Laku Sunan Kali</em>, dengan rute Pesantren Kaliopak-Wotgaleh-Kotagede?-Alun-alun Utara Kraton Yogyakarta, diikuti Tahlil Akbar dan Tausyiah: Kearifan Sunan Kalijaga. Serta, diskusi, sarasehan dan panahan tradisional, <em>Jemparingan Jawi</em>.</p>
<p>Dari semua itu, yang menarik dari momentum ini, adalah parade pentas Wayang Kulit Purwo <em>gagrak</em> Yogyakarta. Selain ukuran <em>geber</em> wayang yang lebih kecil, tata <em>sungging</em>, tata iringan, ada juga <em>sanggit</em> cerita, vokal dan <em>ginem</em> yang membuat ciri khas <em>gagrak</em> Yogyakarta. Sesuai tajuk besar aksi 11 Dalang, 11 <em>Lakon</em>, selama 11 Malam berturut-turut. Pentas sebelas, atau menurut filosofi Jawa dimaknai <em>sewelas-kawelasan</em>, <em>welas asih </em>atau belas kasih, sesuai ajaran utama Sunan Kalijaga.</p>
<p>Pentas Wayang Kulit ini, di awali<em> </em>oleh<em> Lahire Bethara Kala</em>, Ki Mas Lurah Cermo Sutedjo (20/7), <em>Jumenengan Yudhistira</em>, Ki Mas Lurah Simun Cermo Joyo (21/7), <em>Kumbayana</em>, Ki Mas Lurah Cermo Subronto (22/7), <em>Kartapiyoga Maling (Semar Mbarang Jantur)</em>, Ki Hadi Sutikno (23/7), <em>Mustakaweni</em>, Ki Suwondo Hadi Sugito (24/7), <em>Dewa Ruci</em>, Ki Mas Lurah Cermo Radyo Harsono (25/7), <em>Wahyu Makutarama</em>, Ki Edi Suwondo Gito Gati (26/7), <em>Ganda Wardaya,</em> Ki Sudiyono (27/7), <em>Semar Minta Bagus</em>, Ki Gunawan (28/7), <em>Pandhu Swarga,</em> Ki Sutarko Hadiwacono (29/7), <em>Pandhawa Moksa</em>, Ki Seno Nugroho (30/7).</p>
<p>Teks &amp; Foto:<strong> FG. Pandhuagie</strong><!-- PHP 5.x --></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suarajogja.net/2011/08/membabar-kawelasan-sunan-kalijaga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hijau, Kuning dan Merahnya Buah Paprika</title>
		<link>http://suarajogja.net/2010/11/hijau-kuning-dan-merahnya-buah-paprika/</link>
		<comments>http://suarajogja.net/2010/11/hijau-kuning-dan-merahnya-buah-paprika/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Nov 2010 18:47:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agus Yuniarso</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asides]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suarajogja.net/?p=188</guid>
		<description><![CDATA[Jika melihat warna buah Paprika yang begitu indah memikat, apa yang terlintas di benak Anda? Hijau, kuning dan merah. Entah mengapa, asosiasi saya langsung tertuju ke warna-warna khas partai politik [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a title="Paprika Big Family by Agus Yuniarso, on Flickr" href="http://www.flickr.com/photos/agusyr/2596669841/"><img src="http://farm4.static.flickr.com/3230/2596669841_b5364210e5_o.jpg" alt="Paprika Big Family" width="640" /></a></p>
<p>Jika melihat warna buah Paprika yang begitu indah memikat, apa yang terlintas di benak Anda?</p>
<p>Hijau, kuning dan merah. Entah mengapa, asosiasi saya langsung tertuju ke warna-warna khas partai politik di Indonesia pada masa Orde Baru. Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dengan warna hijaunya, Golongan Karya dengan kuning khasnya dan Partai Demokrasi Indonesia (PDI) dengan merahnya. Entahlah, apakah saat itu warna buah Paprika memang menginspirasi warna partai politik kita atau tidak. Atau, mungkinkah Sang Penguasa begitu menggemari sedapnya masakan buah Paprika? Mungkinkah juga, jika ada Paprika berwarna biru, kemudian di jaman itu kemudian akan ada 4 partai – yang mana salah satunya dengan warna dasar biru? <span id="more-188"></span></p>
<p>Ah, ini hanya imajinasi yang melanglang buana. Lupakan saja. Toh Anda juga boleh mengasosiasikan warna-warna ini sebagai warna traffic-light.</p>
<p>Paprika (Capsicum annuum L.) – yang buahnya juga sering disebut sebagai Bellpepper karena bentuknya yang menyerupai lonceng – berasal dari Amerika Selatan, meski kini telah tersebar luas dan dibudidayakan di hampir semua daerah tropika dan subtropika. Tumbuhan dari suku terong-terongan (Solanaceae) ini menghasilkan buah yang berasa manis dan sedikit pedas yang sering dipergunakan sebagai campuran salad atau pizza.</p>
<p>Meski lebih sering kita jumpai Paprika berwarna hijau, kuning dan merah, namun di pasaran juga bisa ditemukan Parpika berwarna oranye dan ungu. Dilihat dari warnanya, semakin merah warnanya, semakin tinggi kandungan betakaroten dan likopennya. Kedua senyawa ini sangat terkenal sebagai zat anti oksidan yang membantu mengurangi resiko terkena penyakit kanker. Zat aktif capsaicin dalam paprika efektif mengatasi gangguan sistem pernapasan, bronkitis, dan sinisitis.<!-- PHP 5.x --></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suarajogja.net/2010/11/hijau-kuning-dan-merahnya-buah-paprika/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tamansari, Karya Monumental Sultan Pertama</title>
		<link>http://suarajogja.net/2010/09/tamansari-karya-monumental-sultan-pertama/</link>
		<comments>http://suarajogja.net/2010/09/tamansari-karya-monumental-sultan-pertama/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 12 Sep 2010 03:34:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agus Yuniarso</dc:creator>
				<category><![CDATA[Heritage]]></category>
		<category><![CDATA[arsitektur]]></category>
		<category><![CDATA[babad]]></category>
		<category><![CDATA[batavia]]></category>
		<category><![CDATA[belanda]]></category>
		<category><![CDATA[budhisme]]></category>
		<category><![CDATA[bugis]]></category>
		<category><![CDATA[ciliwung]]></category>
		<category><![CDATA[cina]]></category>
		<category><![CDATA[dawelingi]]></category>
		<category><![CDATA[demang tegis]]></category>
		<category><![CDATA[dinasti]]></category>
		<category><![CDATA[gempa bumi]]></category>
		<category><![CDATA[gula jawa]]></category>
		<category><![CDATA[gunung merapi]]></category>
		<category><![CDATA[hinduisme]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[java]]></category>
		<category><![CDATA[javanese]]></category>
