January 3rd, 2007   •   Seniman & Budayawan •   View Comments •  

Theresia Suharti, Sang Maestro Tari Klasik Gaya Yogyakarta

Sang Maestro: Th. Suharti

Theresia Suharti bersama sejumlah seniman setelah menyajikan Tari Golek Lambangsari Gaya Yogyakarta dalam Pagelaran Sang Maestro (Desember, 2006) yang didokumentasikan oleh Jurusan Tari FSP ISI Yogyakarta bekerjasama dengan Galeri Video Foundation Yogyakarta.

Theresia Suharti adalah putri kedua dari seniman karawitan Sastrapustaka. Lahir di Yogyakarta 59 tahun yang lalu. Alumni Akademi Seni Tari Indonesia Yogyakarta ini adalah dosen senior di Jurusan Tari Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta. Sejak muda sudah jatuh cinta kepada dunia tari terlebih tari klasik gaya Yogyakarta. Tercatat beberapa gurunya yang andil dalam mengajar tari antara lain Jaya Mangkurejuna, BRAY. Yudonegoro, KRT. Sasmintadipura, Soedarso Pringgobroto, dan GBPH Suryobrongto. Gaya tari dari berbagai daerah juga dipelajarinya antara lain belajar tari gaya Surakarta kepada Ibu Joko Suharjo, RT. Koesoemokesowo, dan S. Ngaliman. Enoch Atmadibrata dan Sutarya adalah gurunya tari gaya Sunda, sedangkan I Gusti Ngurah Suparta, I Gusti Ayu Kadek Adri dan I Ketut Sunaka adalah guru Suharti dalam bidang Tari Bali. Suharti tidak hanya belajar tari tardisional dari berbagai  gaya, tetapi juga pernah belajar Modern Dance kepada Sheryl Cuttler. Suharti juga belajar tembang Jawa antara lain kepada RL. Pustakamardawa, KRT. Madukusuma, KPH. Natapraja, Pudjowijono, Hadi Sukatno, C. Hardjo Soebroto, Satro Wiryono, Praptodiharjo, Banjaransari dan Basoeki Koeswaraga.

Theresia Suharti aktif berkarya tari, menari, menata busana dan juga piawai melantunkan tembang Jawa. Targetnya tidak hanya bisa menari, tetapi dia juga ingin melihat jagad tari dari berbagai dimensi, maka Ibu berputri empat dan bercucu tiga ini, melanjutkan kuliah di Pascasarjana UGM Yogyakarta Program Studi Sejarah dan lulus dengan nilai sangat memuaskan pada tahun 1990. Di samping mengajar di kampus, Suharti juga aktif melakukan penelitian, penggalian, menata tari, menari, dan juga menata busana baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Lawatannya ke luar negeri antara lain ke Filipina, Amerika, Jerman, Yugoslavia, Finlandia. Puluhan karya ilmiahnya menghiasi buku dan Jurnal Ilmiah Seni di berbagai terbitan.

Keuletan, kerja keras dan rasa cintanya kepada tari klasik gaya Yogyakarta dibuktikan dengan pengabdiannya sebagai pengajar tari di Keraton Kasultanan Yogyakarta sejak  tahun 1980, dan juga berhasil melakukan rekonstruksi Bedhaya Semang di Keraton Yogyakarta yang dipergelarkan pada tahun 2002. Di usianya yang hampir berkepala enam tak menghalanginya untuk tetap mengajar tari dan juga menari. Pada tahun 2003, istri dari RB. Soedarsono ini menari Golek Lambangsari di Wesleyan University, Connecticut, USA. Tarian yang sama juga ditarikan oleh Theresia Suharti di Bangsal Sri Manganti Keraton Yogyakarta pada tahun 2005. Di tahun 2004, bersama dengan para penagajar Jurusan Tari FSP ISI Yogyakarta ia menjadi salah satu penari Bedhaya Partakrama.

Aktivitasnya tiada henti, mengajar, meneliti, menulis, menjadi pembicara seminar, menjadi anggota redaksi Jurnal Seni. Semangat untuk selalu bergairah belajar dan belajar dibuktikannya dengan tercatatnya dia sebagai mahasiswa Program Pascasarjana S-3 di UGM Yogyakarta.

ShareThis

blog comments powered by Disqus