September 12th, 2009   •   Heritage •   View Comments •  

Tamansari, Karya Monumental Sultan Pertama

Postcard: Gapura Hagung Tamansari, Jogja

Tamansari juga disebut sebagai watercastle, yaitu sebuah istana di atas air yang terletak di sebelah barat daya Keraton Kasultanan Yogyakarta. Pesanggrahan atau tempat peristrahatan yang juga disebut sebagai Keraton Lama ini, mulai dibangun oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I pada tahun 1758. Sebagaimana termuat dalam Babad Mangkubumi, Sultan menunjuk Kyai Tumenggung Mangundipuro sebagai penanggung jawab gagasannya, didampingi oleh Lurah Dawelingi yang berasal dari Bugis. Sebelum proses pembangunan dimulai, Sultan sempat mengutus Tumenggung Mangundipuro ke Batavia untuk mengamati bangunan VOC yang berdiri di sepanjang Sungai Ciliwung.

Biaya pembangunan Tamansari sebagian berasal dari pajak atau upeti rakyat Madiun dibawah pimpinan Bupati Prawirasentika, yang kemudian bertindak sebagai pelaksana proyek. Di tengah proses pembangunan, Bupati Prawirasentika mengundurkan diri dan posisinya digantikan oleh salah satu putra Sultan, yaitu Pangeran Notokusumo, yang di kemudian hari bergelar sebagai Sri Paku Alam I. Konon, pembangunan Tamansari juga melibatkan seorang ahli bangunan dari Portugis yang terdampar di Pantai Glagah Kulon Progo, yang oleh Sultan diberi nama Jawa : Demang Tegis.

Tamansari adalah bangunan dengan corak multikultural yang memadukan gaya arsitektur Jawa, Portugis, Belanda dan Cina. Dalam bingkai budaya, bangunan Pesanggrahan Tamansari juga merangkum kosmogoni Jawa, Islam, Nasrani, Hinduisme serta Budhisme.

Struktur bangunannya terbuat dari bata, pasir, gamping dan semen merah biasa, tanpa menggunakan sistem beton bertulang seperti yang ada pada jaman sekarang. Konon, untuk memperkuat dinding-dindingnya, dalam adonan semen ditambahkan campuran putih telor dan legen yang biasa dipakai sebagai bahan dalam pembuatan gula Jawa. Bisa dibayangkan, berapa butir telor yang dibutuhkan untuk membangun pesanggrahan seluas lebih dari 10 hektar ini.

Pada jamannya, pesanggrahan ini berfungsi sebagai tempat beristirahat, berkebun, beribadah sekaligus bertahan dari serangan musuh. Hal ini sesuai dengan falsafah Jawa, “ Sajroning among suka, tan tinggal duga lan prayoga “, yang artinya : sewaktu bersuka, seyogyanya tetaplah dalam kewaspadaan.

Tamansari merupakan karya monumental Sri Sultan Hamengku Buwono I, yang juga dikenal sebagai arsitek yang banyak membangun karya arsitektur megah. Selain Keraton Kasultanan dan Tamansari, Sultan juga membangun Benteng Vredeburg serta Tugu Pal Putih yang menjadi simbol Kota Yogyakarta. Bahkan, bangunan Keraton Kasunanan Surakarta pun merupakan karya arsitektur hasil rancangannya. Karya terbesar Sultan adalah landscape Kota Yogyakarta yang terletak di antara 2 sungai dan berorientasi pada poros magis Pantai Selatan, Keraton dan Gunung Merapi. Sri Sultan Hamengku Buwono I adalah raja Dinasti Mataram Islam yang paling lama bertahta dan mampu mengendalikan masa damai terpanjang di Pulau Jawa, antara tahun 1749 hingga 1792.

Pesanggrahan Tamansari hanya berfungsi selama 2 masa pemerintahan raja Kasultanan Yogyakarta, antara tahun 1865 hingga tahun 1812. Pada masa jayanya, Tamansari memiliki sekitar 57 bangunan, terdiri dari danau buatan, gedung, gapura, masjid, kolam, lorong, serta kebun-kebun yang ditanami bebuahan, bunga-bunga serta rempah-rempah.

Lorong serta urung-urung sebagian besar terletak di bawah permukaan air, menghubungkan tempat satu dengan tempat lainnya. Air adalah unsur utama di Pesanggrahan Tamansari. Air Kali Winongo dan Kali Code yang terletak di sebelah barat dan timur Keraton, dialirkan melalui terusan yang disebut Kali Larangan ke dalam kompleks Keraton. Disebut Kali Larangan, karena penduduk dilarang mempergunakan aliran air ini, apalagi membuatnya kotor. Selain untuk mengisi kebutuhan sirkulasi air di Tamansari, air Kali Larangan juga dipakai untuk mengisi jagang atau parit di seputar Benteng Baluwerti atau benteng luar Keraton. Di Tamansari, air ini terkumpul di danau buatan luas yang disebut Segaran, dan didistribusikan ke seluruh lingkungan Pesanggrahan.

Sayang, dari sekian banyak kemegahannya, hanya sebagian kecil yang masih tersisa di jaman ini. Sebagian yang lain sudah menjadi puing reruntuhan, bahkan sudah musnah ditelan waktu, karena alam maupun karena tangan manusia. Sementara pendapat mengatakan bahwa hancurnya Pesanggrahan ini disebabkan oleh pengrusakan dan penjarahan yang dilakukan balatentara Inggris dibawah pimpinan Letnan Gubernur Thomas Stamford Raffles yang menyerbu dan menduduki Keraton Kasultanan Yogyakarta pada tahun 1812. Kerusakan ini baru mulai dibersihkan pada tahun 1830-an, bersamaan dengan kehadiran para penduduk yang mulai menghuni lingkungan ini.

Porak porandanya bangunan yang sudah ada, kemudian diperparah dengan terjadinya gempa bumi besar yang pernah melanda Kota Yogyakarta, pada tanggal 10 Juni 1867. Peristiwa ini ditandai dengan ornamen simbolik atau sengkalan memet yang berbunyi “ Obah Trus Pitung Bhumi “ yang bermakna tahun 1793 Jawa atau 1867 Masehi. Namun yang pasti, terbengkalainya situs ini selama hampir 2 abad, telah menjadi penyebab utama rusaknya Pesanggrahan Tamansari.

Sumber: Agus Yuniarso: “Cinderamata 250 Tahun Kota Yogyakarta 1756-2006, Transkrip Naskah 15 Video Dokumenter Budaya Seputar Kota Yogyakarta” (Yogyakarta: Galeri Video Foundation, 2006)

ShareThis

blog comments powered by Disqus