		<category><![CDATA[jawa]]></category>
		<category><![CDATA[jogja]]></category>
		<category><![CDATA[jogjakarta]]></category>
		<category><![CDATA[kali code]]></category>
		<category><![CDATA[kali larangan]]></category>
		<category><![CDATA[kali winongo]]></category>
		<category><![CDATA[kasunanan]]></category>
		<category><![CDATA[keraton]]></category>
		<category><![CDATA[kosmogoni]]></category>
		<category><![CDATA[kulon progo]]></category>
		<category><![CDATA[legen]]></category>
		<category><![CDATA[madiun]]></category>
		<category><![CDATA[mangkubumi]]></category>
		<category><![CDATA[mangundipuro]]></category>
		<category><![CDATA[nasrani]]></category>
		<category><![CDATA[notokusumo]]></category>
		<category><![CDATA[pantai glagah]]></category>
		<category><![CDATA[pantai selatan]]></category>
		<category><![CDATA[pesanggrahan]]></category>
		<category><![CDATA[portugis]]></category>
		<category><![CDATA[prawirosentiko]]></category>
		<category><![CDATA[sengkalan memet]]></category>
		<category><![CDATA[sri paku alam]]></category>
		<category><![CDATA[sri sultan hamengku buwono i]]></category>
		<category><![CDATA[surakarta]]></category>
		<category><![CDATA[tamansari]]></category>
		<category><![CDATA[thomas stamford raffles]]></category>
		<category><![CDATA[tugu pal putih]]></category>
		<category><![CDATA[tumenggung]]></category>
		<category><![CDATA[urung-urung]]></category>
		<category><![CDATA[voc]]></category>
		<category><![CDATA[vredeburg]]></category>
		<category><![CDATA[watercastle]]></category>
		<category><![CDATA[yogya]]></category>
		<category><![CDATA[yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suarajogja.net/?p=55</guid>
		<description><![CDATA[Tamansari juga disebut sebagai watercastle, yaitu sebuah istana di atas air yang terletak di sebelah barat daya Keraton Kasultanan Yogyakarta. Pesanggrahan atau tempat peristrahatan yang juga disebut sebagai Keraton Lama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a title="Postcard: Gapura Hagung Tamansari, Jogja by Agus Yuniarso, on Flickr" href="http://www.flickr.com/photos/agusyr/2802116980/"><img src="http://farm4.static.flickr.com/3214/2802116980_9cb742235e_o.jpg" alt="Postcard: Gapura Hagung Tamansari, Jogja" width="640" /></a></p>
<p>Tamansari juga disebut sebagai watercastle, yaitu sebuah istana di atas air yang terletak di sebelah barat daya Keraton Kasultanan Yogyakarta. Pesanggrahan atau tempat peristrahatan yang juga disebut sebagai Keraton Lama ini, mulai dibangun oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I pada tahun 1758. Sebagaimana termuat dalam Babad Mangkubumi, Sultan menunjuk Kyai Tumenggung Mangundipuro sebagai penanggung jawab gagasannya, didampingi oleh Lurah Dawelingi yang berasal dari Bugis. Sebelum proses pembangunan dimulai, Sultan sempat mengutus Tumenggung Mangundipuro ke Batavia untuk mengamati bangunan VOC yang berdiri di sepanjang Sungai Ciliwung.<span id="more-55"></span></p>
<p>Biaya pembangunan Tamansari sebagian berasal dari pajak atau upeti rakyat Madiun dibawah pimpinan Bupati Prawirasentika, yang kemudian bertindak sebagai pelaksana proyek. Di tengah proses pembangunan, Bupati Prawirasentika mengundurkan diri dan posisinya digantikan oleh salah satu putra Sultan, yaitu Pangeran Notokusumo, yang di kemudian hari bergelar sebagai Sri Paku Alam I. Konon, pembangunan Tamansari juga melibatkan seorang ahli bangunan dari Portugis yang terdampar di Pantai Glagah Kulon Progo, yang oleh Sultan diberi nama Jawa : Demang Tegis.</p>
<p>Tamansari adalah bangunan dengan corak multikultural yang memadukan gaya arsitektur Jawa, Portugis, Belanda dan Cina. Dalam bingkai budaya, bangunan Pesanggrahan Tamansari juga merangkum kosmogoni Jawa, Islam, Nasrani, Hinduisme serta Budhisme.</p>
<p>Struktur bangunannya terbuat dari bata, pasir, gamping dan semen merah biasa, tanpa menggunakan sistem beton bertulang seperti yang ada pada jaman sekarang. Konon, untuk memperkuat dinding-dindingnya, dalam adonan semen ditambahkan campuran putih telor dan legen yang biasa dipakai sebagai bahan dalam pembuatan gula Jawa. Bisa dibayangkan, berapa butir telor yang dibutuhkan untuk membangun pesanggrahan seluas lebih dari 10 hektar ini.</p>
<p>Pada jamannya, pesanggrahan ini berfungsi sebagai tempat beristirahat, berkebun, beribadah sekaligus bertahan dari serangan musuh. Hal ini sesuai dengan falsafah Jawa, “ Sajroning among suka, tan tinggal duga lan prayoga “, yang artinya : sewaktu bersuka, seyogyanya tetaplah dalam kewaspadaan.</p>
<p>Tamansari merupakan karya monumental Sri Sultan Hamengku Buwono I, yang juga dikenal sebagai arsitek yang banyak membangun karya arsitektur megah. Selain Keraton Kasultanan dan Tamansari, Sultan juga membangun Benteng Vredeburg serta Tugu Pal Putih yang menjadi simbol Kota Yogyakarta. Bahkan, bangunan Keraton Kasunanan Surakarta pun merupakan karya arsitektur hasil rancangannya. Karya terbesar Sultan adalah landscape Kota Yogyakarta yang terletak di antara 2 sungai dan berorientasi pada poros magis Pantai Selatan, Keraton dan Gunung Merapi. Sri Sultan Hamengku Buwono I adalah raja Dinasti Mataram Islam yang paling lama bertahta dan mampu mengendalikan masa damai terpanjang di Pulau Jawa, antara tahun 1749 hingga 1792.</p>
<p>Pesanggrahan Tamansari hanya berfungsi selama 2 masa pemerintahan raja Kasultanan Yogyakarta, antara tahun 1865 hingga tahun 1812. Pada masa jayanya, Tamansari memiliki sekitar 57 bangunan, terdiri dari danau buatan, gedung, gapura, masjid, kolam, lorong, serta kebun-kebun yang ditanami bebuahan, bunga-bunga serta rempah-rempah.</p>
<p>Lorong serta urung-urung sebagian besar terletak di bawah permukaan air, menghubungkan tempat satu dengan tempat lainnya. Air adalah unsur utama di Pesanggrahan Tamansari. Air Kali Winongo dan Kali Code yang terletak di sebelah barat dan timur Keraton, dialirkan melalui terusan yang disebut Kali Larangan ke dalam kompleks Keraton. Disebut Kali Larangan, karena penduduk dilarang mempergunakan aliran air ini, apalagi membuatnya kotor. Selain untuk mengisi kebutuhan sirkulasi air di Tamansari, air Kali Larangan juga dipakai untuk mengisi jagang atau parit di seputar Benteng Baluwerti atau benteng luar Keraton. Di Tamansari, air ini terkumpul di danau buatan luas yang disebut Segaran, dan didistribusikan ke seluruh lingkungan Pesanggrahan.</p>
<p>Sayang, dari sekian banyak kemegahannya, hanya sebagian kecil yang masih tersisa di jaman ini. Sebagian yang lain sudah menjadi puing reruntuhan, bahkan sudah musnah ditelan waktu, karena alam maupun karena tangan manusia. Sementara pendapat mengatakan bahwa hancurnya Pesanggrahan ini disebabkan oleh pengrusakan dan penjarahan yang dilakukan balatentara Inggris dibawah pimpinan Letnan Gubernur Thomas Stamford Raffles yang menyerbu dan menduduki Keraton Kasultanan Yogyakarta pada tahun 1812. Kerusakan ini baru mulai dibersihkan pada tahun 1830-an, bersamaan dengan kehadiran para penduduk yang mulai menghuni lingkungan ini.</p>
<p>Porak porandanya bangunan yang sudah ada, kemudian diperparah dengan terjadinya gempa bumi besar yang pernah melanda Kota Yogyakarta, pada tanggal 10 Juni 1867. Peristiwa ini ditandai dengan ornamen simbolik atau sengkalan memet yang berbunyi “ Obah Trus Pitung Bhumi “ yang bermakna tahun 1793 Jawa atau 1867 Masehi. Namun yang pasti, terbengkalainya situs ini selama hampir 2 abad, telah menjadi penyebab utama rusaknya Pesanggrahan Tamansari.</p>
<h4><strong>Sumber</strong>: <a href="http://www.facebook.com/agus.yuniarso">Agus Yuniarso</a>: “Cinderamata 250 Tahun Kota Yogyakarta 1756-2006, Transkrip Naskah 15 Video Dokumenter Budaya Seputar Kota Yogyakarta” (Yogyakarta: <a href="http://galerivideo.org">Galeri Video Foundation</a>, 2006)</h4>
<p><!-- PHP 5.x --></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suarajogja.net/2010/09/tamansari-karya-monumental-sultan-pertama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lomba Baris Berbaris</title>
		<link>http://suarajogja.net/2010/05/lomba-baris-berbaris/</link>
		<comments>http://suarajogja.net/2010/05/lomba-baris-berbaris/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 May 2010 03:47:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agus Yuniarso</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asides]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suarajogja.net/2010/05/lomba-baris-berbaris/</guid>
		<description><![CDATA[Salah satu peleton peserta dalam Lomba Baris Berbaris di Halaman Balaikota, Timoho, Yogyakarta &#8211; 16 Mei 2010. / Originally uploaded by Agus Yuniarso.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="text-align: rigt; padding-bottom: 5px;"><a title=" by Agus Yuniarso, on Flickr " href="http://www.flickr.com/photos/agusyr/4611899833/"><img src="http://farm5.static.flickr.com/4045/4611899833_cd7b844edd.jpg" alt=" by Agus Yuniarso, on Flickr" width="625" /></a></div>
<p>Salah satu peleton peserta dalam Lomba Baris Berbaris di Halaman Balaikota, Timoho, Yogyakarta &#8211; 16 Mei 2010. / Originally uploaded by <a href="http://www.flickr.com/people/agusyr/">Agus Yuniarso</a>.<!-- PHP 5.x --></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suarajogja.net/2010/05/lomba-baris-berbaris/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ayo Kembali Bersepeda!</title>
		<link>http://suarajogja.net/2010/05/ayo-kembali-bersepeda/</link>
		<comments>http://suarajogja.net/2010/05/ayo-kembali-bersepeda/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 May 2010 21:20:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agus Yuniarso</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asides]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suarajogja.net/?p=193</guid>
		<description><![CDATA[Ayo Kembali Bersepeda!, originally uploaded by Agus Yuniarso. Komunitas Sepeda onthel dalam acara Karnaval Pekan Budaya Tionghoa IV di bulan Pebruari tahun 2009, Lokasi: Taman Abubakar Ali &#8211; Malioboro, Yogyakarta.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="text-align: left; padding-bottom: 5px;"><a title="photo sharing" href="http://www.flickr.com/photos/agusyr/3266688991/"><img style="border: solid 0px #000000;" src="http://farm2.static.flickr.com/1181/3266688991_2f665ba3d5.jpg" alt="" width="640"  /></a><br />
<span style="font-size: 12px; padding-top: 10px;"><a href="http://www.flickr.com/photos/agusyr/3266688991/">Ayo Kembali Bersepeda!</a>, originally uploaded by <a href="http://www.flickr.com/people/agusyr/">Agus Yuniarso</a>.</span></div>
<p>Komunitas Sepeda onthel dalam acara Karnaval Pekan Budaya Tionghoa IV di bulan Pebruari tahun 2009, Lokasi: Taman Abubakar Ali &#8211; Malioboro, Yogyakarta.<!-- PHP 5.x --></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suarajogja.net/2010/05/ayo-kembali-bersepeda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pajimatan Imogiri, Makam Para Raja Mataram</title>
		<link>http://suarajogja.net/2010/04/pajimatan-imogiri-makam-para-raja-mataram/</link>
		<comments>http://suarajogja.net/2010/04/pajimatan-imogiri-makam-para-raja-mataram/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Apr 2010 13:21:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agus Yuniarso</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asides]]></category>
		<category><![CDATA[1645]]></category>
		<category><![CDATA[1755]]></category>
		<category><![CDATA[1890]]></category>
		<category><![CDATA[aceh]]></category>
		<category><![CDATA[bali]]></category>
		<category><![CDATA[bantul]]></category>
		<category><![CDATA[bliptv]]></category>
		<category><![CDATA[bukit merak]]></category>
		<category><![CDATA[bulan suro]]></category>
		<category><![CDATA[dinasti mataram islam]]></category>
		<category><![CDATA[imogiri]]></category>
		<category><![CDATA[istambul]]></category>
		<category><![CDATA[kasultanagungan]]></category>
		<category><![CDATA[kasultanan yogyakarta]]></category>
		<category><![CDATA[kasunanan surakarta]]></category>
		<category><![CDATA[kotagede]]></category>
		<category><![CDATA[kyai danumaya]]></category>
		<category><![CDATA[kyai mendhung]]></category>
		<category><![CDATA[muharram]]></category>
		<category><![CDATA[ngerum]]></category>
		<category><![CDATA[nyai danumurti]]></category>
		<category><![CDATA[nyai siyem]]></category>
		<category><![CDATA[pajimatan]]></category>
		<category><![CDATA[palembang]]></category>
		<category><![CDATA[perjanjian giyanti]]></category>
		<category><![CDATA[poso]]></category>
		<category><![CDATA[pulau bali]]></category>
		<category><![CDATA[ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[siam]]></category>
		<category><![CDATA[sri sultan hamengku buwono ii]]></category>
		<category><![CDATA[sri sultan hamengku buwono vi]]></category>
		<category><![CDATA[sri sultan hamengku buwono vii]]></category>
		<category><![CDATA[sriwijaya]]></category>
		<category><![CDATA[sultan agung hanyokrokusumo]]></category>
		<category><![CDATA[tempayan]]></category>
		<category><![CDATA[thailand]]></category>
		<category><![CDATA[turki]]></category>
		<category><![CDATA[video jogja]]></category>
		<category><![CDATA[wukirsari]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suarajogja.net/?p=174</guid>
		<description><![CDATA[Makam Pajimatan Imogiri terletak di Desa Pajimatan, Kalurahan Wukirsari, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul. Posisinya berjarak sekitar 17km arah tenggara Kota Yogyakarta. Makam seluas 10 hektar ini terletak di atas Bukit Merak setinggi 35-100 meter dari atas permukaan laut.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><object classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="620" height="502" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="src" value="http://blip.tv/play/AYGgpAUC" /><param name="allowfullscreen" value="true" /><embed type="application/x-shockwave-flash" width="620" height="502" src="http://blip.tv/play/AYGgpAUC" allowfullscreen="true"></embed></object></p>
<p>Makam Pajimatan Imogiri terletak di Desa Pajimatan, Kalurahan Wukirsari, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul. Posisinya berjarak sekitar 17km arah tenggara Kota Yogyakarta. Makam seluas 10 hektar ini terletak di atas Bukit Merak setinggi 35-100 meter dari atas permukaan laut. Lokasi makam harus ditempuh menaiki jalan bertangga yang cukup tinggi, dengan jumlah sekitar 364 anak tangga.<span id="more-174"></span></p>
<p>Makam ini dibangun pada tahun 1645 oleh Sultan Agung Hanyokrokusumo, raja ketiga Dinasti Mataram Islam. Tempat ini kemudian dikenal dengan nama Pajimatan Imogiri, dimana Sultan Agung dimakamkan ketika wafat pada tanggal 6 April 1645. Makam Sultan Agung sendiri menjadi induk makam dan disebut Kasultanangungan, terletak di bagiah tengah paling atas.</p>
<p>Pasca Perjanjian Giyanti pada tahun 1755, Makam Imogiri pun dibagi menjadi 2 bagian. Bagian sebelah barat dipergunakan sebagai makam raja-raja Kasunanan Surakarta yang dianggap lebih tua. Sementara bagian sebelah timur dipergunakan sebagai makam raja-raja Kasultanan Yogyakarta. Semua raja-raja Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta disemayamkan di makam ini, kecuali Sri Sultan Hamengkubuwono II yang dimakamkan di Kotagede.</p>
<p>Makam Imogiri mengalami pemugaran pada masa Sultan Hamengku Buwono VI dan Sultan Hamengku Buwono VII, dimulai sejak tahun 1890. Pemugaran ini menambahkan elemen dekoratif bernuansa Bali, karena para pekerja pemugaran kebanyakan berasal dari Pulau Bali.</p>
<p>Di Depan gerbang Makam Kasultananagungan terdapat 4 buah tempayan berukuran besar. Tempayan di sisi paling kiri bernama Nyai Danumurti yang berasal dari Sriwijaya (Palembang). Di sebelah kanannya diberi nama Kyai Danumaya yang berasal dari Aceh. Tempayan berikutnya bernama Kyai Mendhung, berasal dari Ngerum, Istambul (Turki). Tempayan di sisi paling kanan bernama Nyai Siyem yang berasal dari Siam (Thailand). Keempat tempayan ini hanya dikuras setahun sekali pada bulan Sura atau Muharram.</p>
<p>Makam Suci Imogiri dibuka setiap hari Senin jam 10.00-13.00, Jum’at jam 13.30-16.00, tanggal 1 dan 8 bulan Syawal jam 10.30-13.00, serta tanggal 10 bulan Besar jam 10.30-13.00. Selama bulan Ramadhan (Poso), makam ini ditutup untuk umum.<!-- PHP 5.x --></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suarajogja.net/2010/04/pajimatan-imogiri-makam-para-raja-mataram/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gunung Merapi ‘Batuk-batuk’ Menjadi Aset Pariwisata</title>
		<link>http://suarajogja.net/2010/04/gunung-merapi-%e2%80%98batuk-batuk%e2%80%99-menjadi-aset-pariwisata/</link>
		<comments>http://suarajogja.net/2010/04/gunung-merapi-%e2%80%98batuk-batuk%e2%80%99-menjadi-aset-pariwisata/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Apr 2010 11:26:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agus Yuniarso</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asides]]></category>
		<category><![CDATA[1814]]></category>
		<category><![CDATA[bambang pranowo]]></category>
		<category><![CDATA[bandara adisucipto]]></category>
		<category><![CDATA[bandara adisumarmo]]></category>
		<category><![CDATA[blabak]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[candi borobudur]]></category>
		<category><![CDATA[desa ketep]]></category>
		<category><![CDATA[dinasti syailendra]]></category>
		<category><![CDATA[dukun]]></category>
		<category><![CDATA[ecotourism]]></category>
		<category><![CDATA[gamelan]]></category>
		<category><![CDATA[gardu pandang]]></category>
		<category><![CDATA[gejala alam]]></category>
		<category><![CDATA[ghost tour]]></category>
		<category><![CDATA[gunung merapi]]></category>
		<category><![CDATA[hasyim affandi]]></category>
		<category><![CDATA[juru kunci merapi]]></category>
		<category><![CDATA[kaliurang]]></category>
		<category><![CDATA[ketep indah]]></category>
		<category><![CDATA[legenda]]></category>
		<category><![CDATA[letusan gunung berapi]]></category>
		<category><![CDATA[magelang]]></category>
		<category><![CDATA[mangsa]]></category>
		<category><![CDATA[mbah maridjan]]></category>
		<category><![CDATA[mistik]]></category>
		<category><![CDATA[mitos]]></category>
		<category><![CDATA[muntilan]]></category>
		<category><![CDATA[nyai roro kidul]]></category>
		<category><![CDATA[pelabuhan ratu]]></category>
		<category><![CDATA[raja samaratungga]]></category>
		<category><![CDATA[samudra beach hotel]]></category>
		<category><![CDATA[sawangan]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[solo]]></category>
		<category><![CDATA[srumbung]]></category>
		<category><![CDATA[sungai mangu]]></category>
		<category><![CDATA[tanda alam]]></category>
		<category><![CDATA[thomas stamford raffles]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suarajogja.net/?p=166</guid>
		<description><![CDATA[Bila terdengar suara gamelan, biasanya akan terjadi ‘apa-apa’ di sekitar Gunung Merapi. Bagi penduduk di sekitarnya, gunung berapi aktif ini mempunyai keunikan dan kisah-kisah mistik yang menarik. Mbah Maridjan, Juru [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a title="”Mount Merapi Crater by Lesto Kusumo" href="http://commons.wikimedia.org/wiki/File:Mount_Merapi_Crater.jpg" rel="lightbox[166]"><img src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/a/a9/Mount_Merapi_Crater.jpg" alt="Gunung Merapi" width="620" /></a></p>
<p>Bila terdengar suara gamelan, biasanya akan terjadi ‘apa-apa’ di sekitar Gunung Merapi. Bagi penduduk di sekitarnya, gunung berapi aktif ini mempunyai keunikan dan kisah-kisah mistik yang menarik. Mbah Maridjan, Juru Kunci Merapi, sudah sangat terbiasa dan tenang menghadapi perilaku Gunung Merapi. Bagi Mbah Maridjan, Gunung Merapi yang tengah ‘batuk-batuk’ belum tentu akan meletus.</p>
<p>Merapi punya sejumlah ‘mongso’. Jika perilakunya belum terjadi pada ‘mongso’ tertentu, maka peristiwa tidak lazim seperti ‘batuk-batuk’-nya Gunung Merapi masih dianggap hal biasa dan tidak akan segera meletus. Uniknya, masyarakat di sana lebih percaya pada Ilmu Merapi Mbah Maridjan ketimbang penjelasan para pakar gunung berapi dan petugas Pos Pengawas Gunung Merapi.</p>
<p>Prof. Dr. M. Bambang Pranowo menulis tentang Gunung Merapi di Harian Suara Merdeka edisi 24 april 2006 [<a href="http://www.suaramerdeka.com/harian/0604/24/nas04.htm">Selengkapnya …</a>]<!-- PHP 5.x --></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suarajogja.net/2010/04/gunung-merapi-%e2%80%98batuk-batuk%e2%80%99-menjadi-aset-pariwisata/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gembira Loka: Lebih dari Sekedar Kebun Binatang</title>
		<link>http://suarajogja.net/2010/04/123/</link>
		<comments>http://suarajogja.net/2010/04/123/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Apr 2010 10:59:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agus Yuniarso</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asides]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suarajogja.net/?p=123</guid>
		<description><![CDATA[Gembira Loka terletak di atas lahan seluas 20 hektare yang setengahnya berupa hutan lindung. Di sini terdapat lebih dari 100 spesies satwa dari dalam maupun dari luar negeri, termasuk diantaranya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Gembira Loka terletak di atas lahan seluas 20 hektare yang setengahnya berupa hutan lindung. Di sini terdapat lebih dari 100 spesies satwa dari dalam maupun dari luar negeri, termasuk diantaranya beberapa jenis binatang yang telah langka di dunia, seperti <span style="font-style: italic;">veranus komodoensis</span> (kadal raksasa dari Pulau Komodo), ular berkaki dan lain sebagainya. <a href="http://www.mediaindonesia.com/mediatravelista/index.php/read/2009/12/07/128/2/Gembira-Loka-Bukan-Sekadar-Kebun-Binatang">[Selengkapnya ...]</a></p>
<p><iframe width="500" height="250" frameborder="0" scrolling="no" marginheight="0" marginwidth="0" src="http://www.google.co.id/maps/ms?f=q&amp;source=embed&amp;hl=id&amp;geocode=&amp;ie=UTF8&amp;hq=&amp;hnear=Yogyakarta&amp;oe=UTF8&amp;msa=0&amp;msid=108391277403524946022.00048583f088ef222dfbc&amp;ll=-7.803096,110.384703&amp;spn=0.021259,0.04283&amp;z=14&amp;output=embed"></iframe><br /><small>Lihat <a href="http://www.google.co.id/maps/ms?f=q&amp;source=embed&amp;hl=id&amp;geocode=&amp;ie=UTF8&amp;hq=&amp;hnear=Yogyakarta&amp;oe=UTF8&amp;msa=0&amp;msid=108391277403524946022.00048583f088ef222dfbc&amp;ll=-7.803096,110.384703&amp;spn=0.021259,0.04283&amp;z=14" style="color:#0000FF;text-align:left">Kebun Binantang Gembira Loka</a> di peta yang lebih besar</small><!-- PHP 5.x --></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suarajogja.net/2010/04/123/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>19 Tari Klasik Gaya Yogyakarta dari Yayasan Pamulangan Beksa Sasminta Mardawa</title>
		<link>http://suarajogja.net/2010/04/19-tari-klasik-gaya-yogyakarta-dari-yayasan-pamulangan-beksa-sasminta-mardawa/</link>
		<comments>http://suarajogja.net/2010/04/19-tari-klasik-gaya-yogyakarta-dari-yayasan-pamulangan-beksa-sasminta-mardawa/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Apr 2010 11:11:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agus Yuniarso</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asides]]></category>
		<category><![CDATA[argasaka]]></category>
		<category><![CDATA[arjuna]]></category>
		<category><![CDATA[bidadari]]></category>
		<category><![CDATA[candrakirana]]></category>
		<category><![CDATA[carangwaspa]]></category>
		<category><![CDATA[cina]]></category>
		<category><![CDATA[dalem pujokusuman]]></category>
		<category><![CDATA[dasawasisa]]></category>
		<category><![CDATA[gathutkaca]]></category>
		<category><![CDATA[gatotkaca]]></category>
		<category><![CDATA[gaya yogyakarta]]></category>
		<category><![CDATA[gempa bumi]]></category>
		<category><![CDATA[golek]]></category>
		<category><![CDATA[golek menak]]></category>
		<category><![CDATA[gunungsari]]></category>
		<category><![CDATA[harjuna]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[jaka tarub]]></category>
		<category><![CDATA[java]]></category>
		<category><![CDATA[javanese]]></category>
		<category><![CDATA[jawa]]></category>
		<category><![CDATA[jayengpati]]></category>
		<category><![CDATA[jayengrana]]></category>
		<category><![CDATA[jogja]]></category>
		<category><![CDATA[jogjakarta]]></category>
		<category><![CDATA[jungkungmandeya]]></category>
		<category><![CDATA[kelana]]></category>
		<category><![CDATA[kenakawulan]]></category>
		<category><![CDATA[keris]]></category>
		<category><![CDATA[klono]]></category>
		<category><![CDATA[larasati]]></category>
		<category><![CDATA[madiun]]></category>
		<category><![CDATA[mahabharata]]></category>
		<category><![CDATA[manggada]]></category>
		<category><![CDATA[mataram]]></category>
		<category><![CDATA[nawangwulan]]></category>
		<category><![CDATA[pamulangan beksa]]></category>
		<category><![CDATA[panembahan]]></category>
		<category><![CDATA[panji]]></category>
		<category><![CDATA[pregiwa]]></category>
		<category><![CDATA[ragil kuning]]></category>
		<category><![CDATA[ramayana]]></category>
		<category><![CDATA[rengganis]]></category>
		<category><![CDATA[retno adaninggar]]></category>
		<category><![CDATA[retno dumilah]]></category>
		<category><![CDATA[saksadewa]]></category>
		<category><![CDATA[sasminta mardawa]]></category>
		<category><![CDATA[sekar pudyastuti]]></category>
		<category><![CDATA[sendratari]]></category>
		<category><![CDATA[senggana]]></category>
		<category><![CDATA[senggana duta]]></category>
		<category><![CDATA[senopati]]></category>
		<category><![CDATA[sewandana]]></category>
		<category><![CDATA[sirtupilaeli]]></category>
		<category><![CDATA[solo]]></category>
		<category><![CDATA[songsong]]></category>
		<category><![CDATA[sri rama]]></category>
		<category><![CDATA[srikandi]]></category>
		<category><![CDATA[sudarawerti]]></category>
		<category><![CDATA[suradewati]]></category>
		<category><![CDATA[tari klasik]]></category>
		<category><![CDATA[topeng]]></category>
		<category><![CDATA[tunggalnaga]]></category>
		<category><![CDATA[tunjungyaban]]></category>
		<category><![CDATA[umarmadi]]></category>
		<category><![CDATA[umarmaya]]></category>
		<category><![CDATA[wara sumbadra]]></category>
		<category><![CDATA[wayang golek]]></category>
		<category><![CDATA[widaninggar]]></category>
		<category><![CDATA[wong agung]]></category>
		<category><![CDATA[yayasan]]></category>
		<category><![CDATA[yogya]]></category>
		<category><![CDATA[yogyakarta]]></category>
		<category><![CDATA[ypbsm]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suarajogja.net/?p=106</guid>
		<description><![CDATA[Dalam lembar panduan yang diterbitkan Yayasan Pamulangan Beksa Sasminta Mardawa (YPBSM), ada 19 tarian klasik gaya Yogyakarta yang secara bergilir disajikan dalam pementasan rutin di Dalem Pujokusuman, Yogyakarta. Dua atau tiga dari kesembilanbelas tarian lepas ini menjadi sajian pembuka menjelang dipentaskannya Sendratari Klasik Ramayana (Gaya Yogyakarta).]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a title="Serimpi Pandelori | Jogja by Agus Yuniarso, on Flickr" href="http://www.flickr.com/photos/agusyr/4391518591/"><img src="http://farm3.static.flickr.com/2657/4391518591_aa7d8a1caf_o.jpg" alt="Serimpi Pandelori | YPBSM" width="620" /></a></p>
<h4>Beksan Serimpi Pandelori sajian Yayasan Pamulangan Beksa Sasminta Mardawa (YPBSM) nDalem Pujokusuman dalam Pentas Rutin Tari Klasik Gaya Yogyakarta di Keraton Kasultanan Yogyakarta (Bangsal Srimanganti, Minggu, 21 Pebruari 2010).</h4>
<p>Dalam lembar panduan yang diterbitkan Yayasan Pamulangan Beksa Sasminta Mardawa (YPBSM), ada 19 tarian klasik gaya Yogyakarta yang secara bergilir disajikan dalam pementasan rutin di Dalem Pujokusuman, Yogyakarta. 2 atau 3 dari ke-19 tarian lepas ini menjadi sajian pembuka menjelang dipentaskannya Sendratari Klasik Ramayana (Gaya Yogyakarta). Sendratari ini secara rutin dipentaskan 2 kali seminggu, setiap hari Selasa dan Jum’at. Untuk dicatat, pasca terjadinya bencana Gempa Bumi di Jogjakarta pada tanggal 27 Mei 2006, pementasan tersebut sempat terhenti karena rusaknya pendopo dan Dalem Pujokusuman yang menjadi arena pementasannya.</p>
<p>Ke-19 tari klasik tersebut adalah: <span id="more-106"></span></p>
<p><strong>Golek</strong>: Tarian ini menampilkan daya tarik dan keindahan seorang perempuan yang mempercantik diri.</p>
<p><strong>Sekar Pudyastuti</strong>: Tarian ini merupakan tarian penyambutan yang khusus dan juga menampilkan gerakan tarian gaya perempuan Yogyakarta yang anggun.</p>
<p><strong>Golek Retno Adaninggar</strong>: Ditampilkan dengan gaya Golek Menak yang diadaptasi dari wayang golek. Tarian Solo ini menggambarkan masa ketika putri China, Retno Adaninggar menyadari penangkapan orang-orang yang dikasihi oleh musuhnya. Mulai dari itu dia bersiap-siap untuk ikut ke medan pertempuran.</p>
<p><strong>Topeng Putri Kenakawulan</strong>: Tari topeng ini diadaptasi dari kisah Panji pada abad ke-15 dan menggambarkan putri Kenakawulan yang jatuh cinta dengan Carangwaspa.</p>
<p><strong>Klono Alus Jungkungmandeya</strong>: Tarian ini diadaptasi dari kisah Mahabarata yang menggambarkan pangeran muda Jungkungmandeya yang jatuh cinta dengan istrinya tercinta Srikandi. Tarian ini merupakan contoh yang bagus untuk tari gaya alus.</p>
<p><strong>Klono Gagah Dasawasisa</strong>: Tarian ini diadaptasi dari kisah Mahabarata dan menggambarkan Raja Dasawasisa yang sedang dimabuk cinta pada Wara Sumbadra.</p>
<p><strong>Topeng Klono Alus</strong>: Tari topeng ini diadaptasi dari cerita Panji abad ke-15 dan menggambarkan pangeran muda Gunungsari yang sangat jatuh cinta dengan Ragil Kuning.</p>
<p><strong>Topeng Klana Gagah</strong>: Tari topeng ini diadaptasi dari cerita Panji abad ke-15 dan menggambarkan Raja Sewandana yang sedang dimabuk cinta pada Candrakirana.</p>
<p><a title="Beksan Topeng | Jogja by Agus Yuniarso, on Flickr" href="http://www.flickr.com/photos/agusyr/4391485561/"><img src="http://farm5.static.flickr.com/4070/4391485561_40b936bb11_b.jpg" alt="Beksan Topeng | Jogja" width="620" /></a></p>
<h4>Beksan Topeng Gunungsari-Surawasesa sajian Yayasan Pamulangan Beksa Sasminta Mardawa (YPBSM) nDalem Pujokusuman dalam Pentas Rutin Tari Klasik Gaya Yogyakarta di Keraton Kasultanan Yogyakarta (Bangsal Srimanganti, Minggu, 21 Pebruari 2010).</h4>
<p><strong>Jaka Tarub – Nawangwulan</strong>: Pada suatu hari anak muda yang bernama Jaka Tarub berburu burung dan melihat bidadari cantik turun dari khayangan mandi di danau di hutan. Dia bersembunyi dan mengintip bidadari Nawangwulan dan jatuh cinta. Ketika Nawangwulan sedang mandi Jaka Tarub mencuri pakaiannya. Dia kembali ke tempat persembunyiannya dan membuat keonaran untuk menakuti Nawangwulan. Tetapi Nawangwulan tidak bisa menemukan pakaiannya dan tidak bisa kembali ke khayangan. Merasa sedih dan kesepian dia menangis. Jaka tarub mengembalikan pakaiannya dan memeri nama Nawangwulan. Cerita ini merupakan bagian dari legenda rakyat.</p>
<p><strong>Retna Dumilah – Panembahan Senopati</strong>: Pada abad ke 7 di Jawa, Panembahan Senopati Kerajaan Mataram berperang. Tarian ini berdasar pada suatu peperangan. Raja Madiun yang kalah memberi anak perempuannya Retno Dumilah sebuah keris ampuh untuk membunuh Senopati. Retno Dumilah hampir melaksanakan tugasnya sampai ketika dia menghunus kerisnya. Senopati tidak melawan menggunakan senjata. Dia mendekati Retno Dumilah dengan penuh perasaan. Hal ini mematahkan kekuatan keris Retno Dumilah dan dia menjadi istri Senopati.</p>
<p><strong>Srikandi &#8211; Larasati</strong>: Selama masa menjelang pernikahannya dengan Arjuna dia setuju untuk melakukan kontes untuk membuktikan kekuatannya. Larasati menantangnya dan dalam kekalahannya Srikandi memaksanya untuk menikah dengan Arjuna.</p>
<p><strong>Srikandi &#8211; Suradewati</strong>: Karena termakan gosip Srikandi menjadi cemburu pada putri Suradewati dan menantangnya bertanding. Suradewati kalah dan Srikandi menang.</p>
<p><strong>Sirtupilaeli – Sudarawerti</strong>: Dalam pertempuran untuk memutuskan siapa yang akan menikah dengan Menak kedua ksatria perempuan ini kalah ataupun menang keduanya akan menjadi istrinya Menak.</p>
<p><strong>Rengganis – Widaninggar</strong>: Putri China Widaninggar mau membalas dendam atas kematian saudaranya yang mati dalam pertempuran memperebutkan cinta Menak. Tetapi Widaninggar dikalahkan oleh saudara ipar pembunuh saudaranya yaitu Rengganis.</p>
<p><strong>Umarmaya – Umarmadi</strong>: Raja Umarmadi pertama harus mengalahkan Kepala penasehat Umarmaya  sebelum dia dapat mengalahkan Menak. Umarmadi kalah tetapi kemudian dia dan Umarmaya menjadi teman yang baik.</p>
<p><strong>Beksan Senggana – Saksadewa</strong>: Tarian ini merupakan bagian dari Ramayana yang disebut “Senggana Duta”. Sri Rama memberi Senggana, monyet putih tugas untuk mencari istri Rama, Dewi Sinta. Senggana menemukan Sinta dan agar bertemu dengan Rahwana dia menghancurkan Argasaka. Raksasa Saksadewa anak Rahwana menjadi marah dan ingin menangkap Senggana tetapi terbunuh selama pertempuran.</p>
<p><strong>Beksan Gathutkaca – Pregiwa</strong>: Menggambarkan bagian dari kisah Mahabharata. Gathutkaca mengungkapkan pada Pregiwa bahwa dia jatuh cinta padanya. Pregiwa menerima cintanya dan berjanji untuk setia sehidup semati.</p>
<p><strong>Beksan Carangwaspa – Kenakawulan</strong>: Cerita ini diambil dari cerita Panji. Dewi Kenakawulan dari Manggada ingin menguji kekuatan Raden Panji Carangwaspa. Jika dapat mengalahkannya dia akan menjadi istrinya.</p>
<p><strong>Beksa Umarmaya – Jayengpati</strong>: Tarian ini merupakan bagian dari cerita Menak. Prabu Jayengpati Raja dari Tunjungyaban telah mencuri pusaka “<em>Sonsong Tunggalnaga</em>” dari pemiliknya Wong Agung Jayengrana. Adipati  Umarmaya dari negeri Puserbumi mencoba untuk merebut pusaka dan mengembalikan pada Wong Agung Jayengrana. Dia berhasil melakukannya dengan mengalahkan Prabu Jayengpati Raja.</p>
<h4>Sumber: Yayasan Pamulangan Beksa Sasminta Mardawa (YPBSM), Yogyakarta.</h4>
<p><!-- PHP 5.x --></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suarajogja.net/2010/04/19-tari-klasik-gaya-yogyakarta-dari-yayasan-pamulangan-beksa-sasminta-mardawa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Theresia Suharti, Sang Maestro Tari Klasik Gaya Yogyakarta</title>
		<link>http://suarajogja.net/2010/03/theresia-suharti-sang-maestro/</link>
		<comments>http://suarajogja.net/2010/03/theresia-suharti-sang-maestro/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Mar 2010 11:37:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agus Yuniarso</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seniman & Budayawan]]></category>
		<category><![CDATA[asti]]></category>
		<category><![CDATA[bangsal sri manganti]]></category>
		<category><![CDATA[banjarsari]]></category>
		<category><![CDATA[basoeki koeswaraga]]></category>
		<category><![CDATA[bedhaya partakrama]]></category>
		<category><![CDATA[bedhaya semang]]></category>
		<category><![CDATA[bray yudonegoro]]></category>
		<category><![CDATA[enoch atmadibrata]]></category>
		<category><![CDATA[galeri video foundation]]></category>
		<category><![CDATA[gaya yogyakarta]]></category>
		<category><![CDATA[gbph suryobrongto]]></category>
		<category><![CDATA[hadi sukatno]]></category>
		<category><![CDATA[hardho soebroto]]></category>
		<category><![CDATA[i gusti ayu kadek adri]]></category>
		<category><![CDATA[i gusti ngurah suparta]]></category>
		<category><![CDATA[i ketut sunaka]]></category>
		<category><![CDATA[isi yogyakarta]]></category>
		<category><![CDATA[java]]></category>
		<category><![CDATA[javanese]]></category>
		<category><![CDATA[jawa]]></category>
		<category><![CDATA[jaya mangkurejuno]]></category>
		<category><![CDATA[jogja]]></category>
		<category><![CDATA[jogjakarta]]></category>
		<category><![CDATA[joko suharjo]]></category>
		<category><![CDATA[jurnal seni]]></category>
		<category><![CDATA[jurusan tari isi]]></category>
		<category><![CDATA[kasultanan yogyakarta]]></category>
		<category><![CDATA[keraton]]></category>
		<category><![CDATA[kph natapraja]]></category>
		<category><![CDATA[krt madukusuma]]></category>
		<category><![CDATA[krt sasmintadipura]]></category>
		<category><![CDATA[lambangsari]]></category>
		<category><![CDATA[maestro]]></category>
		<category><![CDATA[modern dance]]></category>
		<category><![CDATA[ngaliman]]></category>
		<category><![CDATA[pasca sarjana ugm]]></category>
		<category><![CDATA[praptodiharjo]]></category>
		<category><![CDATA[pt koesoemokesowo]]></category>
		<category><![CDATA[pudjowijono]]></category>
		<category><![CDATA[rb soedarsono]]></category>
		<category><![CDATA[rl pustakamardawa]]></category>
		<category><![CDATA[sastrapustaka]]></category>
		<category><![CDATA[satro wiryono]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[sheryl cuttler]]></category>
		<category><![CDATA[soedarso pringgobroto]]></category>
		<category><![CDATA[sutarya]]></category>
		<category><![CDATA[tari golek]]></category>
		<category><![CDATA[tari klasik]]></category>
		<category><![CDATA[tari tradisional]]></category>
		<category><![CDATA[tembang]]></category>
		<category><![CDATA[theresia suharti]]></category>
		<category><![CDATA[wesleyan university]]></category>
		<category><![CDATA[yogya]]></category>
		<category><![CDATA[yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suarajogja.net/?p=24</guid>
		<description><![CDATA[Theresia Suharti adalah putri kedua dari seniman karawitan Sastrapustaka. Lahir di Yogyakarta 59 tahun yang lalu. Alumni Akademi Seni Tari Indonesia Yogyakarta ini adalah dosen senior di Jurusan Tari Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a title="Sang Maestro: Th. Suharti by Agus Yuniarso, on Flickr" href="http://www.flickr.com/photos/agusyr/2769760834/"><img src="http://farm4.static.flickr.com/3185/2769760834_9eb3de3c28.jpg" alt="Sang Maestro: Th. Suharti" width="640"  /></a></p>
<h4>Theresia Suharti bersama sejumlah seniman setelah menyajikan Tari Golek Lambangsari Gaya Yogyakarta dalam Pagelaran Sang Maestro (Desember, 2006) yang didokumentasikan oleh Jurusan Tari FSP ISI Yogyakarta bekerjasama dengan <a href="http://galerivideo.org">Galeri Video Foundation</a> Yogyakarta.</h4>
<p>Theresia Suharti adalah putri kedua dari seniman karawitan Sastrapustaka. Lahir di Yogyakarta 59 tahun yang lalu. Alumni Akademi Seni Tari Indonesia Yogyakarta ini adalah dosen senior di Jurusan Tari Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta. Sejak muda sudah jatuh cinta kepada dunia tari terlebih tari klasik gaya Yogyakarta. <span id="more-24"></span>Tercatat beberapa gurunya yang andil dalam mengajar tari antara lain Jaya Mangkurejuna, BRAY. Yudonegoro, KRT. Sasmintadipura, Soedarso Pringgobroto, dan GBPH Suryobrongto. Gaya tari dari berbagai daerah juga dipelajarinya antara lain belajar tari gaya Surakarta kepada Ibu Joko Suharjo, RT. Koesoemokesowo, dan S. Ngaliman. Enoch Atmadibrata dan Sutarya adalah gurunya tari gaya Sunda, sedangkan I Gusti Ngurah Suparta, I Gusti Ayu Kadek Adri dan I Ketut Sunaka adalah guru Suharti dalam bidang Tari Bali. Suharti tidak hanya belajar tari tardisional dari berbagai  gaya, tetapi juga pernah belajar Modern Dance kepada Sheryl Cuttler. Suharti juga belajar tembang Jawa antara lain kepada RL. Pustakamardawa, KRT. Madukusuma, KPH. Natapraja, Pudjowijono, Hadi Sukatno, C. Hardjo Soebroto, Satro Wiryono, Praptodiharjo, Banjaransari dan Basoeki Koeswaraga.</p>
<p>Theresia Suharti aktif berkarya tari, menari, menata busana dan juga piawai melantunkan tembang Jawa. Targetnya tidak hanya bisa menari, tetapi dia juga ingin melihat jagad tari dari berbagai dimensi, maka Ibu berputri empat dan bercucu tiga ini, melanjutkan kuliah di Pascasarjana UGM Yogyakarta Program Studi Sejarah dan lulus dengan nilai sangat memuaskan pada tahun 1990. Di samping mengajar di kampus, Suharti juga aktif melakukan penelitian, penggalian, menata tari, menari, dan juga menata busana baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Lawatannya ke luar negeri antara lain ke Filipina, Amerika, Jerman, Yugoslavia, Finlandia. Puluhan karya ilmiahnya menghiasi buku dan Jurnal Ilmiah Seni di berbagai terbitan.</p>
<p>Keuletan, kerja keras dan rasa cintanya kepada tari klasik gaya Yogyakarta dibuktikan dengan pengabdiannya sebagai pengajar tari di Keraton Kasultanan Yogyakarta sejak  tahun 1980, dan juga berhasil melakukan rekonstruksi Bedhaya Semang di Keraton Yogyakarta yang dipergelarkan pada tahun 2002. Di usianya yang hampir berkepala enam tak menghalanginya untuk tetap mengajar tari dan juga menari. Pada tahun 2003, istri dari RB. Soedarsono ini menari Golek Lambangsari di Wesleyan University, Connecticut, USA. Tarian yang sama juga ditarikan oleh Theresia Suharti di Bangsal Sri Manganti Keraton Yogyakarta pada tahun 2005. Di tahun 2004, bersama dengan para penagajar Jurusan Tari FSP ISI Yogyakarta ia menjadi salah satu penari Bedhaya Partakrama.</p>
<p>Aktivitasnya tiada henti, mengajar, meneliti, menulis, menjadi pembicara seminar, menjadi anggota redaksi Jurnal Seni. Semangat untuk selalu bergairah belajar dan belajar dibuktikannya dengan tercatatnya dia sebagai mahasiswa Program Pascasarjana S-3 di UGM Yogyakarta.<!-- PHP 5.x --></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suarajogja.net/2010/03/theresia-suharti-sang-maestro/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

